Makro 02 Sep 2025 Penulis: Hutama Prayoga Editor: Pramirvan Datu

Neraca Perdagangan RI Surplus per Juli 2025, BI: Positif Topang Ketahanan Eksternal Ekonomi

Neraca perdagangan Juli 2025 surplus USD 4,17 miliar ditopang ekspor nonmigas, sementara inflasi Agustus tercatat deflasi 0,08 persen dengan IHK tahunan 2,31 persen.

Surplus perdagangan Juli 2025 capai USD 4,17 miliar, ekspor nonmigas naik, inflasi Agustus deflasi 0,08 persen, BI yakin inflasi 2025-2026 tetap terkendali.

Ilustrasi.
Ilustrasi.

KABARBURSA.COM - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2025 surplus sebesar USD 4,17 miliar, meningkat dibandingkan dengan surplus pada Juni 2025 sebesar USD4,10 miliar. 

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Ramdan Denny Prakoso mengatakan, pihaknya memandang surplus neraca perdagangan ini positif untuk menopang ketahanan eksternal perekonomian Indonesia lebih lanjut. 

"Ke depan, Bank Indonesia terus memperkuat sinergi kebijakan dengan Pemerintah dan otoritas lain guna meningkatkan ketahanan eksternal dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan," ujar dia dalam keterangannya, Senin, 1 September 2025.

Ramdan menyebut surplus neraca perdagangan yang lebih tinggi terutama bersumber dari surplus neraca perdagangan nonmigas yang meningkat. 

Neraca perdagangan nonmigas pada Juli 2025 mencatat surplus sebesar USD5,75 miliar, seiring dengan ekspor nonmigas yang meningkat menjadi sebesar USD23,81 miliar. 

Dia menjelaskan kinerja positif ekspor nonmigas tersebut terutama didukung oleh ekspor berbasis sumber daya alam seperti bahan bakar mineral serta lemak dan minyak hewani/nabati maupun ekspor produk manufaktur seperti mesin dan peralatan mekanis serta bagiannya serta besi dan baja. 

"Berdasarkan negara tujuan, ekspor nonmigas ke Tiongkok, Amerika Serikat, dan India tetap menjadi kontributor utama ekspor Indonesia," ungkapnya. 

Adapun defisit neraca perdagangan migas meningkat menjadi sebesar USD1,58 miliar pada Juli 2025 sejalan dengan peningkatan impor migas di tengah penurunan ekspor migas.

Di sisi lain, BPS melaporkan Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Agustus 2025 tercatat deflasi sebesar 0,08 persen (mtm), sehingga secara tahunan inflasi IHK menurun menjadi 2,31 persen (yoy).

Ramdan menyebut deflasi didorong oleh kelompok volatile food dan administered prices. Inflasi yang terjaga ini merupakan hasil dari konsistensi kebijakan moneter serta eratnya sinergi pengendalian inflasi antara Bank Indonesia dan Pemerintah (Pusat dan Daerah) dalam Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID) melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) di berbagai daerah. 

"Ke depan, Bank Indonesia meyakini inflasi akan tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen pada 2025 dan 2026" tuturnya.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
HU
Ass. Redaktur

Hutama Prayoga

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait