Makro 19 Apr 2026 Penulis: Hutama Prayoga Editor: Tim Editorial

Prediksi Harga Emas Pekan Depan, Logam Mulia Bisa Tembus Rp3 Juta per Gram

Ibrahim memperkirakan jika terdapat tekanan jual pada pekan depan, level support pertama untuk emas dunia berada di harga USD4.703 per troy ounce

Harga emas dunia maupun logam mulia diprediksi bergerak fluktuatif pada perdagangan pekan depan

Ilustrasi emas (Foto: Pixabay/Csaba Nagy)
Ilustrasi emas (Foto: Pixabay/Csaba Nagy)

KABARBURSA.COM - Harga emas dunia maupun logam mulia diprediksi bergerak fluktuatif pada perdagangan pekan depan. Hal ini dipengaruhi oleh sejumlah sentimen eksternal.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assu’aibi mengatakan pada perdagangan Sabtu, 18 April 2026 harga emas dunia ditutup di harga USD4.834 per troy ounce, sementara logam mulia berada di Rp2.868.000 per gram.

Ibrahim memperkirakan jika terdapat tekanan jual  di pekan depan, level support pertama   emas dunia berada di harga USD4.703 per troy ounce.

"Kemudian loga mulia support pertama itu di Rp2.838.000 per gram," ujar dia dalam keterangannya kepada media, Minggu, 19 April 2026.

Jika mengalami penurunan kembali, Ibrahim menyebut support kedua emas dunia berada di level USD4.441.000 per troy ounce. Sedangkan logam mulia bisa jeblok di bawah Rp2.800.000 atau tepatnya Rp2.785.000 per gram.

Namun demikian, skenario sebaliknya juga terbuka apabila harga emas global bisa menunjukkan penguatan. Ibrahim memproyeksikan level resistance pertama berada di harga USD4.945 per troy ounce.

"Kemudian untuk logam mulia itu ada kenaikan sekitar Rp30.000.000 jadi ke level Rp2.898.000," terang dia.

Jika penguatan berlanjut, harga emas dunia berpotensi menembus USD5.152 per troy ounce.  Sejalan dengan itu, logam mulia diperkirakan  menyentuh harga Rp3.100.000 per gram.

Selain faktor teknikal, pergerakan harga emas juga dipengaruhi oleh sejumlah sentimen global. Ibrahim menekankan setidaknya dua faktor utama yang menjadi pendorong fluktuasi, antara lain geopolitik hingga kebijakan The Fed.

Dari sisi geopolitik, ketegangan di Eropa Timur  antara Ukraina dan Rusia kembali memanas. Ibrahim menyampaikan, ketegangan kembali terjadi setelah serangan drone Ukraina menyasar kilang-kilang minyak Rusia, memicu kebakaran besar dan meningkatkan tensi dengan negara-negara NATO yang mendukung Ukraina.

"Ini sangat krusial, kemungkinan besar membuat ketegangan di Eropa Timur semakin tinggi," kata dia.

Faktor geopolitik lainnya ialah konflik Timur Tengah. Ibrahim membeberkan gencatan senjata sementara selama 10 hari antara Lebanon dan Israel membawa dampak positif.

Di saat yang sama, arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) juga menjadi perhatian. Menurut Ibrahim, pergantian pejabat serta potensi perubahan arah suku bunga dinilai dapat memicu pelemahan dolar AS.  (*)


 

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
HU
Ass. Redaktur

Hutama Prayoga

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait