Makro 03 Oct 2024 Penulis: Yunila Wati Editor: Tim Editorial

Masih Tersulut Ketegangangan Timteng, Harga Minyak Dunia Naik Tipis

Masih Tersulut Ketegangangan Timteng, Harga Minyak Dunia Naik Tipis
Masih Tersulut Ketegangangan Timteng, Harga Minyak Dunia Naik Tipis

Daftar Isi

  1. 01 Ketegangan Geopolitik Memicu Lonjakan Awal
  2. 02 Kenaikan Stok Minyak AS Menekan Harga
  3. 03 Ancaman Balasan Israel dan Risiko pada Sektor Energi
  4. 04 OPEC+ dan Produksi Minyak AS Tetap Menjadi Penyeimbang
  5. 05 Prospek Minyak Global di Tengah Ketidakpastian

KABARBURSA.COM - Harga minyak mentah dunia mengalami kenaikan tipis pada penutupan perdagangan Rabu, 2 Oktober 2024, waktu setempat, atau Kamis dini hari WIB, 3 Oktober 2024. Kenaikan harga ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama konflik antara Israel dan Iran. Serangan misil balistik yang diluncurkan Iran ke wilayah Israel menambah kekhawatiran pasar bahwa ketegangan ini bisa bereskalasi lebih jauh dan mengganggu pasokan minyak global.

Mengutip CNBCInternational, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November naik 27 sen atau 0,39 persen, menutup perdagangan pada USD70,10 per barel di New York Mercantile Exchange. Sementara itu, harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Desember bertambah 34 sen atau 0,46 persen menjadi USD73,90 per barel di London Futures Exchange.

Ketegangan Geopolitik Memicu Lonjakan Awal

Pada awal perdagangan, harga minyak sempat melonjak hampir 4 persen setelah berita serangan misil Iran ke Israel mencuat. Kekhawatiran pasar bahwa Israel mungkin akan merespons dengan menargetkan infrastruktur minyak Iran menambah ketidakpastian, sehingga investor bergegas mengambil posisi di pasar energi. Namun, kenaikan harga ini mulai melambat setelah laporan data persediaan minyak AS menunjukkan adanya peningkatan yang cukup signifikan.

"Ketegangan geopolitik ini jelas mempengaruhi sentimen pasar, tetapi peningkatan stok minyak AS menekan potensi kenaikan lebih lanjut," kata John Kilduff, mitra di Again Capital, sebuah perusahaan investasi yang fokus pada energi.

Kenaikan Stok Minyak AS Menekan Harga

Data dari Energy Information Administration (EIA) menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah AS meningkat sebesar 3,9 juta barel pekan lalu, sementara persediaan bensin juga mengalami kenaikan signifikan sebanyak 11 juta barel. Peningkatan persediaan ini berpotensi menekan harga minyak, yang seharusnya mengalami kenaikan lebih tinggi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.

Menurut para analis, kenaikan persediaan minyak di AS memperlihatkan bahwa pasokan minyak global masih relatif stabil, meskipun ada ancaman yang datang dari Timur Tengah.

Ancaman Balasan Israel dan Risiko pada Sektor Energi

Sementara harga minyak sedikit terkoreksi oleh peningkatan persediaan, risiko ketegangan lebih lanjut tetap mengintai. Israel telah mengeluarkan peringatan keras bahwa pihaknya akan membalas serangan Iran dengan "tindakan yang menyakitkan". Duta Besar Israel untuk PBB Danny Danon, menyatakan bahwa respon Israel terhadap Iran kemungkinan besar akan menargetkan infrastruktur penting.

Beberapa analis memperkirakan bahwa jika Israel memutuskan untuk menyerang kapasitas minyak Iran, atau jika kelompok proksi Iran menargetkan pengiriman minyak di kawasan Teluk Persia, pasar minyak global dapat mengalami gejolak yang lebih besar. Eskalasi lebih lanjut di wilayah ini akan mengancam stabilitas rantai pasokan minyak, yang dapat mendorong harga lebih tinggi secara signifikan.

"Jika kita melihat serangan yang mempengaruhi infrastruktur energi, terutama di Iran, kita bisa menyaksikan lonjakan harga yang lebih tajam lagi," kata Helima Croft, kepala strategi komoditas global di RBC Capital Markets.

OPEC+ dan Produksi Minyak AS Tetap Menjadi Penyeimbang

Di tengah ketegangan ini, beberapa faktor lain tetap membatasi kenaikan harga minyak. OPEC+, organisasi yang beranggotakan negara-negara pengekspor minyak terbesar di dunia, masih berencana untuk meningkatkan produksi minyak pada Desember 2024. Langkah ini diambil untuk menjaga keseimbangan pasar dan merespons permintaan global.

Selain itu, produksi minyak di Amerika Serikat juga terus mencatat rekor tertinggi. Meskipun ada gangguan geopolitik di Timur Tengah, pasokan minyak dari AS membantu meredam lonjakan harga minyak lebih lanjut. Di sisi lain, permintaan minyak dari China, sebagai importir minyak terbesar dunia, tetap lemah sepanjang tahun ini. Hal ini turut memberikan tekanan terhadap harga minyak di pasar global.

"Pasokan global saat ini masih cukup besar, dan produksi tidak terganggu secara signifikan," kata Yulia Zhetskova Grigsby, analis komoditas di Goldman Sachs.

"Meskipun ketegangan geopolitik meningkat, pasokan yang memadai membuat risiko kenaikan harga tetap terkendali," lanjut dia.

Prospek Minyak Global di Tengah Ketidakpastian

Dengan meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan langkah-langkah yang diambil oleh OPEC+ serta peningkatan produksi minyak AS, pasar minyak global terus berada di bawah pengaruh dinamika yang kompleks. Ancaman terhadap pasokan minyak dari konflik di Timur Tengah dapat memicu volatilitas harga yang lebih tinggi, namun ketersediaan pasokan global yang relatif stabil membantu menjaga harga tetap terkendali.

Meskipun harga minyak mengalami kenaikan tipis pada perdagangan Rabu, investor tetap waspada terhadap potensi eskalasi konflik lebih lanjut yang dapat mempengaruhi pasokan energi global. Di tengah situasi yang tidak pasti ini, pasar energi akan terus memantau perkembangan konflik antara Israel dan Iran, serta kebijakan dari OPEC+ dan produsen minyak lainnya.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait