Makro 14 Feb 2026 Penulis: Pramirvan Datu Editor: Uslimin Usle

Pemerintah Perkuat Strategi Hilirisasi: Stop Ekspor Bahan Mentah Timah

Tahun lalu kita melarang ekspor bauksit. Tahun depan kita kaji komoditas lain, termasuk timah

ESDM) Bahlil Lahadalia mengisyaratkan langkah tegas: penghentian ekspor produk timah tengah dikaji.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menekankan pentingnya hilirisasi sebagai kunci agar nilai tambah
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menekankan pentingnya hilirisasi sebagai kunci agar nilai tambah

KABARBURSA.COM - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengisyaratkan langkah tegas: penghentian ekspor produk timah tengah dikaji. Tujuannya jelas. Memperkokoh fondasi ekonomi domestik dan mengakhiri ketergantungan pada ekspor bahan mentah.

Ia menegaskan, mentaera pengiriman komoditas h harus digantikan oleh ekspor produk bernilai tambah hasil hilirisasi di dalam negeri. Indonesia, kata dia, tidak boleh lagi puas menjadi pemasok bahan baku. Nilai ekonomi harus diproduksi dan dipanen di tanah sendiri.

“Tahun lalu kita melarang ekspor bauksit. Tahun depan kita kaji komoditas lain, termasuk timah,” ujarnya di Jakarta, Sabtu. Pernyataan itu bukan sekadar wacana, melainkan sinyal keberlanjutan strategi industrialisasi yang kini menjadi prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Hilirisasi, menurut Bahlil, adalah lokomotif pertumbuhan ekonomi nasional. Mesin yang dirancang untuk mengakselerasi transformasi struktural. Bukan hanya mempertebal angka ekspor, tetapi juga memperluas basis industri dan menciptakan efek berganda bagi perekonomian.

Ia mencontohkan kebijakan pelarangan ekspor bijih nikel pada 2018–2019. Dampaknya signifikan. Jika pada 2018–2019 total ekspor nikel hanya sebesar 3,3 miliar dolar AS, maka pada 2024 nilainya melonjak menjadi 34 miliar dolar AS—naik sepuluh kali lipat dalam kurun lima tahun. Lonjakan itu, tegasnya, menjadi katalis pertumbuhan yang lebih merata sekaligus membuka lapangan kerja baru.

Ke depan, opsi penghentian ekspor bahan mentah untuk komoditas lain, termasuk timah, akan terus dimatangkan. “Tidak boleh lagi kita ekspor barang mentah. Silakan bangun investasi hilirisasi di dalam negeri,” ujarnya dalam forum Indonesia Economic Outlook di Jakarta, Jumat.

Langkah tersebut sejalan dengan penetapan 18 proyek hilirisasi sebagai prioritas nasional 2026 oleh Presiden Prabowo Subianto, dengan total investasi mencapai Rp618 triliun. Proyek-proyek itu mencakup sektor strategis: hilirisasi bauksit, nikel, gasifikasi batu bara, hingga pembangunan kilang minyak. Semuanya diarahkan untuk memperkuat substitusi impor dan memperdalam struktur industri nasional.

Produk hilirisasi diharapkan menjadi pengganti barang impor. Pasarnya sudah ada. Captive market domestik menjadi daya tarik tersendiri bagi investor dan lembaga pembiayaan.

Bahlil pun mengajak investor nasional, termasuk perbankan, untuk berpartisipasi aktif mendanai proyek strategis tersebut. Ia mengingatkan agar nilai tambah hilirisasi tidak justru didominasi pihak luar akibat minimnya dukungan pembiayaan dalam negeri.

Dalam proyeksi jangka panjang hingga 2040, program hilirisasi lintas sektor diperkirakan mampu mendatangkan investasi hingga 618 miliar dolar AS. Sebanyak 498,4 miliar dolar AS diproyeksikan berasal dari subsektor mineral dan batu bara, sementara 68,3 miliar dolar AS dari minyak dan gas bumi.

Lebih jauh lagi, hilirisasi diperkirakan berpotensi menciptakan nilai ekspor sebesar 857,9 miliar dolar AS, menyumbang PDB 235,9 miliar dolar AS, serta membuka lebih dari 3 juta lapangan kerja. Sebuah agenda ambisius. Dan pertaruhannya besar: kedaulatan ekonomi di negeri yang kaya sumber daya.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
PR
Redaktur Pelaksana

Pramirvan Datu

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait