Makro 23 Apr 2026 Penulis: Hutama Prayoga Editor: Tim Editorial

Lewat B57+, Peluang Kolaborasi Internasional Kian Lebar

Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya berharap dengan berkolaborasi bersama B57+ membantu mendukung brand Indonesia untuk go global

B57+ dorong ekonomi kreatif tembus pasar global. Kolaborasi lintas sektor, IP, dan ekonomi halal jadi kunci ekspansi Indonesia ke pasar internasional.

Peluang kolaborasi internasional kian lebar lewat B57+ (Foto: Kabarbursa.com/Gusti Ridani)
Peluang kolaborasi internasional kian lebar lewat B57+ (Foto: Kabarbursa.com/Gusti Ridani)

KABARBURSA.COM - Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya, mendorong kolaborasi dengan B57+ (Business 57 Plus) agar pelaku ekonomi kreatif mampu menembus pasar global melalui penguatan kekayaan intelektual dan kolaborasi lintas sektor. Ia menilai, B57+ sebagai forum yang selaras dengan komitmen Kementerian Ekraf.

“Kaitannya nanti bagaimana kita berkolaborasi dengan B57+ Indonesia termasuk bisa mulai dari akses pendanaan, akses pasar, fasilitasi untuk akses pasar, fasilitasi untuk akses meningkatkan talenta," ujar dia, dalam acara  Halal Bihalal B57+ Asia Pacific Chapter di Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu, 22 April 2026.

Riefky pun berharap dengan berkolaborasi bersama B57+ membantu mendukung brand Indonesia untuk go global. Diketahui, Forum B57+ ini merupakan inisiatif kolaboratif di bawah naungan Islamic Chamber of Commerce and Development (ICCD) yang berfokus pada penguatan jejaring pelaku usaha dan pemangku kepentingan negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), khususnya di bidang perdagangan, investasi, dan pengembangan ekonomi berbasis halal.

Riefky menyebut, penguatan local hero, local brand, serta kekayaan intelektual dari daerah menjadi langkah penting untuk mendorong lahirnya national champion yang mampu bersaing di tingkat internasional.

Sementara itu Menteri Agama, Nasaruddin Umar, menyampaikan bahwa momentum halal bihalal ini memiliki makna lebih dari sekadar tradisi pasca-Idulfitri, melainkan sebagai penguatan persaudaraan ekonomi umat dalam konteks global.

Ia menilai Indonesia tetap kokoh di posisi ketiga besar dunia dan mungkin dalam waktu tidak lama akan naik ke puncak. Hal ini membuktikan bahwa nilai-nilai spiritualitas yang dijaga berkorelasi positif dengan kredibilitas ekonomi dalam negeri.

"Menurut data proyeksi 2026, ekonomi halal global diperkirakan bernilai lebih dari USD3 triliun. Kita tidak bisa lagi melihat ekonomi halal hanya dari perspektif ibadah. Ini adalah industri raksasa. semoga bisa menjadikan Indonesia sebagai jajar ekonomi syariah di kawasan Asia Pasifik bahkan di dalam dunia internasional,” jelasnya.

Sedangkan Ketua Umum B57+ Asia Pacific Chapter, Arsjad Rasjid, menekankan pentingnya kolaborasi di tengah dinamika global yang semakin kompleks, terutama dalam memanfaatkan potensi ekonomi halal yang terus berkembang.

“B57+ misinya sederhana, tapi penuh ambisi. Menerjemahkan kekuatan bersama menjadi kemakmuran bersama. Hal ini dicapai melalui perdagangan, investasi, konektivitas bisnis yang konkret. Dan melalui B57+ Indonesia mengambil peran sebagai jembatan, jembatan of leadership atau kepemimpinan kerja sama ekonomi halal di kawasan Asia Pasifik,” ujarnya. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
HU
Ass. Redaktur

Hutama Prayoga

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait