Makro 02 Mar 2026 Penulis: Syahrianto Editor: Yunila Wati

OPEC Genjot Produksi 206 Ribu Barel usai AS-Israel Gempur Iran

Delapan negara OPEC+ menaikkan output minyak April 2026 di tengah serangan AS-Israel ke Iran dan risiko gangguan pengiriman melalui Selat Hormuz.

OPEC+ tambah 206 ribu barel per hari pada April 2026 di tengah konflik Iran dan risiko gangguan pasokan minyak global.

Ilustrasi: Suasana sebuah pertemuan tahunan OPEC. (Foto: Dok. OPEC)
Ilustrasi: Suasana sebuah pertemuan tahunan OPEC. (Foto: Dok. OPEC)

KABARBURSA.COM – Delapan negara yang tergabung dalam OPEC+ pada Minggu, 1 Maret 2026 mengumumkan bahwa akan meningkatkan produksi minyak mentah, di tengah serangan besar-besaran yang dilancarkan pasukan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Seperti dilansir Associated Press, Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak atau OPEC itu dalam pertemuan kemarin, yang sebenarnya telah dijadwalkan sebelum perang dimulai, menyatakan akan menaikkan produksi sebesar 206.000 barel per hari pada April. Angka tersebut lebih tinggi dari perkiraan para analis.

Negara-negara yang meningkatkan produksi meliputi Arab Saudi, Rusia, Irak, Uni Emirat Arab, Kuwait, Kazakhstan, Aljazair, dan Oman.

OPEC+ menetapkan tambahan produksi total 206 ribu barel per hari untuk April 2026 dengan kontribusi terbesar berasal dari Arab Saudi dan Rusia masing-masing 62 ribu barel per hari. (Foto: Dok. OPEC) 
 

 

Terkait serangan di berbagai titik kawasan, termasuk terhadap dua kapal yang melintas di Selat Hormuz –jalur sempit di mulut Teluk Persia– berpotensi membatasi kemampuan negara-negara untuk mengekspor minyak ke seluruh dunia. Hal itu kemungkinan besar akan mendorong kenaikan harga minyak mentah dan bensin, menurut para ahli energi.

Merujuk Rystad Energy, sekitar 15 juta barel minyak mentah per hari, atau sekitar 20 persen dari total pasokan minyak dunia, dikirim melalui Selat Hormuz, menjadikannya titik sempit (chokepoint) paling krusial bagi perdagangan minyak global. 

“Sekitar seperlima pasokan minyak global melewati Selat Hormuz, arteri vital bagi perdagangan dunia, sehingga pasar lebih khawatir apakah barel minyak dapat bergerak daripada soal kapasitas cadangan di atas kertas,” kata Jorge León, wakil presiden senior dan kepala analisis geopolitik Rystad kepada Associated Press, Minggu, 1 Maret 2026.

Kapal tanker yang melintasi selat tersebut, yang di bagian utara berbatasan dengan Iran, mengangkut minyak dan gas dari Arab Saudi, Kuwait, Irak, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Iran.

Sebagaimana diketahui, Iran sempat menutup sementara sebagian wilayah selat tersebut pada pertengahan Februari untuk apa yang disebutnya sebagai latihan militer. Gangguan lanjutan terhadap jalur pengiriman tersebut dapat menyebabkan pasokan menurun dan harga minyak meningkat.

“Jika arus pengiriman melalui Teluk terhambat, tambahan produksi hanya akan memberikan sedikit kelegaan dalam jangka pendek, sehingga akses terhadap jalur ekspor jauh lebih penting dibanding target produksi yang diumumkan,” pungkas León. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
SY
Ass. Redaktur

Syahrianto

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait