KABARBURSA.COM – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melaporkan, struktur industri manufaktur Indonesia masih didominasi pasar domestik dengan porsi sekitar 80 persen. Sementara kontribusi ekspor baru mencapai sekitar 20 persen.
Di tengah dominasi pasar dalam negeri tersebut, kinerja industri pengolahan tetap mencatat pertumbuhan positif. Pada triwulan I 2026, sektor ini tumbuh 5,04 persen (year-on-year) dan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi terbesar dengan kontribusi 1,03 persen.
Secara keseluruhan, ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen pada periode yang sama, dengan industri pengolahan menyumbang 19,07 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan, struktur permintaan yang masih bertumpu pada pasar domestik menjadi bagian dari perhatian pemerintah dalam mendorong ekspansi industri ke pasar global.
“Kita ingin meningkatkan kontribusi ekspor tanpa mengurangi porsi domestik. Artinya, perlindungan terhadap pasar dalam negeri tetap dijaga, namun kita juga harus meningkatkan ekspansi produk manufaktur lebih besar ke pasar global sehingga mampu meningkatkan utilitas produksi dan penyerapan tenaga kerja lebih besar lagi,” ujar Menperin dalam keterangannya, Rabu, 6 Mei 2026.
Pertumbuhan industri manufaktur pada awal tahun ini juga didukung oleh sejumlah subsektor. Industri makanan dan minuman tumbuh 7,04 persen, didorong peningkatan permintaan selama Ramadan dan Idulfitri serta ekspor CPO dan CPKO.
Sementara itu, industri barang logam, komputer, barang elektronik, optik, dan peralatan listrik tumbuh 10,35 persen seiring meningkatnya permintaan global terhadap komponen elektronik dan baterai. Industri kimia, farmasi, dan obat tradisional turut tumbuh 7,41 persen.
Selain itu, indikator kepercayaan industri menunjukkan kondisi ekspansif sepanjang triwulan I 2026. Indeks Kepercayaan Industri (IKI) tercatat sebesar 54,12 pada Januari, 54,02 pada Februari, dan 51,86 pada Maret, seluruhnya berada di atas level 50.
Indeks Kondisi dan Prospek Bisnis Industri Manufaktur (IKBM) juga berada di level 51,37, mencerminkan persepsi pelaku industri yang masih positif terhadap aktivitas bisnis.
Menperin menyebut, capaian tersebut menunjukkan ketahanan sektor manufaktur di tengah dinamika global. “Kinerja industri manufaktur tetap solid karena adanya permintaan yang meningkat, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Ini menegaskan bahwa manufaktur masih menjadi tulang punggung perekonomian nasional,” ujarnya.
Pemerintah, lanjutnya, terus menyiapkan langkah untuk menjaga momentum pertumbuhan melalui stimulus dan insentif yang diarahkan pada peningkatan kinerja industri.
“Kita terus mengidentifikasi berbagai kendala yang dihadapi pelaku industri di lapangan dan merumuskan langkah-langkah solutif. Kebijakan stimulus dan insentif menjadi penting agar pertumbuhan manufaktur dapat berjalan lebih cepat, berkualitas dan berkelanjutan,” ungkapnya.
Dengan struktur pasar yang masih didominasi domestik, penguatan ekspor dinilai menjadi salah satu fokus kebijakan untuk meningkatkan utilisasi produksi dan memperluas kontribusi industri manufaktur terhadap perekonomian nasional.(*)