Makro 08 May 2026 Penulis: Moh. Alpin Pulungan Editor: Syahrianto

Pasar Sudah Move On dari Perang, IHSG Kini Cari Sentimen Positif

Turunnya harga minyak dan harapan damai AS-Iran mulai meredakan tekanan fiskal serta memicu penguatan pasar saham global dan IHSG.

IHSG menguat setelah harga minyak turun di tengah harapan damai AS-Iran yang mulai meredakan tekanan pasar global.

IHSG menguat setelah harga minyak turun di tengah harapan damai AS-Iran yang mulai meredakan tekanan pasar global. Foto: Dok. KabarBursa.
IHSG menguat setelah harga minyak turun di tengah harapan damai AS-Iran yang mulai meredakan tekanan pasar global. Foto: Dok. KabarBursa.

KABARBURSA.COM — Pasar keuangan global mulai menunjukkan optimisme setelah harga minyak dunia akhirnya turun dari level psikologis USD100 per barel atau sekitar Rp1,7 juta. Penurunan ini terjadi di tengah harapan bahwa konflik Amerika Serikat dan Iran tidak berkembang menjadi krisis energi berkepanjangan.

Bagi Indonesia, kondisi tersebut menjadi kabar yang cukup melegakan. Selama beberapa pekan terakhir, lonjakan harga minyak dunia menjadi salah satu tekanan terbesar terhadap sentimen pasar, terutama karena berpotensi membebani fiskal negara dan mempersempit ruang stabilitas makroekonomi.

Riset Stockbit Sekuritas menilai de-eskalasi konflik menjadi faktor penting bagi pasar domestik. “Untuk pasar Indonesia sendiri, de-eskalasi konflik menjadi faktor penting, mengingat tingginya harga minyak dunia menjadi salah satu faktor risiko terbesar bagi kondisi fiskal dan makro yang selama ini membayangi pergerakan IHSG,” tulis Stockbit dalam risetnya yang diterima KabarBursa.com, Kamis, 7 Mei 2026.

Harga minyak Brent tercatat turun ke USD99,15 per barel atau sekitar Rp1,68 juta pada perdagangan Kamis, 7 Mei 2026. Pelemahan ini melanjutkan koreksi tajam 7,8 persen sehari sebelumnya setelah pemerintah Iran menyatakan tengah meninjau proposal perdamaian dari Amerika Serikat.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyebut Teheran akan segera memberikan respons resmi terhadap proposal tersebut. Bloomberg melaporkan jawaban Iran diperkirakan keluar dalam dua hari ke depan.

Pernyataan itu langsung direspons positif oleh pasar global. Investor mulai bertaruh jalur distribusi minyak dunia melalui Selat Hormuz dapat kembali normal jika kesepakatan tercapai.

Sepanjang pekan ini, Selat Hormuz menjadi titik panas setelah militer AS dan Iran terlibat aksi saling serang. Amerika Serikat sebelumnya mengklaim menghancurkan enam kapal militer kecil Iran dalam operasi pengawalan kapal-kapal di kawasan tersebut.

Sebaliknya, Iran disebut menyerang pelabuhan minyak di Uni Emirat Arab yang menampung pangkalan militer AS. Konflik itu sempat memicu kekhawatiran besar karena Selat Hormuz merupakan jalur vital distribusi minyak global.

Namun, sentimen mulai berubah setelah Presiden Donald Trump mengatakan AS akan menghentikan sementara operasi pengawalan kapal untuk memberi ruang finalisasi kesepakatan dengan Iran.

Meredanya tensi geopolitik langsung mengangkat pasar saham dunia. Bursa Asia menghijau pada perdagangan Kamis dengan indeks Nikkei Jepang melonjak 5,58 persen, Hang Seng Hong Kong naik 1,57 persen, Kospi Korea Selatan menguat 1,43 persen, dan IHSG naik 1,15 persen.

Sebelumnya, bursa AS juga reli cukup kuat. Indeks S&P 500 naik 1,46 persen dan Nasdaq melesat 2,02 persen, diikuti indeks Stoxx 50 Eropa yang menguat 2,52 persen.

Stockbit menilai kondisi pasar saat ini mencerminkan perilaku investor yang cenderung melakukan penyesuaian valuasi lebih cepat dibanding penyelesaian konflik secara resmi.

“Meski kondisi masih tetap cair dan risiko eskalasi konflik masih ada, historis menunjukkan bahwa pasar modal cenderung melakukan re-rating lebih cepat dibandingkan kesepakatan resolusi konflik,” tulis riset tersebut.

Bagi Indonesia, turunnya harga minyak memiliki arti yang jauh lebih besar dibanding sekadar sentimen pasar jangka pendek. Harga minyak yang terlalu tinggi berisiko memperbesar beban subsidi energi, menekan nilai tukar rupiah, serta meningkatkan tekanan inflasi domestik.

Karena itu, penurunan harga minyak di bawah USD100 mulai dipandang sebagai ruang napas baru bagi pasar dan fiskal Indonesia yang sebelumnya dihantui risiko lonjakan biaya energi global.

Meski begitu, situasi masih sangat dinamis. Investor kini menunggu langkah Iran dalam dua hari ke depan untuk memastikan apakah proposal perdamaian benar-benar akan membuka jalan menuju stabilisasi pasar energi global atau justru memicu gelombang ketidakpastian baru.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait