PREMIUM Makro 11 Mar 2025 Penulis: Moh. Alpin Pulungan Editor: Syahrianto

Meta Kembangkan Chip AI, Apa Peluang Buat Industri RI?

Meta kembangkan chip AI sendiri untuk kurangi ketergantungan pada Nvidia. Langkah ini bisa jadi peluang bagi industri semikonduktor Indonesia atau justru memperkuat dominasi teknologi global.

Meta mulai uji coba chip AI buatannya sendiri, menandai langkah besar menuju kemandirian semikonduktor. Bagaimana dampaknya bagi industri chip dan Indonesia?

lustrasi META. Foto: Dok. Digital Watch Observatory.
lustrasi META. Foto: Dok. Digital Watch Observatory.

Daftar Isi

  1. 01 Meta Ingin Pakai Chip Sendiri di 2026
  2. 02 Meta Pernah Gagal, Tapi Tetap Gencar Kembangkan Chip AI
  3. 03 Dampak Strategi Chip Meta Terhadap Indonesia
  4. 04 Emiten yang Harus Mulai Bergerak di Semikonduktor

KABARBURSA.COM - Meta lagi ngetes chip buatannya sendiri buat melatih sistem kecerdasan buatan (AI). Langkah ini jadi tonggak penting dalam strategi mereka buat mengurangi ketergantungan ke Nvidia dan perusahaan luar lainnya. Menurut dua sumber yang dikutip Reuters, chip ini baru dipakai dalam skala kecil, tapi kalau tesnya mulus, Meta siap ‘ngegas’ produksi buat penggunaan lebih luas.

Langkah ini bagian dari strategi jangka panjang buat menurunkan biaya infrastruktur Meta yang makin membengkak karena investasi besar-besaran di teknologi AI. Total belanja Meta tahun 2025 diperkirakan mencapai USD114 miliar sampai USD119 miliar (Rp1.881 triliun – Rp1.963 triliun), termasuk belanja modal hingga USD65 miliar (Rp1.072 triliun) yang sebagian besar dipakai buat AI.

Salah satu sumber menyebut, chip baru Meta ini bukan sekadar GPU biasa, tapi akselerator khusus yang cuma ditugasin buat menangani tugas AI. Desain ini bikin konsumsi dayanya lebih efisien dibanding GPU konvensional yang biasanya dipakai buat beban kerja AI.

Buat produksi chip ini, Meta kerja sama dengan TSMC, raksasa semikonduktor asal Taiwan. Tes awal baru dimulai setelah Meta menyelesaikan tahap “tape-out” pertama, yang berarti desain awal chip sudah dikirim ke pabrik buat diproduksi.

Ini langkah krusial dalam pengembangan chip, tapi risikonya tinggi—proses tape-out bisa makan biaya puluhan juta dolar dan butuh waktu tiga sampai enam bulan, tanpa jaminan sukses. Kalau gagal, Meta harus balik ke tahap awal buat diagnosis masalah dan coba lagi. Meta dan TSMC sejauh ini masih bungkam soal proyek ini.

Chip baru ini bakal masuk ke dalam lini Meta Training and Inference Accelerator (MTIA). Sejauh ini, perjalanan program MTIA tak selalu mulus—Meta bahkan sempat nyetop pengembangan salah satu chipnya di fase serupa. Tapi, tahun lalu, Meta akhirnya mulai pakai salah satu chip MTIA buat menangani inference—proses di mana AI beroperasi saat pengguna berinteraksi dengan sistem. Chip ini dipakai buat menyempurnakan sistem rekomendasi di Facebook dan Instagram yang menentukan konten apa aja yang muncul di feed pengguna.

Seorang insinyur Meta sedang meneliti komponen chip menggunakan mikroskop di laboratorium riset perusahaan META. Foto: Meta.com.

Meta memang serius buat lepas dari ketergantungan pada Nvidia. Para eksekutifnya menargetkan mulai pakai chip buatan sendiri pada 2026 untuk melatih AI, proses komputasi berat yang melibatkan pengolahan data dalam jumlah besar supaya AI bisa “belajar” memahami pola dan melakukan tugasnya.

Seperti chip inference yang udah mereka kembangkan, chip pelatihan ini awalnya bakal dipakai buat sistem rekomendasi. Kalau berjalan mulus, Meta bakal memperluas penggunaannya ke AI generatif seperti chatbot Meta AI.

“Kami sedang mencari cara bagaimana melatih sistem rekomendasi, lalu ke depannya, bagaimana kami bisa menggunakan chip untuk pelatihan dan inference di AI generatif,” kata Chief Product Officer Meta, Chris Cox, dikutip dari Reuters di Jakarta, Selasa, 11 Maret 2025.

Cox menggambarkan perjalanan pengembangan chip ini sebagai “jalan, merangkak, lalu lari”—masih tahap awal, tapi ia menilai chip inference generasi pertama buat rekomendasi sudah cukup sukses.

  1. Peluang bagi PTSN untuk masuk ke rantai pasok global. Jika Meta butuh lebih banyak rekanan manufaktur untuk memproduksi chip dalam jumlah besar, PTSN bisa mencoba menjalin kerja sama.
  2. Ancaman bagi ketergantungan impor Indonesia. Jika produsen besar seperti Meta dan perusahaan teknologi lain semakin mandiri dalam membuat chip, maka harga chip global bisa lebih tidak stabil. Ini bisa berdampak pada industri teknologi di Indonesia yang selama ini mengandalkan pasokan dari luar negeri.
  1. PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) – Sebagai pemain utama di industri digital Indonesia, Telkom bisa memanfaatkan anak usahanya di sektor cloud computing dan AI untuk mulai mengembangkan in-house chip seperti yang dilakukan Meta.
  2. PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk (ISAT) – Dengan berkembangnya layanan 5G dan AI berbasis cloud, Indosat bisa menjalin kerja sama dengan perakit semikonduktor seperti PTSN untuk pengembangan chip khusus jaringan.
  3. PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) – Konglomerasi ini memiliki investasi di berbagai sektor teknologi dan bisa masuk ke industri semikonduktor melalui anak usahanya.
  1. Memberikan insentif bagi industri chip, seperti pembebasan pajak bagi perusahaan yang mau investasi di pabrik semikonduktor.
  2. Mendorong riset dan pengembangan chip AI di universitas agar SDM lokal bisa lebih kompetitif.
  3. Menjalin kerja sama dengan pemain global seperti TSMC, Samsung, atau Intel, agar ada transfer teknologi yang nyata ke Indonesia.
PREMIUM Premium Content

Artikel premium ini hanya tersedia untuk Member

Anda dapat membuka artikel ini secara individual dengan harga Rp35.000. Jika sudah berlangganan, silakan login untuk melanjutkan membaca melalui dashboard premium Anda.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait