Makro 05 Apr 2026 Penulis: Hutama Prayoga Editor: Tim Editorial

Prediksi Harga Emas Pekan Depan, Pengamat: Berpotensi Pecah Telur

Kenaikan ini tidak lepas dari faktor eksternal, terutama pergerakan nilai tukar rupiah yang diperkirakan melemah hingga Rp17.120 per dolar AS.

Harga emas dunia diprediksi masih akan bergerak volatil pada perdagangan pekan depan.

Ilustrasi emas (Foto: Pixabay/Csaba Nagy)
Ilustrasi emas (Foto: Pixabay/Csaba Nagy)

KABARBURSA.COM – Harga emas dunia diprediksi masih akan bergerak volatil pada perdagangan pekan depan. Hal ini tidak lepas karena potensi penguatan dolar Amerika Serikat (AS).

Pengamat ekonomi, mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan skenario koreksi harga emas pada pekan depan diperkirakan akan menguji level support pertama di USD4.543 per troy ons.

"Dengan harga logam mulia berpotensi turun ke Rp2.827.000 per gram," ujar dia dalam keterangannya, Minggu, 5 April 2026.

Jika tekanan berlanjut, Ibrahim memprediksi  support berikutnya harga emas berada di USD4.358 per troy ons, yang dapat mendorong harga emas batangan turun hingga Rp2.780.000 per gram.

"Jadi kemungkinan besar dalam minggu depan seandainya terjadi koreksi terhadap harga emas kemungkinan di bawah Rp2.800.000, tepatnya di Rp2.780.000 rupiah per gram," katanya. 
 

Meski demikian, peluang penguatan masih terbuka. Untuk sisi atas, harga emas global diperkirakan menghadapi resistance pertama di USD4.878 per troy ons, yang dapat mendorong harga logam mulia naik ke kisaran Rp2.890.000 per gram.

Jika momentum kenaikan berlanjut, resistance berikutnya berada di USD5.080 per troy ons. Pada level ini, harga logam mulia domestik berpotensi menembus Rp3.000.000 per gram, yang disebut sebagai titik psikologis baru bagi pasar emas.

“Pekan depan ada potensi ‘pecah telur’, di mana harga logam mulia bisa menyentuh Rp3 juta per gram,” jelasnya.

Menurut Ibrahim, Kenaikan ini tidak lepas dari faktor eksternal, terutama pergerakan nilai tukar rupiah yang diperkirakan melemah hingga Rp17.120 per dolar AS. Pelemahan rupiah dipicu oleh penguatan dolar AS di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, serta lonjakan harga minyak dunia.

Ibrahim menjelaskan kondisi tersebut mendorong kebutuhan dolar AS Indonesia meningkat, terutama untuk impor minyak yang mencapai sekitar 800.000 hingga 900.000 barel per hari. Tekanan ini pada akhirnya memperlemah rupiah dan turut mengerek harga emas domestik.

"Karena pada saat dolar menguat, harga minyak menguat, berarti pemerintah harus mempersiapkan dolar yang cukup besar," pungkasnya. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
HU
Ass. Redaktur

Hutama Prayoga

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait