Makro 27 May 2026 Penulis: Moh. Alpin Pulungan Editor: Syahrianto

Muncul Anomali di Pasar Modal AS, Saham Kecil Mendadak Jadi Sultan karena Euforia AI

Investor mulai tinggalkan raksasa teknologi dan memburu saham kecil AS yang diprediksi cuan dari ledakan AI

Saham teknologi kecil AS melesat karena euforia AI. Investor beralih dari raksasa teknologi, meski risiko gelembung membesar.

Saham teknologi kecil AS melesat karena euforia AI. Investor beralih dari raksasa teknologi, meski risiko gelembung membesar. Foto: Getty Images.
Saham teknologi kecil AS melesat karena euforia AI. Investor beralih dari raksasa teknologi, meski risiko gelembung membesar. Foto: Getty Images.

KABARBURSA.COM — Kalau beberapa tahun lalu investor teknologi Amerika cuma rebutan nama besar macam Nvidia atau Intel, sekarang arah anginnya mulai berubah. Demam kecerdasan buatan alias AI ternyata bikin saham perusahaan teknologi kecil mendadak naik kelas. Yang dulu dipandang sebelah mata, kini dilirik seperti harta karun baru.

Arus uang investor yang masuk ke pasar saham Amerika mencapai rekor dan mulai bergeser ke perusahaan teknologi berkapitalisasi kecil. Alasannya sederhana, investor percaya AI bukan cuma menguntungkan pemain besar, tapi juga perusahaan pendukung seperti pembuat chip, pemasok pusat data, sampai produsen perangkat jaringan.

Dana investasi Invesco S&P SmallCap Information Tech ETF tercatat menerima aliran dana USD49,7 juta (Rp884,7 miliar) sepanjang tahun ini. Angka itu cukup mencolok mengingat produk investasi tersebut sebelumnya mengalami arus keluar dana selama empat tahun berturut-turut.

“Perdagangan AI telah meluas secara cukup signifikan. Saham berkapitalisasi kecil kini benar-benar menjadi bagian dari gelombang kedua dan ketiga AI,” kata Manajer Portofolio Lazard US Systematic Small Cap Equity ETF, Oren Shiran, dikutip dari Reuters, Rabu, 27 Mei 2026.

Fenomena ini ikut mengangkat indeks teknologi perusahaan kecil di Amerika. Indeks S&P 600 Small-Cap Tech melonjak hampir 54 persen sepanjang tahun berjalan. Sebagai pembanding, indeks teknologi S&P 500 yang berisi perusahaan raksasa hanya naik 20,1 persen.

Selisih kenaikan itu disebut menjadi yang terlebar sejak sebelum 1995. Dengan kata lain, perusahaan kecil untuk sementara berhasil bikin pemain besar terlihat kurang garang.

Namun seperti hampir semua euforia di pasar keuangan, selalu ada pertanyaan apakah hal ini murni pertumbuhan sungguhan atau sekadar pesta spekulasi?

Manajer portofolio senior Los Angeles Capital Management, Hal Reynolds, melihat kenaikan saham teknologi kecil lebih banyak dipicu ekspektasi berlebihan dibanding perbaikan fundamental perusahaan.

“Harga saham teknologi berkapitalisasi kecil lebih banyak dipengaruhi spekulasi dan lebih sedikit oleh perubahan fundamental dibanding saham perusahaan besar,” ujarnya.

Kalimat itu terdengar seperti alarm. Sebab di pasar saham, spekulasi sering kali tampak indah sampai kenyataan datang membawa laporan keuangan. Masalahnya, sebagian perusahaan yang sahamnya melonjak justru belum menunjukkan keuntungan yang konsisten.

Produsen semikonduktor MaxLinear, misalnya, mencatat lonjakan pendapatan 43 persen berkat permintaan pelanggan pusat data besar. Sahamnya naik tiga digit sepanjang 2026.

Tapi ada catatan kecil yang ukurannya sebenarnya besar. Perusahaan ini beberapa kali bolak-balik antara untung dan rugi tiap kuartal.

Hal serupa terjadi pada VIAVI. Sahamnya melesat, tetapi profitabilitasnya belum stabil. Bahkan saham Ichor Holdings melonjak hampir empat kali lipat tahun ini meski terakhir kali membukukan laba bersih kuartalan terjadi pada Desember 2022.

Artinya, investor tampaknya sedang membeli kemungkinan, bukan kepastian. Pendiri sekaligus kepala strategi Trivariate Research, Adam Parker, menyebut optimisme pasar dibangun dari keyakinan bahwa AI bisa meningkatkan produktivitas dan laba perusahaan pada masa depan.

“Investor berspekulasi bahwa beberapa perusahaan dapat memperoleh manfaat dari AI, baik melalui solusi yang merebut pangsa pasar maupun peningkatan produktivitas, sehingga mendorong optimisme terhadap pertumbuhan laba,” kata Parker.

Meski begitu, ada ancaman lain yang diam-diam mengintai. Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah global berpotensi mengurangi daya tarik sektor ini. Perusahaan kecil cenderung lebih sensitif terhadap kondisi ekonomi dan sering bergantung pada utang untuk tumbuh.

Jadi, di balik pesta saham AI yang sedang berlangsung, terselip pertanyaan apakah investor sedang menemukan masa depan baru atau cuma mengulang kebiasaan lama, mengejar euforia sebelum sadar datang belakangan?(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait