KABARBURSA.COM — Setahun lalu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump yakin perang tarif bakal membuat China melunak. Namun menjelang kunjungannya ke Beijing pekan ini, situasinya justru berbalik. China dinilai kini memegang posisi tawar yang lebih kuat, sementara Trump datang dengan target yang jauh lebih sederhana.
Pertemuan Trump dan Presiden China Xi Jinping pada 14-15 Mei 2026 nanti menjadi yang pertama sejak keduanya menyepakati gencatan sementara perang dagang pada Oktober tahun lalu. Namun, ekspektasi pasar terhadap hasil pertemuan ini tidak lagi sebesar sebelumnya.
Alih-alih membawa kemenangan besar, Trump diperkirakan hanya mengejar sejumlah kesepakatan terbatas seperti ekspor kedelai, daging sapi, hingga pesawat Boeing. Di saat bersamaan, Trump juga membutuhkan bantuan Beijing untuk meredakan konflik Iran yang mulai membebani posisi politiknya di dalam negeri.
“Trump sekarang seperti lebih membutuhkan China dibanding China membutuhkan dia,” kata Profesor Kebijakan Luar Negeri China Universitas Hong Kong, Alejandro Reyes, dikutip dari Reuters, Selasa, 12 Mei 2026.
Menurut Reyes, Trump membutuhkan kemenangan politik luar negeri untuk menunjukkan bahwa dirinya mampu menciptakan stabilitas global, bukan sekadar memicu kekacauan geopolitik. Situasi ini menjadi kontras dibanding sikap Trump pada April 2025 lalu ketika ia sesumbar perang tarif akan mengakhiri era China “memanfaatkan” Amerika Serikat.
Namun kebijakan tarif tinggi justru memicu serangan balik dari Beijing. China membatasi ekspor rare earth atau logam tanah jarang yang selama ini menjadi komponen penting industri kendaraan listrik, semikonduktor, hingga persenjataan Barat. Langkah tersebut memperlihatkan betapa bergantungnya Amerika Serikat dan sekutunya terhadap rantai pasok China.
Di sisi lain, Trump juga mulai kehilangan ruang manuver. Selain sibuk menghadapi gugatan hukum terkait tarif impor, ia kini menghadapi tekanan politik akibat perang Iran yang memicu lonjakan harga energi global.
Survei Reuters/Ipsos bulan lalu menunjukkan lebih dari 60 persen warga Amerika Serikat tidak menyetujui perang Iran yang dijalankan Trump. Kondisi ini membuat posisi Trump dalam perundingan melemah. Bahkan, China kini dinilai memiliki lebih banyak kartu negosiasi dibanding sebelumnya.
Selain tanah jarang atau rare earth, Beijing mulai memperkuat instrumen tekanan ekonominya dengan memperketat lisensi ekspor dan menerapkan aturan baru terhadap perusahaan asing yang mencoba memindahkan rantai pasok keluar dari China. Sementara itu, Trump justru membutuhkan stabilitas menjelang pemilu paruh waktu November mendatang.
Dalam lawatan kali ini, Trump dijadwalkan menghadiri pertemuan besar di Great Hall of the People, jamuan kenegaraan, hingga tur bersama Xi Jinping di Temple of Heaven di Beijing.
Namun di balik kemegahan diplomatik itu, hasil konkret yang diperkirakan muncul dinilai relatif terbatas. Bahkan, belum ada kepastian apakah kedua negara akan memperpanjang gencatan perang dagang yang saat ini masih rapuh.
Trump juga membawa sejumlah bos perusahaan besar Amerika Serikat seperti Elon Musk dari Tesla dan Tim Cook dari Apple. Namun delegasi bisnis yang ikut disebut lebih kecil dibanding kunjungan Trump ke Beijing pada 2017.
Selain isu perdagangan, Trump disebut akan membahas Taiwan hingga kasus pengusaha media Jimmy Lai yang dipenjara di Hong Kong. Namun justru isu Taiwan diperkirakan menjadi agenda paling sensitif bagi Beijing.
China disebut ingin Amerika Serikat memberikan sinyal lebih jelas bahwa Washington tidak mendukung kemerdekaan Taiwan. Sedikit perubahan bahasa diplomatik saja dinilai bisa mengguncang posisi Taiwan dan sekutu Amerika Serikat di Asia.
Profesor Universitas Fudan Shanghai, Wu Xinbo, mengatakan Trump perlu menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak mendukung agenda separatis Taiwan. Di sisi ekonomi, China juga disebut ingin Amerika Serikat menghentikan pembatasan ekspor teknologi, termasuk peralatan chip dan semikonduktor canggih.
Situasi ini membuat banyak analis melihat pertemuan Trump-Xi lebih berpotensi menghasilkan “gencatan dangkal” dibanding solusi besar. “Yang paling mungkin terjadi hanyalah gencatan senjata superfisial yang sebagian besar menguntungkan China,” kata analis Center for Strategic and International Studies, Scott Kennedy.(*)