KABARBURSA.COM – Selama ini Transjakarta lebih sering dipandang sebagai solusi untuk mengurai kemacetan Jakarta. Namun, manfaat transportasi publik itu ternyata tidak berhenti pada urusan mobilitas. Kajian Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menunjukkan, keberadaan Transjakarta juga menghasilkan manfaat ekonomi melalui penurunan polusi udara yang berdampak pada penghematan biaya kesehatan hingga Rp3,79 triliun setiap tahun.
Temuan tersebut tertuang dalam policy brief bertajuk Transjakarta Menggerakkan Ekonomi, Mengurangi Polusi, Mengurai Kemacetan yang disusun oleh Muhammad Halley Yudhistira, Ph.D., Yusuf Reza Kurniawan, Yusuf Sofiyandi, Utomo Noor Rachmanto, Firli Wulansari Wahyuputri, Giani Raras, dan Sarah Nurul Izzati dari Kelompok Kajian Transportasi, Real Estate, dan Studi Perkotaan LPEM FEB UI. Kajian ini mengevaluasi dampak ekonomi, sosial, dan lingkungan layanan Transjakarta sepanjang periode 2015 hingga 2024 menggunakan berbagai data resmi, mulai dari PT Transportasi Jakarta, Badan Pusat Statistik (BPS), hingga Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Dalam policy brief tersebut, para peneliti menegaskan manfaat Transjakarta tidak hanya tercermin dari jumlah penumpang ataupun besarnya subsidi yang diberikan pemerintah.
“Keberadaan Transjakarta juga berkontribusi langsung pada perbaikan kualitas udara. Analisis kualitas udara menunjukkan bahwa konsentrasi polutan utama seperti karbon monoksida (CO), nitrogen dioksida (NO₂), sulfur dioksida (SO₂), dan partikulat halus (PM₂.₅) mengalami penurunan di wilayah yang dilayani Transjakarta,” tulis para peneliti dalam artikel yang dilihat Jumat, 26 Juni 2026.
Secara sederhana, mekanismenya berawal dari meningkatnya penggunaan transportasi umum. Ketika lebih banyak masyarakat beralih dari kendaraan pribadi ke Transjakarta, konsumsi bahan bakar fosil ikut berkurang sehingga emisi kendaraan menurun. Dampaknya, konsentrasi berbagai polutan di udara ikut menyusut dan risiko gangguan kesehatan akibat paparan polusi menjadi lebih rendah.
Empat jenis polutan yang disebut dalam kajian tersebut memang selama ini menjadi perhatian utama dalam isu kualitas udara perkotaan. Partikulat halus PM₂.₅ diketahui mampu masuk hingga ke paru-paru bahkan aliran darah sehingga meningkatkan risiko penyakit pernapasan dan kardiovaskular.
Sementara karbon monoksida dapat mengurangi kemampuan darah mengangkut oksigen, nitrogen dioksida memicu iritasi saluran pernapasan dan memperburuk asma, sedangkan sulfur dioksida berkontribusi terhadap gangguan paru-paru, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Menurut para peneliti, penurunan konsentrasi polutan tersebut memiliki nilai ekonomi yang sangat besar. “Penurunan ini memberikan manfaat ekonomi yang besar berupa penghematan biaya kesehatan akibat paparan polutan sekitar Rp3,79 triliun per tahun, atau setara dengan 0,12 persen PDRB DKI Jakarta,” tulis mereka.
Kajian itu juga menyoroti manfaat lingkungan berjalan beriringan dengan peningkatan efisiensi mobilitas. Semakin banyak masyarakat yang menggunakan transportasi massal, semakin kecil pula tekanan kendaraan pribadi terhadap jaringan jalan di Jakarta. “Selain perbaikan kualitas udara, Transjakarta juga berperan mengurangi tingkat kemacetan,” katanya.
Efeknya tidak hanya dirasakan pengguna Transjakarta, tetapi juga para komuter secara umum. LPEM FEB UI memperkirakan efisiensi perjalanan yang tercipta memiliki nilai ekonomi tersendiri. “Total penghematan waktu perjalanan komuter Jabodetabek yang beraktivitas di Kota Jakarta mencapai lebih dari 1,8 juta jam per tahun, dengan nilai ekonomi setara Rp111 miliar per tahun,” ujarnya.
Meski demikian, para peneliti menilai manfaat tersebut masih dapat ditingkatkan. Dalam policy brief itu, LPEM FEB UI merekomendasikan percepatan konversi armada Transjakarta dari bus berbahan bakar minyak menuju bus listrik agar penurunan emisi karbon berlangsung lebih cepat. Selain itu, pemerintah juga didorong menambah dan mengoptimalkan jalur khusus bus serta menata ulang rute layanan sehingga Transjakarta menjadi lebih cepat dan andal.
Menurut kajian tersebut, langkah-langkah itu akan mendorong semakin banyak pengguna kendaraan pribadi beralih ke transportasi publik. Pada akhirnya, manfaat ekonomi, lingkungan, dan kesehatan yang dihasilkan Transjakarta tidak hanya melampaui biaya subsidi yang dikeluarkan pemerintah, tetapi juga memperkuat daya saing Jakarta sebagai kota yang lebih efisien, sehat, dan berkelanjutan.(*)