Makro 09 Jul 2025 Penulis: Yunila Wati Editor: Pramirvan Datu

Pasar Asia Masih Galau Hadapi Manuver Trump, IHSG Menguat

IHSG menguat 0,57 persen ke 6.943, didorong minat beli domestik. Namun pasar Asia beragam akibat retorika tarif Trump dan ketidakpastian geopolitik global.

IHSG ditutup naik 0,57 persen di 6.943, sektor properti memimpin. Pasar Asia tertekan isu tarif Trump. Rupiah dan mata uang Asia kompak melemah.

Papan pantau di hall Bursa Efek Indonesia. (Foto: Dok KabarBursa)
Papan pantau di hall Bursa Efek Indonesia. (Foto: Dok KabarBursa)

Daftar Isi

  1. 01 Peta Pasar Asia Beragam
  2. 02 Rupiah Lemah, Diikuti Yen, Ringgit Hingga Baht

KABARBURSA.COM - Pasar modal Indonesia menutup perdagangan hari Rabu, 9 Juli 2025, dengan semangat tinggi. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menanjak 39 poin atau 0,57 persen, mengakhiri sesi di level 6.943. 

Sentimen domestik cukup solid, tercermin dari nilai transaksi yang menembus Rp10,49 triliun dan volume perdagangan mencapai 262 juta lot saham. Pelaku pasar tampaknya cukup nyaman kembali masuk ke pasar setelah periode volatilitas beberapa waktu terakhir.

Di papan perdagangan, saham-saham seperti COIN, CDIA, IOTF, dan PSAT menjadi bintang utama dengan lonjakan harga yang menonjol. 

Saham IOTF bahkan menjadi yang paling aktif diperdagangkan hari ini, bersama dengan nama-nama besar seperti BRPT, PANI, BBRI, dan BBCA.

Hampir seluruh sektor bergerak di zona hijau, kecuali sektor teknologi yang sedikit terkoreksi 0,08 persen. Sebaliknya, sektor properti justru memimpin penguatan dengan kenaikan sebesar 1,69 persen.

Ini menjadi sebuah sinyal bahwa investor mulai melirik sektor berbasis domestik sebagai opsi pertumbuhan baru di tengah ketidakpastian global.

Peta Pasar Asia Beragam

Namun di luar negeri, peta pasar Asia terlihat jauh lebih dinamis. Sejumlah bursa di kawasan mencatatkan kinerja yang beragam, dipengaruhi oleh retorika perdagangan dari Presiden AS Donald Trump. 

Pasar kini dihantui tenggat waktu 1 Agustus, saat sejumlah negara seperti Jepang dan Korea Selatan harus mencapai kesepakatan dagang baru atau bersiap menghadapi tarif impor yang lebih tinggi.

Trump sempat memberi sinyal kompromi pada awal pekan dengan menyatakan bahwa sikapnya "tidak 100 persen tegas", tapi sehari kemudian narasinya berubah drastis. 

Ia menegaskan bahwa tidak akan ada perpanjangan tenggat, memperkuat kekhawatiran pasar bahwa ancaman tarif ini bukan sekadar manuver negosiasi semata.

Bursa Hong Kong menjadi salah satu yang paling terdampak, dengan indeks Hang Seng merosot lebih dari satu persen ke posisi 23.892. Di China daratan, Shanghai Composite dan Shenzhen Component juga melemah, sementara indeks CSI300 turun 0,18 persen. 

Sebaliknya, indeks di Jepang dan Korea Selatan mampu bertahan di zona hijau, dengan Nikkei 225 dan Kospi masing-masing naik 0,33 dan 0,60 persen. Taiwan dan India juga mencatatkan kenaikan moderat.

Harga tembaga berjangka AS melonjak lebih dari 10 persen setelah Trump menyinggung soal kemungkinan pengenaan bea masuk baru terhadap logam tersebut. Mengingat pentingnya tembaga dalam rantai pasok kendaraan listrik, pertahanan, dan infrastruktur energi, reaksi pasar terbilang cepat. 

Meski begitu, harga tembaga di bursa London dan Shanghai justru melemah, kemungkinan karena pelaku pasar masih menunggu kepastian implementasi kebijakan AS.

Rupiah Lemah, Diikuti Yen, Ringgit Hingga Baht

Di sisi lain, pasar mata uang Asia kembali diterpa tekanan. Rupiah melemah 0,32 persen ke Rp16.257 per dolar AS. Pelemahan juga terjadi pada yen, yuan, ringgit, hingga baht Thailand. Hanya dolar Australia yang menguat tipis terhadap greenback.

Dari rangkaian dinamika hari ini, bisa disimpulkan bahwa investor Asia berada dalam mode hati-hati. Ketidakpastian dari arah kebijakan AS membuat pasar kehilangan momentum untuk bergerak lebih agresif. 

Meski IHSG tampak percaya diri melanjutkan penguatan, tekanan eksternal masih menjadi faktor yang tak bisa diabaikan.

Satu hal yang kini menjadi kunci adalah kepastian. Baik soal arah kebijakan perdagangan global, data fundamental emiten, maupun sinyal dari bank sentral dunia. Tanpa itu, volatilitas bisa tetap menjadi teman dekat para investor untuk beberapa waktu ke depan.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait