Makro 24 Jul 2025 Penulis: Moh. Alpin Pulungan Editor: Syahrianto

Pasokan Batu Bara PLTU di Amerika Diprediksi Cukup hingga 2026

EIA menyebut stok batu bara PLTU AS cukup untuk 90–120 hari operasi hingga 2026, meski pangsa listrik dari batu bara diperkirakan turun lagi.

Pasokan batu bara PLTU di AS diprediksi aman hingga 2026, dengan cadangan mencapai 124 juta ton dan penggunaan stabil meski tren dekarbonisasi berlanjut.

Operasi pertambangan batu bara terbuka di Amerika Serikat. Sumber: Unsplash via Stanford University.
Operasi pertambangan batu bara terbuka di Amerika Serikat. Sumber: Unsplash via Stanford University.

Daftar Isi

  1. 01 Peran Batu Bara dalam Listrik AS Masih Fluktuatif

KABARBURSA.COM – Laporan terbaru dari Badan Informasi Energi Amerika Serikat (EIA) memperkirakan bahwa pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batu bara di negara itu akan tetap memiliki stok yang cukup hingga akhir 2026. Proyeksi ini menjadi sinyal bahwa, setidaknya dalam jangka pendek, batu bara masih memegang peran penting dalam sistem kelistrikan AS.

Menurut perkiraan EIA, pada akhir Juni 2025, pembangkit listrik di AS menyimpan sekitar 124 juta ton batu bara di lokasi masing-masing. Jumlah itu cukup untuk mempertahankan operasional selama sekitar 93 hari, dengan asumsi konsumsi harian sebesar 1,3 juta ton.

Ukuran efisiensi dan keamanan pasokan batu bara di PLTU umumnya dihitung lewat metrik days of burn, yakni berapa hari suatu pembangkit bisa beroperasi dengan stok yang tersedia. EIA memperkirakan hingga akhir 2026, angka ini akan berada di kisaran 90 hingga 120 hari.

“Level ini sekitar satu bulan lebih tinggi dibanding rata-rata stok batu bara yang dimiliki pembangkit pada periode 2019 hingga 2022,” tulis EIA dalam proyeksinya, dikutip dari Reuters, Kamis, 24 Juli 2025. Artinya, PLTU kini jauh lebih siap menghadapi lonjakan permintaan maupun gangguan pasokan jangka pendek.

Peran Batu Bara dalam Listrik AS Masih Fluktuatif

Meskipun banyak negara berusaha meninggalkan energi fosil, laporan EIA menunjukkan bahwa penggunaan batu bara di AS belum benar-benar ditinggalkan. Dalam jangka pendek, porsi pembangkit listrik dari batu bara justru akan naik dari 16 persen pada 2024 menjadi 17 persen pada 2025, sebelum kemudian turun kembali ke 15 persen pada 2026.

Kenaikan ini diperkirakan terjadi karena sejumlah faktor, mulai dari naiknya harga gas alam, ketidakpastian proyek energi terbarukan, hingga kebutuhan menjaga kestabilan beban dasar (base load) kelistrikan di musim ekstrem.

Meski tren global mengarah pada dekarbonisasi, batu bara tetap menjadi sumber daya penyangga sistem energi Amerika dalam jangka pendek, baik sebagai cadangan energi maupun sebagai solusi ketika pembangkit hijau belum siap menjawab permintaan tinggi.

Situasi ini juga menjadi cerminan bagi banyak negara berkembang yang menghadapi dilema serupa, yakni menjaga pasokan energi tetap stabil sambil mendorong transisi ke sumber energi yang lebih bersih.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait