Makro 16 Jun 2026 Penulis: Hutama Prayoga Editor: Tim Editorial

Meredanya Konflik Timur Tengah Seret Dolar AS ke Zona Merah

Kesepakatan damai AS dan Iran meredakan kekhawatiran geopolitik global, mendorong pelemahan dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama

Dolar AS melemah setelah AS dan Iran menyepakati perdamaian yang membuka peluang berakhirnya konflik di Timur Tengah

Ilustrasi dolar Amerika Serikat (Foto: KabarBursa)
Ilustrasi dolar Amerika Serikat (Foto: KabarBursa)

KABARBURSA.COM - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) ditutup tersungkur terhadap mata uang beberapa negara pada Senin, 15 Juni 2026 setelah AS dan Iran sepakat mengakhiri perang.

Mengutip Reuters, indeks dolar, yang mengukur nilai dolar AS terhadap mata uang termasuk yen dan euro turun 0,20 persen menjadi 99,60, dengan euro menguat 0,25 persen menjadi USD1,1597.

Sementara itu, poundsterling terpantau menguat  0,1 persen terhadap dolar AS menjadi USD1,342. Sedangkan Yen Jepang melemah 0,03 persen menjadi 160,25 per dolar AS.

Tak ketinggalan, nilai tukar rupiah per perdagangan kemarin juga menguat atas dolar AS sebesar 151 poin ke level Rp17.708.

Bank-bank sentral utama, seperti The Fed, Bank of Japan, Bank of England, dan Reserve Bank of Australia, akan mengumumkan keputusan suku bunga pekan ini.

Pasar berfokus pada apakah kesepakatan damai akan meredakan kekhawatiran mereka tentang inflasi dan memengaruhi kebijakan moneter jangka pendek.

Bank Sentral AS, The Fed, secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga dalam kisaran saat ini 3,5 persen hingga 3,75 persen, tetapi mungkin akan mengubah kecenderungan pelonggaran kebijakan moneternya.

Para pedagang juga akan memperhatikan seberapa agresif nada yang akan disampaikan oleh Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, pada konferensi pers setelah pernyataan tersebut.

Investor memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 56 persen pada bulan Desember seiring dengan membaiknya pasar tenaga kerja dan inflasi yang tetap di atas target tahunan The Fed sebesar 2 persen.

Bank Sentral Jepang diperkirakan akan menaikkan suku bunga menjadi 1 persen, level tertinggi dalam 31 tahun, pada pertemuan dua hari yang berakhir pada hari Selasa.

Bank tersebut juga diperkirakan akan memberi sinyal kesiapan untuk terus menaikkan biaya pinjaman guna memerangi risiko inflasi meskipun ada kesepakatan damai.

“Kenaikan suku bunga mungkin tidak akan banyak berpengaruh langsung pada nilai tukar dolar/yen karena sudah tercermin dalam nilai tukar tersebut,” kata Chandler, meskipun ia menambahkan bahwa orang mungkin menganggap intervensi lebih mungkin terjadi jika yen terus melemah.

Sementara itu, baik Reserve Bank of Australia maupun Bank of England diperkirakan akan mempertahankan suku bunga tetap stabil.
 

Adapun, Presiden AS Donald Trump mengatakan pada hari Senin, 15 Juni 2026  nota kesepahaman untuk mengakhiri perang di Teluk telah ditandatangani oleh pihaknya dan Iran.

Menurut keterangan dari kedua belah pihak, perjanjian tersebut akan membuka kembali selat yang diblokade dan memperpanjang gencatan senjata untuk periode negosiasi selama 60 hari, di mana isu-isu kontroversial seperti masa depan program nuklir Iran akan diputuskan.

Meskipun demikian, pasar tetap agak berhati-hati karena menunggu rincian perjanjian dan penandatanganan final.

"Tingkat ketidakpercayaan sangat besar sehingga menurut saya naif untuk berasumsi bahwa semuanya akan berjalan lancar," kata Chandler, kepala ahli strategi pasar di Bannockburn Global Forex. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
HU
Ass. Redaktur

Hutama Prayoga

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait