Makro 22 Jan 2025 Penulis: Yunila Wati Editor: Tim Editorial

Nasib TikTok di Persimpangan Jalan, CEO Shou Zi Chew Lakukan ini

Nasib TikTok di Persimpangan Jalan, CEO Shou Zi Chew Lakukan ini
Nasib TikTok di Persimpangan Jalan, CEO Shou Zi Chew Lakukan ini

Daftar Isi

  1. 01 Rival Tangguh Meta

KABARBURSA.COM - Nasib TikTok di persimpangan jalan. Sejauh ini, Presiden Donlad Trump belum memberikan kepastian apakah kehadiran TikTok di Amerika Serikat akan dibekukan atau berlanjut dengan sejumlah persyaratan ketat.

Namun, CEO TikTok Shou Zi Chew berupaya mengambil hati Trump, dengan hadir dalam upacara pelantikannya pada Senin, 20 Januari 2025 waktu setempat. Banyak pengamat yang menilai langkah tersebut sebagai bagian dari strategi diplomasi korporasi untuk meredakan ketegangan yang selama ini mengancam keberlanjutan aplikasi populer tersebut di Negeri Paman Sam/

Sebelum upacara pelantikan, Chew terlihat mengikuti pemberkatan gereja yang dihadiri Trump. Keterlibatan langsung ini menunjukkan betapa seriusnya TikTok dan induknya, ByteDance, dalam membangun kembali hubungan dengan pemerintah AS.

Sebenarnya, TikTok sempat mendapat angin segar, saat dalam kampanye Pilpres 2024 Trump sering kali menyebut aplikasi ini memainkan peran kunci dalam menarik generasi muda untuk memberikan suaranya.

Namun, selanjutnya tidak demikian. Dalam sebuah pernyataan, Trump menekankan pentingnya membentuk sebuah joint venture antara ByteDance dan pihak Amerika, dengan kepemilikan 50 persen berada di tangan investor AS.

Langkah ini dimaksudkan untuk mengatasi kekhawatiran terhadap keamanan data yang menjadi alasan utama berbagai tuntutan regulasi terhadap TikTok sebelumnya.

Trump menyebut langkah tersebut sebagai cara untuk "menyelamatkan TikTok," seraya memastikan bahwa aplikasi ini tetap berada dalam kontrol yang dianggap aman oleh pemerintah Amerika.

Karenanya, kehadiran Chew tidak hanya dipandang membawa harapan baru, tetapi juga menandai keberlanjutan negosiasi yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir.

TikTok, yang sempat terputus aksesnya di Amerika, kembali beroperasi pada 19 Januari 2025 dengan status sementara selama 75 hari. Pengumuman tersebut disertai ucapan terima kasih dari pihak TikTok atas dukungan Presiden Trump yang disebut-sebut menjadi pendorong utama kembalinya aplikasi ini.

Namun, tantangan belum usai. Selain joint venture yang diajukan, Trump juga menyatakan sedang mempertimbangkan opsi lain, termasuk kemungkinan penjualan bisnis TikTok di Amerika.

Nama-nama besar seperti CEO Tesla Elon Musk dan pendiri Oracle Larry Ellison, muncul sebagai calon potensial untuk mengakuisisi TikTok. Jika opsi ini diwujudkan, TikTok akan mengalami perombakan besar yang dapat mengubah dinamika kepemilikannya secara signifikan.

Sejauh ini, upaya diplomasi yang dilakukan Chew, termasuk kunjungan sebelumnya ke kediaman Trump di Mar-a-Lago pada Desember 2024, tampak membuahkan hasil, setidaknya dalam menjaga dialog tetap terbuka.

Namun, apakah pendekatan ini cukup untuk menjamin keberlanjutan TikTok di AS? Itu masih menjadi pertanyaan yang belum terjawab. Satu hal yang pasti, keputusan akhir akan menjadi tolok ukur bagaimana teknologi global dapat bertahan di tengah kompleksitas geopolitik.

Rival Tangguh Meta

CEO TikTok ini rupanya memiliki perjalanan karier yang penuh liku dan kejutan, hingga akhirnya memimpin salah satu platform media sosial terbesar di dunia. Siapa sangka, sosok yang kini menjadi rival tangguh CEO Meta Mark Zuckerberg, pernah bekerja sebagai karyawan magang di perusahaan yang didirikan oleh Zuckerberg, yaitu Facebook.

Chew, yang lahir dan besar di Singapura, memulai perjalanannya dengan menempuh pendidikan di University College London dan memperoleh gelar ekonomi sebelum melanjutkan ke Harvard Business School untuk meraih gelar MBA.

Di musim panas saat menjadi mahasiswa Harvard, Chew mendapat kesempatan magang di Facebook, yang kala itu masih merupakan bintang baru di dunia teknologi.

Meskipun hanya sebentar berada di perusahaan itu, pengalaman tersebut memberikan bekal berharga yang membawanya menjelajahi berbagai belahan dunia.

Karier Chew berkembang pesat setelah meninggalkan Facebook. Ia memulai perjalanan internasionalnya, berpindah dari London, Singapura, hingga Hong Kong sebelum akhirnya menetap di Beijing.

Tahun 2015 menjadi momen penting, saat ia bergabung dengan Xiaomi, raksasa teknologi China. Selama tiga tahun di sana sebagai kepala keuangan, ia membantu Xiaomi melantai di bursa dan meraih kesuksesan global.

Namun, puncak dari perjalanan kariernya adalah ketika ia bergabung dengan ByteDance pada tahun 2021 sebagai Chief Financial Officer (CFO). Tak butuh waktu lama, ia ditunjuk menjadi CEO TikTok di tahun yang sama.

Di bawah kepemimpinannya, TikTok tumbuh menjadi salah satu platform sosial media yang paling berpengaruh dengan lebih dari 1 miliar pengguna aktif di seluruh dunia, termasuk 150 juta di Amerika Serikat.

Namun, menjadi pemimpin TikTok berarti Chew harus menghadapi tantangan besar, termasuk kritik yang datang dari mantan mentornya, Zuckerberg.

TikTok telah menjadi pesaing utama Meta, menyalip dominasi platform-platform seperti Facebook dan Instagram dalam hal popularitas, terutama di kalangan generasi muda.

Ketegangan ini sebenarnya berakar sejak lama, terutama ketika Zuckerberg berusaha membeli Musical.ly pada 2016, aplikasi yang kemudian menjadi fondasi utama TikTok. Sayangnya bagi Zuckerberg, ByteDance berhasil mengakuisisi Musical.ly dengan nilai USD800 juta dan menggabungkannya dengan TikTok, hingga akhirnya menciptakan platform global yang kini mendominasi.

Hubungan antara Zuckerberg dan Chew pun berubah menjadi kompetisi terbuka. Kritik Zuckerberg terhadap TikTok semakin keras seiring meningkatnya tekanan untuk melarang aplikasi tersebut di Amerika Serikat.

Ia menyebut TikTok sebagai ancaman terhadap kebebasan berekspresi global, bahkan menyoroti potensi risiko keamanan data. Namun, Chew selalu tampil membela TikTok dengan tegas.

Dalam berbagai kesempatan, termasuk di hadapan Komite Energi dan Perdagangan DPR AS pada 2023, Chew berargumen bahwa TikTok tidak mengumpulkan lebih banyak data daripada platform media sosial lain. Ia bahkan menyinggung kasus Cambridge Analytica yang melibatkan Facebook untuk menunjukkan bahwa isu privasi tidak hanya terbatas pada TikTok.

Meski hubungan kedua CEO ini berangkat dari kisah yang sempat saling bersinggungan, kini mereka berada di dua kubu yang bersaing sengit. Chew, dengan pendekatan tenangnya, terus membangun TikTok sebagai platform yang mampu meredefinisi media sosial modern, sementara Zuckerberg tetap menjadi pengkritik paling vokal.

Perseteruan ini tak hanya menggambarkan pertarungan antara dua platform besar, tetapi juga menjadi simbol dari dinamika kompleks dalam dunia teknologi dan media sosial global.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait