Makro 21 Aug 2025 Penulis: Yunila Wati Editor: Pramirvan Datu

Prospek Cerah, Sektor Perbankan jadi Pilihan di Tengah Tekanan Suku Bunga dan Modal Asing

Sektor perbankan 2025 diwarnai penurunan bunga BI, risiko pajak, dan arus keluar modal asing, namun saham BCA, Mandiri, BNI, dan BTN tetap direkomendasikan BUY oleh analis.

Saham bank 2025 masih prospektif. BCA, Mandiri, BNI, dan BTN direkomendasikan BUY meski ada tekanan suku bunga, risiko pajak, dan outflow asing.

Ilustrasi sektor perbankan Indonesia. Foto: AI untuk KabarBursa.
Ilustrasi sektor perbankan Indonesia. Foto: AI untuk KabarBursa.

KABARBURSA.COM - Sektor perbankan Indonesia tengah memasuki fase transisi yang menarik, diwarnai penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) serta dinamika pertumbuhan kredit dan dana pihak ketiga (DPK). 

Bank Indonesia telah menurunkan bunga acuan sebanyak empat kali sepanjang 2025, dengan penyesuaian terakhir sebesar 25 basis poin ke level 5,0 persen. 

Jika Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mengikuti langkah ini pada September mendatang, biaya dana (cost of fund/CoF) berpotensi ditekan, sehingga net interest margin (NIM) perbankan bisa tetap terjaga.

Namun, di balik kabar baik itu, tantangan besar juga membayangi. Pertumbuhan kredit pada Juli 2025 hanya mencapai 7,03 persen, yang merupakan level terlemah dalam lebih dari tiga tahun terakhir.

DPK tumbuh sama tipisnya, yakni 7,0 persen, dengan dorongan utama berasal dari belanja pemerintah. Lemahnya penyaluran kredit mengindikasikan bahwa permintaan dari sektor riil belum sepenuhnya pulih, sementara bank masih berhati-hati menghadapi potensi risiko kualitas aset.

Risiko tambahan muncul dari kebijakan fiskal. Pemerintah menargetkan kenaikan pendapatan negara sebesar 9,8 persen untuk 2026, dengan peningkatan pajak hingga 13,5 persen. 

Tekanan fiskal ini bisa berdampak pada dunia usaha dan rumah tangga. Permintaan kredit kemungkinan menurun karena daya beli melemah, bank dipaksa menawarkan bunga deposito lebih tinggi untuk menjaga likuiditas, dan pada akhirnya potensi kredit bermasalah (NPL) meningkat, khususnya di sektor UMKM dan rumah tangga.

Tekanan lain datang dari arus modal asing. Per 19 Agustus 2025, sektor perbankan mencatat net outflow sebesar Rp34,6 triliun. Bank besar seperti BBCA mengalami aliran keluar Rp17,9 triliun, BMRI Rp12,7 triliun, dan BBRI Rp2,2 triliun. 

Meski demikian, tidak semua cerita bernuansa negatif. Beberapa bank syariah justru menarik minat investor asing, dengan BRIS membukukan inflow Rp1,4 triliun dan BTPS Rp270 miliar, menandakan adanya optimisme pada pertumbuhan industri perbankan syariah.

Dari sisi valuasi, perbandingan price-to-book value (PBV) dan return on equity (ROE) menggambarkan lanskap yang menarik. Grafik matriks PBV-ROE menempatkan BCA sebagai bank dengan valuasi premium sekaligus efisiensi tinggi, mencerminkan posisi dominannya di industri. 

ROE BCA mencapai 21,4 persen, tertinggi di sektor ini, membuat rekomendasi “BUY” dengan target harga Rp11.900 menjadi rasional meski valuasi relatif mahal. BMRI menyusul dengan ROE 19,1 persen dan target harga Rp5.900, juga direkomendasikan “BUY” berkat fundamental solid dan prospek pertumbuhan kredit korporasi.

BBNI, meski masih berada di bawah dua bank besar tersebut, menunjukkan ROE 12,3 persen dengan valuasi yang lebih terjangkau. Target harga Rp4.800 menjadikannya pilihan bagi investor yang mencari potensi re-rating. Sementara itu, BBTN tetap menjadi cerita turnaround. 

Dengan ROE 9,8 persen, valuasinya relatif rendah, tetapi prospek tetap positif terutama jika tren penurunan suku bunga benar-benar mendorong sektor properti, sehingga target harga Rp1.400 cukup menjanjikan.

Bagi investor, sektor perbankan saat ini menghadirkan dualitas. Di satu sisi, ruang pertumbuhan terbuka lebar berkat tren penurunan bunga acuan yang dapat menjaga profitabilitas bank melalui NIM yang stabil. 

Namun di sisi lain, lemahnya pertumbuhan kredit, risiko kebijakan fiskal, dan aliran keluar modal asing memberi tekanan jangka pendek. Strategi yang paling rasional adalah fokus pada bank-bank besar dengan fundamental kuat seperti BCA dan Mandiri, sambil mempertimbangkan peluang revaluasi di BNI dan BBTN yang saat ini diperdagangkan dengan valuasi lebih murah.

Keseluruhan gambaran ini menunjukkan sektor perbankan tetap menjadi tulang punggung pasar modal Indonesia, meski investor harus cermat membaca keseimbangan antara potensi pertumbuhan dan risiko makroekonomi yang masih membayangi.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait