Makro 19 Oct 2025 Penulis: Hutama Prayoga Editor: Tim Editorial

Pemerintah Beber Alasan Industri Mamin RI Sulit Tembus Pasar AS

Pasar AS dikenal sebagai pasar yang memberi perhatian lebih terhadap kesehatan konsumen.

Pasar AS dikenal sebagai pasar yang memberi perhatian lebih terhadap kesehatan konsumen.

Sejumlah peti kemas tersusun di salah satu sudut pelabuhan. Foto: Dok Kemendag.
Sejumlah peti kemas tersusun di salah satu sudut pelabuhan. Foto: Dok Kemendag.

KABARBURSA.COM - Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) membeberkan alasan industri makanan dan minuman (mamin) Indonesia sulit menembus pasar Amerika Serikat (AS).

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kemendag, Fajarini Puntodewi, mengatakan pasar AS dikenal sebagai pasar yang memberi perhatian lebih terhadap kesehatan konsumen.

Regulasi yang diterapkan lembaga seperti Food and Drug Administration (FDA) menuntut kepatuhan tinggi terhadap aspek label, kandungan gizi, bahan baku, hingga proses produksi.

"Ketika berbicara ekspor ke pasar AS, kita dihadapkan pada realitas yang cukup menantang, seperti berbagai regulasi ketat, standar keamanan pangan, serta dinamika persaingan global yang sangat tinggi,” ujar dia dalam keterangannya dikutip, Minggu, 19 Oktober 2025.

Puntodewi pun meyakinkan pelaku usaha Indonesia di bidang mamin untuk pantang menyerah menembus pasar AS. Pasalnya, mamin Indonesia memiliki keunggulan cita rasa dan diversifikasi produk bernilai tambah.

“Industri mamin Indonesia merupakan salah satu sektor unggulan yang terus tumbuh pesat. Kekayaan sumber daya alam, kearifan lokal, serta warisan makanan nusantara menjadikan produk kita memiliki daya tarik tersendiri di mata dunia," ungkapnya.

Disebutkan, banyak pelaku usaha kecil dan menengah yang memiliki produk luar biasa, tapi belum sepenuhnya memahami pentingnya sertifikat seperti FDA registration, nutrition facts labelling, hingga standar keamanan pangan seperti Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP) dan ISO 22000.

Hal-hal ini yang perlu didorong melalui forum bisnis seperti ini agar pelaku usaha mamin Indonesia mendapat informasi dan wawasan mengenai peluang menembus pasar AS berikut dengan regulasi yang berlaku di sana.


“Mari kita jadikan tantangan regulasi sebagai batu loncatan menuju profesionalisme yang lebih tinggi, dan memanfaatkan peluang sebesar-besarnya bagi produk Indonesia untuk berdiri sejajar dengan merek dunia. Dengan kolaborasi, ketekunan, dan semangat pantang menyerah, saya yakin cita rasa Indonesia akan terus menginspirasi dan dinikmati masyarakat dunia,” lanjut Puntodewi.
 

Perlu diketahui, AS merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia termasuk untuk produk mamin olahan. Pada 2024, ekspor produk makanan dan minuman Indonesia ke AS mencapai USD1,02 miliar atau 18,06 persen dari total ekspor mamin olahan Indonesia ke dunia.

Nilai tersebut meningkat sebesar 4,18 persen dibandingkan pada 2023. Sementara itu, ekspor produk mamin pada semester I 2025 sebesar USD512,63 juta atau meningkat sebesar 1,71 persen dibandingkan semester I-2024 yang mencapai USD504 juta.

Produk mamin Indonesia yang sudah banyak diekspor ke Amerika Serikat adalah udang kemasan (29,88 persen), nanas kemasan (7,42 persen), tuna kemasan (3,67 persen), biskuit manis (2,67 persen), gula-gula (1,78 persen) dan pasta (1,51 persen).

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
HU
Ass. Redaktur

Hutama Prayoga

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait