KABARBURSA.COM – Setelah resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2025, PT Pancaran Samudera Transport Tbk (PSAT) mulai mempersiapkan sejumlah langkah ekspansi guna menjaga pertumbuhan bisnis di tengah perlambatan industri batu bara. Perseroan membukukan pendapatan Rp1,07 triliun sepanjang tahun lalu dan menyiapkan enam strategi utama untuk memperkuat kinerja pada 2026.
Direktur Utama PSAT, Susanto, dalam paparan publik usai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), mengatakan tahun 2025 menjadi tonggak penting bagi perseroan setelah resmi melantai di Bursa Efek Indonesia melalui penawaran umum perdana saham (IPO).
"Perseroan berhasil melaksanakan IPO pada tahun 2025. Pencapaian ini menjadi fondasi untuk pertumbuhan yang lebih berkelanjutan di masa mendatang," ujar Susanto di Jakarta Utara, Rabu, 17 Juni 2026.
PSAT melantai di Bursa Efek Indonesia pada 8 Juli 2025. Emiten pelayaran yang melayani pengangkutan komoditas pertambangan dan energi itu membukukan pendapatan usaha sebesar Rp1,076 triliun pada 2025, meningkat 9,9 persen dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp980 miliar.
Pertumbuhan tersebut terjadi di tengah kondisi industri yang menantang. Direktur Keuangan PSAT, Wendy Arifin mengatakan perlambatan sektor pertambangan dan penggalian turut memengaruhi aktivitas usaha perusahaan.
"Di tengah kondisi tersebut, perusahaan tetap mampu mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 9,9 persen dibandingkan tahun 2024. Capaian ini menunjukkan bahwa kepercayaan pelanggan terhadap layanan perseroan tetap terjaga," kata Wendy.
Meski pendapatan meningkat, laba bersih perseroan turun drastis menjadi Rp23 miliar pada 2025 dari Rp242 miliar pada tahun sebelumnya. Laba bruto juga menyusut 55 persen dari Rp327,3 miliar menjadi Rp145,8 miliar, sedangkan laba usaha turun 91 persen menjadi Rp23 miliar.
Menurut Wendy, tekanan terhadap profitabilitas dipicu oleh kenaikan biaya operasional yang dilakukan perseroan untuk menjaga keberlangsungan layanan serta memastikan ketersediaan armada di tengah kebutuhan pasar yang dinamis.
"Kenaikan biaya tersebut merupakan konsekuensi dari kebijakan manajemen untuk memastikan ketersediaan armada, menjaga tingkat pelayanan kepada pelanggan, serta mempertahankan kesiapan operasional," ujarnya.
Manajemen memandang langkah tersebut sebagai investasi strategis jangka panjang untuk mempertahankan daya saing dan memperkuat hubungan dengan pelanggan.
Dari sisi neraca, total aset PSAT naik 12 persen menjadi Rp1,68 triliun dari Rp1,5 triliun pada 2024. Peningkatan itu terutama berasal dari kenaikan aset tidak lancar berupa penambahan armada kapal. Sementara ekuitas perseroan meningkat 9,9 persen menjadi Rp1,29 triliun, ditopang oleh tambahan modal hasil IPO.
Sepanjang 2025, PSAT mengoperasikan armada yang terdiri atas 30 tongkang, 35 kapal tunda, serta empat bulk carrier. Perseroan juga memiliki bisnis galangan kapal melalui PT Pancaran Samudera Shipyard dan bisnis kepemilikan kapal melalui PT Pancaran Karya Shipping.
Realisasi Dana IPO
Perseroan memperoleh dana bersih IPO sebesar Rp193,27 miliar setelah dikurangi biaya emisi sebesar Rp6,84 miliar. Hingga akhir periode pelaporan, dana tersebut telah terealisasi seluruhnya.
Sebesar Rp175 miliar digunakan untuk pembelian kapal melalui anak usaha PT Pancaran Karya Shipping, sedangkan Rp18,27 miliar dialokasikan untuk pembelian bahan bakar operasional. Laporan penggunaan dana tersebut telah disampaikan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Wendy menjelaskan produksi batu bara nasional turun menjadi sekitar 790 juta ton pada 2025 dari 836 juta ton pada 2024 atau turun sekitar 5,5 persen. Penurunan itu dipengaruhi normalisasi permintaan global, fluktuasi harga batu bara, serta meningkatnya agenda transisi energi di sejumlah negara tujuan ekspor.
Pemerintah juga mengindikasikan kebijakan pengendalian produksi guna menjaga keseimbangan pasokan dan mendukung transisi energi nasional.
Untuk 2026, target produksi batu bara nasional diproyeksikan turun menjadi sekitar 600 juta ton atau lebih rendah 24,1 persen dibanding target tahun sebelumnya. Selain itu, belum rampungnya revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara turut menahan aktivitas produksi dan distribusi pada awal tahun.
Memasuki kuartal I-2026, perseroan juga menghadapi kenaikan harga bahan bakar akibat ketegangan geopolitik global yang memberikan tekanan terhadap industri jasa penunjang pertambangan dan logistik.
Siapkan Enam Strategi Pertumbuhan
Menghadapi tantangan tersebut, PSAT menyiapkan enam strategi utama untuk mendorong pertumbuhan pada tahun ini.
Strategi pertama ialah melakukan diversifikasi komoditas agar tidak hanya bergantung pada pengangkutan batu bara. Perseroan mulai membidik pengangkutan pasir silika, nikel, bauksit, dan wood pellet yang permintaannya terus meningkat seiring berkembangnya industri hilirisasi nasional.
Kedua, memperluas wilayah layanan dan basis pelanggan, terutama di kawasan Indonesia Timur. Ketiga, memperkuat hubungan dengan pelanggan melalui implementasi customer relationship management (CRM).
Strategi keempat adalah meningkatkan efisiensi melalui digitalisasi proses bisnis dan pelaporan. Kelima, menerapkan praktik operasional yang lebih efisien dan berkelanjutan. Adapun strategi keenam adalah memperkuat tata kelola perusahaan melalui penerapan prinsip good corporate governance (GCG).
Selain bisnis pelayaran, perseroan melihat prospek positif dari bisnis galangan kapal. Banyak armada kapal tunda dan tongkang yang dibangun pada masa booming komoditas satu dekade lalu kini memasuki siklus perawatan besar atau major docking cycle.
"Kondisi tersebut menciptakan peluang yang menarik bagi bisnis shipyard perseroan hingga beberapa tahun ke depan," kata Wendy.
Manajemen optimistis, dengan fundamental operasional yang terjaga, jaringan operasional yang tersebar di Kalimantan dan Sulawesi, serta diversifikasi usaha yang terus dilakukan, PSAT memiliki kapasitas untuk mempertahankan pertumbuhan dan memperbaiki profitabilitas ketika kondisi industri mulai pulih.(*)