Makro 18 Sep 2025 Penulis: Pramirvan Datu Editor: Uslimin Usle

PBOC Suntik 487 Miliar Yuan, Suku Bunga Reverse Repo Tetap 1,40 Persen

People’s Bank of China (PBOC) menggelontorkan likuiditas senilai 487 miliar yuan, atau sekitar US$68,56 miliar

Bank Sentral China pada Kamis menegaskan keputusannya untuk mempertahankan biaya pinjaman reverse repurchase agreement (reverse repo) tenor tujuh hari

Ilustrasi Kawasan Sudirman. Foto: dok KabarBursa.com
Ilustrasi Kawasan Sudirman. Foto: dok KabarBursa.com

Daftar Isi

  1. 01 Sesuai Hasil Survei

KABARBURSA.COM - Bank Sentral China pada Kamis menegaskan keputusannya untuk mempertahankan biaya pinjaman reverse repurchase agreement (reverse repo) tenor tujuh hari, meskipun hanya beberapa jam sebelumnya The Federal Reserve Amerika Serikat memangkas suku bunga acuannya.

People’s Bank of China (PBOC) menggelontorkan likuiditas senilai 487 miliar yuan, atau sekitar US$68,56 miliar, melalui operasi pasar terbuka. Tingkat bunga reverse repo tujuh hari dipatok tetap di 1,40 persen, sama dengan operasi sebelumnya.

Instrumen reverse repo tujuh hari kini menjadi rujukan utama arah kebijakan moneter China. Terakhir kali PBOC memangkas suku bunga acuan tersebut terjadi pada Mei lalu, dengan penurunan sebesar 10 basis poin.

Sesuai Hasil Survei

China diperkirakan tak akan mengubah suku bunga pinjaman acuannya atau Loan Prime Rate (LPR) pada bulan ini. Jika benar, maka ini akan menandai bulan ketiga berturut-turut tanpa revisi tingkat bunga—suatu sinyal kehati-hatian di tengah ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.

LPR, yang menjadi patokan utama kredit bagi nasabah prioritas perbankan, ditetapkan tiap bulan oleh People’s Bank of China (PBOC) berdasarkan rata-rata penawaran dari 20 bank komersial papan atas.

Hasil survei Reuters terhadap 23 analis pasar pekan ini menunjukkan konsensus bulat: LPR tenor satu tahun dan lima tahun diperkirakan tidak akan berubah. Prediksi ini mencerminkan ekspektasi bahwa otoritas moneter masih menahan diri dari pelonggaran agresif.

Data ekonomi terkini dari China menunjukkan perlambatan momentum. Alih-alih membuka keran stimulus besar-besaran, bank sentral tampaknya akan lebih memusatkan perhatian pada kebijakan sektoral yang bersifat terarah. Tujuannya: menopang pertumbuhan tanpa menciptakan gelembung ekonomi.

Di sisi lain, kampanye anti-involution yang terus bergulir—yang menyasar kelebihan kapasitas industri dan tekanan persaingan tidak sehat—dianggap dapat menjadi alat tambahan dalam meredam tekanan deflasi yang membayangi perekonomian Negeri Tirai Bambu.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
PR
Redaktur Pelaksana

Pramirvan Datu

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait