Makro 06 Jun 2026 Penulis: Harun Rasyid Editor: Tim Editorial

Purbaya: Penerimaan Bea dan Cukai Rp123,8 Triliun, Aktivitas Manufaktur Meningkat

Realisasi tersebut sekitar 36,8 persen dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Penerimaan kepabeanan dan cukai hingga Mei 2026 mencapai Rp123,8 triliun atau 36,8 persen dari target APBN

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (kiri) dalam agenda APBNKita (Foto: Dok. Kabarbursa.com/Harun Rasyid)
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (kiri) dalam agenda APBNKita (Foto: Dok. Kabarbursa.com/Harun Rasyid)

KABARBURSA.COM - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan realisasi penerimaan kepabeanan dan cukai hingga Mei 2026 mencapai Rp123,8 triliun.

Realisasi tersebut sekitar 36,8 persen dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). 

Menurut Purbaya, realisasi penerimaan kepabeanan dan cukai Mei tahun ini menunjukkan sinyal pemulihan dengan pertumbuh 0,7 persen secara akumulatif.

"Bea cukai naik 0,7, sudah positif dua bulan berturut-turut. Nanti akan naik lagi lebih bagus," ujarnya dalam APBN KiTa di Kantor Kemenkeu, Jumat 5 Juni 2026.

Pada April 2026, realisasi penerimaan kepabeanan dan cukai secara akumulatif mencapai 0,6 persen dengan nilai Rp100,6 triliun. 

Bendahara negara tersebut menyatakan, cukai tumbuh didorong peningkatan produksi hasil tembakau pada triwulan I (Januari-Maret) 2026.

Hal ini menepis rumor produksi tembakau yang mengalami penurunan.

"Ada yang bilang ke saya turun tuh. Padahal kebijakan kita enggak kita naikin cukainya. Jadi harusnya naik," kata Purbaya.

Adapun besaran penerimaan cukai hingga Mei 2026 mencapai Rp90,4 triliun atau tumbuh 0,2 persen secara tahunan. Mei 2025 nilainya sebesar Rp90,3 triliun.

Kemudian data Kemenkeu melaporkan, bea masuk masih terjaga pertumbuhannya. Hal ini didorong peningkatan bea masuk dari impor bahan baku dan bahan penolong dengan pertumbuhan sebesar 10,67 persen.

"Artinya ini menunjukkan aktivitas manufaktur meningkat di sini. Kalau enggak, ini enggak akan tumbuh. Jadi ini sejalan dengan angka PDB besar yang ekonomi sedang tumbuh," kata Purbaya.

Untuk bea masuk, hingga Mei 2026 tercatat sebesar Rp21,5 triliun atau tumbuh 9,7 persen secara tahunan.

Sedangkan bea keluar hingga Mei 2026 yang tercatat sebesar Rp11,9 triliun, terkoreksi 8,9 persen dibanding tahun lalu yang mencapai Rp13 triliun.

Purbaya menyebut, bea keluar sejauh ini masih terkontraksi meskipun mulai mengalami perbaikan yang sejalan dengan penguatan harga CPO (Crude Palm Oil) pada Maret hingga Mei 2026. 

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
HA
Jurnalis

Harun Rasyid

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait