Makro 09 Jun 2026 Penulis: Moh. Alpin Pulungan Editor: Syahrianto

Laporan ECIU Ungkap Petani Indonesia Kehilangan 23,6 Juta Jam Kerja akibat Panas Ekstrem

Tekanan panas akibat perubahan iklim menggerus produktivitas petani dan berpotensi mengganggu pasokan pangan.

Laporan ECIU mencatat petani Indonesia kehilangan 23,6 juta jam kerja pada 2024 akibat panas ekstrem yang dipicu perubahan iklim.

Laporan ECIU mencatat petani Indonesia kehilangan 23,6 juta jam kerja pada 2024 akibat panas ekstrem yang dipicu perubahan iklim. Foto: Dok. KabarBursa.com.
Laporan ECIU mencatat petani Indonesia kehilangan 23,6 juta jam kerja pada 2024 akibat panas ekstrem yang dipicu perubahan iklim. Foto: Dok. KabarBursa.com.

Daftar Isi

  1. 01 Efek Domino Cuaca Ekstrem ke Emiten

KABARBURSA.COM — Cuaca panas yang makin menyengat kini ikut memangkas jam kerja petani Indonesia. Laporan terbaru Energy & Climate Intelligence Unit (ECIU) menunjukkan setiap pekerja sektor pertanian di Indonesia kehilangan rata-rata 595,1 jam kerja sepanjang 2024 akibat tekanan panas. Angka itu melonjak 21,8 persen dibandingkan 2022.

Secara total, jam kerja yang hilang di sektor pertanian Indonesia mencapai 23,6 juta jam sepanjang tahun lalu. Penurunan produktivitas tersebut bukan sekadar persoalan tenaga kerja, melainkan berpotensi mengganggu rantai pasok pangan yang selama ini menopang kebutuhan dalam negeri maupun pasar ekspor.

Indonesia merupakan salah satu pemasok berbagai komoditas pangan ke pasar global. Karena itu, ketika produktivitas petani terganggu, dampaknya tidak berhenti di sawah atau perkebunan, melainkan menjalar hingga ke rantai perdagangan internasional.

Laporan ECIU mencatat Indonesia masuk dalam kelompok 15 negara dengan tingkat kerentanan iklim tinggi yang secara kolektif memasok sekitar 11 persen impor pangan Inggris senilai 7,4 miliar poundsterling pada 2025.

Dari Indonesia saja, nilai impor pangan Inggris mencapai 172 juta poundsterling atau sekitar Rp2,92 triliun pada 2025. Produk yang dikirim meliputi kopi, minyak sawit, kelapa kering, hingga tuna cakalang dengan volume mencapai 101 juta kilogram.

Kepala Program Internasional ECIU, Gareth Redmond King, mengingatkan bahwa perubahan iklim tidak hanya mengancam tanaman pangan, tetapi juga manusia yang memproduksinya.

"Ancaman dari perubahan iklim semakin meningkat, berdampak pada tanaman pangan itu sendiri, tetapi juga pada para pekerja yang kita andalkan untuk memproduksinya. Di negara-negara seperti India, di mana suhu saat ini mencapai angka 45 derajat Celsius, sangat berbahaya untuk bekerja di luar ruangan, yang membahayakan kesehatan, mata pencaharian, dan pasokan makanan yang stabil," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa, 9 Juni 2026.

Tekanan iklim yang dihadapi Indonesia juga semakin kompleks. Kenaikan suhu udara, perubahan pola hujan, serta deforestasi membuat risiko banjir dan tanah longsor meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Di wilayah perkotaan, gelombang panas mulai lebih sering terjadi. Sementara di kawasan pesisir, kenaikan suhu laut mengancam ekosistem terumbu karang dan hutan mangrove yang menjadi benteng alami perlindungan lingkungan.

Kondisi tersebut diperkirakan bisa memburuk apabila fenomena El Nino kembali muncul pada 2026 hingga berlanjut ke 2027. Cuaca yang lebih kering berpotensi memicu kekeringan, kebakaran hutan, hingga gangguan musim tanam yang berujung pada masalah ketahanan pangan.

Manager Outreach and Advocacy CERAH, Bondan Andriyanu, menilai dampak cuaca ekstrem pada akhirnya tidak hanya dirasakan petani, tetapi juga masyarakat luas yang bergantung pada hasil pertanian.

"Selain oleh petani yang kehilangan mata pencaharian saat panen, dampak dari cuaca ekstrem juga dirasakan oleh warga kota yang membeli produk turunannya, kopi dan sayur-mayur. Barang-barang tersebut menjadi mahal dan langka bagi orang-orang yang seharusnya bisa membeli produk tersebut. Ini adalah dampak yang dirasakan secara seragam oleh semua orang Indonesia. Maka dari itu, kita tidak boleh beradaptasi saja. Mitigasi iklim juga penting," kata Bondan.

Fenomena ini sebenarnya terjadi hampir di seluruh dunia. Pada 2024, sekitar 1,5 miliar orang atau 25,3 persen populasi usia kerja global bekerja di luar ruangan dan terpapar langsung panas ekstrem.

Penelitian yang sama memperkirakan total jam kerja yang hilang akibat tekanan panas mencapai 640 miliar jam sepanjang 2024. Jumlah tersebut meningkat tajam dibandingkan tahun sebelumnya dan melonjak 98,1 persen dibanding rata-rata pada dekade 1990-an.

Pekerja sektor pertanian menjadi kelompok yang paling terpukul. Secara global, mereka menyumbang 63,5 persen dari total jam kerja yang hilang akibat panas ekstrem.

Temuan ini menjadi peringatan bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan persoalan yang sudah menggerus produktivitas hari ini. Ketika petani tak lagi kuat bekerja di bawah terik yang semakin brutal, yang dipertaruhkan bukan hanya hasil panen, melainkan stabilitas harga pangan di meja makan masyarakat.

Efek Domino Cuaca Ekstrem ke Emiten

Penurunan produktivitas tenaga kerja akibat sengatan panas yang mencapai 23,6 juta jam kerja bukan sekadar statistik ketenagakerjaan. Di lantai bursa, fenomena ini mewujud dalam bentuk penurunan volume produksi pada emiten-emiten besar di sektor perkebunan dan pangan, yang kini harus bersiasat menghadapi tantangan iklim yang makin tak menentu.

Fenomena El Niño yang melanda sejak pertengahan 2023 hingga awal 2024 telah memberikan dampak nyata bagi emiten kelapa sawit (CPO). Cuaca panas ekstrem mengakibatkan kemarau panjang yang menghambat pertumbuhan tandan buah segar (TBS), memicu penurunan hasil panen secara signifikan di berbagai wilayah operasional perusahaan.

Salah satu pemain utama, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), mencatat penurunan produksi TBS sebesar 7 persen (yoy) akibat dampak cuaca panas dari fenomena El Niño. Meskipun kinerja laba bersih perusahaan masih tertolong oleh kenaikan harga jual rata-rata (ASP) CPO global, penurunan volume produksi tetap menjadi sinyal waspada bagi keberlanjutan pasokan.

Kondisi serupa dialami oleh PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG). Perusahaan ini melaporkan produksi TBS internal turun 7 persen pada tahun 2024, yang diperburuk oleh merosotnya pasokan dari pihak eksternal hingga 23 persen. El Niño yang berlangsung lama sejak paruh kedua 2023 hingga April 2024 menjadi faktor utama di balik melandainya angka produksi tersebut.

Dampak cuaca panas ini tidak dirasakan merata oleh semua emiten. Analisis pasar menunjukkan adanya perbedaan ketahanan (resiliensi) berdasarkan usia tanaman. Emiten seperti AALI, PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP), dan PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) menghadapi tantangan lebih berat karena rata-rata umur pohon mereka sudah melewati masa prima di atas 17 tahun. Pohon sawit yang lebih tua cenderung lebih sensitif terhadap kekeringan dan membutuhkan waktu pemulihan lebih lama pasca-fenomena El Niño.

Sebaliknya, emiten dengan profil tanaman lebih muda seperti PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) dan PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS), yang rata-rata umur pohonnya di bawah 14 tahun, dinilai memiliki keunggulan kompetitif. Tanaman di usia prima ini memiliki tingkat ekstraksi minyak (OER) yang lebih stabil dan lebih tahan banting dalam menghadapi stres akibat panas ekstrem.

Di luar sektor sawit, suhu udara di atas 35 derajat Celsius menjadi ancaman mematikan bagi komoditas pangan pokok. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperingatkan bahwa panas ekstrem pada fase pembungaan tanaman padi dapat menyebabkan keguguran serbuk sari, yang mengakibatkan bulir padi menjadi hampa.

Setiap kenaikan suhu sebesar 1 derajat diperkirakan dapat menurunkan produktivitas pertanian hingga 10 persen. Laporan regional di Sulawesi Tenggara menunjukkan bahwa curah hujan ekstrem yang sering mengikuti siklus anomali cuaca juga merusak lahan jagung dan sayur-sayuran, memicu gagal panen yang berujung pada inflasi harga pangan di tingkat konsumen.

Dengan prediksi kembalinya El Niño pada periode 2026 hingga 2027, dunia usaha di sektor agrikultur dihadapkan pada ketidakpastian tinggi. Gangguan distribusi akibat kerusakan infrastruktur jalan serta migrasi komoditas perikanan ke perairan yang lebih dingin akibat kenaikan suhu laut menambah beban logistik dan operasional perusahaan.
Bagi para investor, kinerja emiten pertanian kini tidak hanya diukur dari luas lahan atau efisiensi biaya pupuk, melainkan seberapa tangguh strategi mitigasi perubahan iklim yang mereka miliki. Tanpa langkah adaptasi yang serius, hilangnya jam kerja petani di lapangan akan terus bertransformasi menjadi hilangnya potensi pendapatan di laporan keuangan korporasi.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait