Makro 01 Aug 2024 Penulis: Hutama Prayoga Editor: Tim Editorial

Kunjungan Wisman Juni 2024 Naik, Malaysia Terbanyak

Kunjungan Wisman Juni 2024 Naik, Malaysia Terbanyak
Kunjungan Wisman Juni 2024 Naik, Malaysia Terbanyak

Daftar Isi

  1. 01 Strategi Pemerintah
  2. 02 Industri Pariwisata Global

KABARBURSA.COM - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat lonjakan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada Juni 2024.  Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara pada tahun 2024 mengalami peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, melaporkan bahwa jumlah kunjungan wisman mencapai 1.168.988, naik 2,05 persen secara bulanan.

Amalia menjelaskan, dari total kunjungan, 997.258 wisman masuk melalui pintu utama, sementara 171.730 wisman datang melalui pintu perbatasan. Secara kumulatif, pada semester pertama 2024, kunjungan wisman mencapai 6.413.201, meningkat 21,02 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini tertinggi sejak 2020.

Mayoritas wisman pada Juni 2024 berasal dari Malaysia, disusul Singapura dan Australia. Namun, meski ada penurunan 5,86 persen secara bulanan, jumlah kunjungan dari Malaysia meningkat 11,60 persen secara tahunan. Wisman Malaysia sebagian besar masuk melalui Bandara Soekarno-Hatta, sementara wisman Singapura melalui pintu Batam, dan wisman Australia melalui Bandara Ngurah Rai, Bali.

Strategi Pemerintah

Presiden Joko Widodo menginstruksikan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) untuk menarik lebih banyak wisman. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno, menyebutkan bahwa peningkatan konektivitas merupakan strategi utama untuk mempromosikan pariwisata Indonesia. Indonesia memiliki lokasi menarik seperti Bali, Jakarta, Batam, dan Bintan, meski masih kalah saing dengan negara tetangga dalam mendatangkan wisman.

Indonesia berada di peringkat 22 dalam Travel & Tourism Development Index (TTDI), mengungguli negara tetangga. Namun, jumlah wisman yang masuk masih di bawah Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Singapura.

Kemenparekraf menyelenggarakan kegiatan sales mission di Riyadh dan Jeddah, Arab Saudi, untuk mempromosikan pariwisata Indonesia dan mendukung target kunjungan wisman. Deputi Bidang Pemasaran Kemenparekraf, Ni Made Ayu Marthini, berharap kegiatan ini membuka peluang bagi pelaku industri Indonesia untuk menjalin bisnis dengan mitra potensial di Arab Saudi, termasuk Emirates Airline.

Aktivitas utama meliputi B2B Table Top Meeting, memperkenalkan dan menawarkan paket pariwisata Indonesia. Direktur Pemasaran Pariwisata Regional II Kemenparekraf, Cecep Rukendi, menambahkan bahwa kegiatan ini adalah bentuk kolaborasi pemasaran antara Kemenparekraf dan pemangku kepentingan terkait. Upaya ini juga memanfaatkan momentum setelah musim haji 2024, dengan harapan meningkatkan citra pariwisata Indonesia dan penjualan paket pariwisata ke Arab Saudi.

Inisiatif ini diharapkan mampu mendongkrak jumlah kunjungan wisman dari Arab Saudi dan Timur Tengah ke Indonesia.

Industri Pariwisata Global

Dalam situs gstcouncil.org, TTDI mencatat Industri pariwisata global akan pulih dari penurunan akibat pandemi COVID-19 dan melampaui level yang terlihat sebelum krisis.

Hal ini sebagian besar didorong oleh peningkatan permintaan yang signifikan di seluruh dunia, yang bertepatan dengan lebih banyaknya penerbangan tersedia, keterbukaan internasional yang lebih baik, serta minat dan investasi yang meningkat pada atraksi alam dan budaya.

Namun, pemulihan global ini bervariasi. Meskipun 71 dari 119 negara yang di-ranking mengalami peningkatan skor sejak 2019, rata-rata skor indeks hanya 0,7 persen di atas level pra-pandemi.

Meskipun sektor ini telah melewati guncangan krisis kesehatan global, masih ada tantangan eksternal lain yang harus dihadapi, mulai dari risiko makroekonomi, geopolitik, dan lingkungan yang meningkat, hingga pengawasan lebih ketat terhadap praktik keberlanjutannya dan dampak teknologi digital baru, seperti big data dan kecerdasan buatan.

Selain itu, kekurangan tenaga kerja terus berlangsung, dan kapasitas rute udara, investasi modal, produktivitas, serta faktor pasokan sektor lainnya belum sejalan dengan peningkatan permintaan. Ketidakseimbangan ini, diperparah oleh inflasi global, telah meningkatkan harga dan masalah layanan.

Sorotan TTDI 2024 Dari 30 negara dengan skor indeks tertinggi pada 2024, 26 di antaranya adalah ekonomi berpenghasilan tinggi, 19 berada di Eropa, tujuh di Asia-Pasifik, tiga di Amerika, dan satu (Uni Emirat Arab) di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA).

Sepuluh negara teratas dalam edisi 2024 adalah Amerika Serikat, Spanyol, Jepang, Prancis, Australia, Jerman, Inggris, Tiongkok, Italia, dan Swiss.

Hasil ini menyoroti bahwa ekonomi berpenghasilan tinggi umumnya terus memiliki kondisi yang lebih menguntungkan untuk pengembangan perjalanan dan pariwisata.

Hal ini dibantu oleh lingkungan bisnis yang kondusif, pasar tenaga kerja yang dinamis, kebijakan perjalanan yang terbuka, infrastruktur transportasi dan pariwisata yang kuat, serta atraksi alam, budaya, dan non-rekreasi yang berkembang dengan baik.

Namun, negara-negara berkembang telah mengalami beberapa perbaikan terbesar dalam beberapa tahun terakhir. Di antara ekonomi berpenghasilan menengah-atas, Tiongkok telah mengukuhkan peringkatnya di sepuluh besar; tujuan pariwisata utama yang muncul seperti Indonesia, Brasil, dan Turki telah bergabung dengan Tiongkok di kuartil atas peringkat.

Secara lebih luas, ekonomi berpenghasilan rendah hingga menengah-atas menyumbang lebih dari 70 persen negara yang telah meningkatkan skor mereka sejak 2019, sementara MENA dan sub-Sahara Afrika adalah di antara kawasan yang paling berkembang.

Arab Saudi dan Uni Emirat Arab adalah satu-satunya ekonomi berpenghasilan tinggi yang termasuk dalam sepuluh ekonomi dengan peningkatan terbesar antara 2019 dan 2024.

Meskipun ada kemajuan ini, TTDI memperingatkan bahwa investasi signifikan diperlukan untuk menutup kesenjangan dalam kondisi yang mendukung dan pangsa pasar antara negara berkembang dan negara berpenghasilan tinggi.

Salah satu jalan yang mungkin untuk membantu mencapai ini adalah dengan memanfaatkan aset alam dan budaya secara berkelanjutan yang kurang berkorelasi dengan tingkat pendapatan negara dibandingkan faktor lainnya  dan dapat menawarkan ekonomi berkembang kesempatan untuk pengembangan ekonomi yang dipimpin pariwisata. (*)

 

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
HU
Ass. Redaktur

Hutama Prayoga

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait