Makro 19 Apr 2026 Penulis: Moh. Alpin Pulungan Editor: Syahrianto

Perang Iran Jadi Ujian Trump, Tekanan Ekonomi Mulai Terasa di Dalam Negeri

Perang Iran tekan ekonomi AS, harga energi naik dan inflasi meningkat, jadi ujian bagi kebijakan Donald Trump di dalam negeri.

Perang Iran picu tekanan ekonomi AS, harga energi naik dan inflasi meningkat, jadi ujian bagi kebijakan Trump di dalam negeri.

Perang Iran picu tekanan ekonomi AS, harga energi naik dan inflasi meningkat, jadi ujian bagi kebijakan Trump di dalam negeri. Foto; Dok. Xinhua
Perang Iran picu tekanan ekonomi AS, harga energi naik dan inflasi meningkat, jadi ujian bagi kebijakan Trump di dalam negeri. Foto; Dok. Xinhua

KABARBURSA.COM — Perang selama tujuh pekan melawan Iran belum mampu menjatuhkan rezim Teheran maupun memaksa mereka memenuhi seluruh tuntutan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Namun konflik ini justru membuka titik lemah yang selama ini jarang disorot, yakni tekanan ekonomi di dalam negeri.

Meski Iran sempat mengumumkan pembukaan kembali Selat Hormuz, dampak krisis energi sudah telanjur terasa. Gangguan jalur minyak global yang biasanya mengalirkan sekitar seperlima pasokan dunia mendorong lonjakan harga energi dan memperburuk tekanan ekonomi.

Trump sebelumnya melancarkan serangan bersama Israel pada akhir Februari dengan alasan ancaman keamanan, khususnya terkait program nuklir Iran. Namun situasi kini berbalik. Kenaikan harga bensin, inflasi, hingga penurunan tingkat persetujuan publik membuat tekanan domestik semakin kuat.

Iran memang terpukul secara militer. Namun negara itu berhasil menunjukkan kemampuannya memberikan dampak ekonomi global yang tidak sepenuhnya diperhitungkan oleh Washington.

Kenaikan biaya energi mulai dirasakan langsung oleh masyarakat Amerika. Meskipun AS tidak sepenuhnya bergantung pada jalur Selat Hormuz, lonjakan harga tetap menekan konsumen. Dana Moneter Internasional bahkan telah memperingatkan adanya risiko resesi global.

Tekanan politik pun ikut meningkat. Partai Republik menghadapi pertarungan ketat menjelang pemilu paruh waktu, sementara publik mulai mempertanyakan keberlanjutan perang yang tidak populer.

Di sisi lain, Iran memanfaatkan posisinya di jalur strategis tersebut untuk mendorong Amerika kembali ke meja perundingan. Negara-negara rival seperti China dan Rusia juga dinilai mulai membaca pola yang sama.

Sejumlah analis menilai Trump cenderung mengandalkan kekuatan militer, tetapi segera mencari jalan diplomasi ketika tekanan ekonomi di dalam negeri mulai terasa. “Trump merasakan tekanan ekonomi, yang menjadi titik lemah utamanya dalam perang ini,” ujar Brett Bruen, mantan penasihat kebijakan luar negeri, dikutip dari Reuters, Ahad, 19 April 2026.

Pemerintah AS sendiri menegaskan tetap berupaya menyeimbangkan kebijakan. Gedung Putih menyebut fokus pada stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi tetap berjalan seiring upaya penyelesaian konflik.

Namun tekanan nyata sudah mulai terlihat di berbagai sektor. Petani AS ikut terdampak akibat terganggunya pasokan pupuk, sementara biaya perjalanan udara meningkat karena kenaikan harga bahan bakar.

Perubahan arah kebijakan Trump dari serangan militer ke jalur diplomasi juga tidak lepas dari tekanan pasar keuangan dan basis pendukungnya sendiri. Langkah ini mencerminkan upaya untuk meredam dampak ekonomi yang semakin meluas.

Meski sempat ada tanda positif setelah Iran membuka kembali jalur pelayaran, ketidakpastian masih tinggi. Para analis memperingatkan dampak ekonomi dari konflik ini bisa berlangsung lama, bahkan jika perang berakhir dalam waktu dekat.

Di tengah situasi ini, sekutu Amerika mulai menunjukkan kekhawatiran. Keputusan Trump yang dinilai tidak terkoordinasi memicu ketidakpastian geopolitik, baik di Eropa maupun Asia.

“Alarm bagi sekutu saat ini adalah bagaimana perang ini menunjukkan bahwa pemerintahan dapat bertindak tidak terduga tanpa banyak mempertimbangkan konsekuensi,” kata Gregory Poling.

Pada akhirnya, konflik ini bukan hanya soal militer atau geopolitik. Ia juga menjadi ujian bagi kemampuan pemerintah Amerika dalam menyeimbangkan ambisi luar negeri dengan stabilitas ekonomi di dalam negeri.

“Dia sadar bahwa sebagian besar masyarakat, bahkan sebagian pendukungnya sendiri, menentang kebijakan ini. Dan harga dari keputusan itu pada akhirnya akan dibayar,” ujar analis politik Chuck Coughlin.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait