Makro 19 Feb 2026 Penulis: KabarBursa.com Editor: Yunila Wati

RDG Februari 2026, BI Waspadai Perlambatan Ekonomi Global

Kondisi tersebut membuat arus modal global bergerak lebih selektif dan condong ke aset jangka pendek maupun instrumen safe haven.

Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan Bank Indonesia pada 18–19 Februari 2026 menyoroti meningkatnya ketidakpastian global di tengah tren perlambatan ekonomi

Ekonomi Jepang dan kawasan Eropa cenderung melambat akibat turunnya ekspor dan lemahnya permintaan domestik. (Foto: Tangkapan Layar BI)
Ekonomi Jepang dan kawasan Eropa cenderung melambat akibat turunnya ekspor dan lemahnya permintaan domestik. (Foto: Tangkapan Layar BI)

KABARBURSA.COM - Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan Bank Indonesia pada 18–19 Februari 2026 menyoroti meningkatnya ketidakpastian global di tengah tren perlambatan ekonomi dunia. 

Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan pertumbuhan ekonomi global diperkirakan turun dari 3,3 persen pada 2025 menjadi 3,2 persen pada 2026 dengan kinerja yang makin beragam antarnegara.

“Prospek perekonomian global dalam tren melambat dengan ketidakpastian pasar keuangan yang tetap tinggi,” ujar Perry dalam konferensi pers hasil RDG secara daring.

Menurutnya, perlambatan dipengaruhi kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat serta berlanjutnya tensi geopolitik. Namun, ekonomi Negeri Paman Sam justru diperkirakan meningkat karena stimulus fiskal besar dan investasi teknologi, termasuk kecerdasan buatan. Sebaliknya, ekonomi Jepang dan kawasan Eropa cenderung melambat akibat turunnya ekspor dan lemahnya permintaan domestik.

Di Asia, pertumbuhan Tiongkok masih tertahan karena konsumsi rumah tangga belum kuat, sementara India menghadapi tekanan permintaan domestik dan sektor eksternal. Kondisi tersebut membuat arus modal global bergerak lebih selektif dan condong ke aset jangka pendek maupun instrumen safe haven.

Perry menambahkan, ketidakpastian global masih tinggi sehingga memerlukan kewaspadaan dan penguatan respons kebijakan untuk menjaga daya tahan ekonomi domestik.

Di tengah tekanan global, ekonomi Indonesia menunjukkan ketahanan. Pertumbuhan triwulan IV 2025 tercatat 5,39 persen (yoy), meningkat dari triwulan sebelumnya 5,04 persen. Kinerja ini terutama ditopang konsumsi rumah tangga dan investasi yang menguat berkat stimulus pemerintah serta sinergi kebijakan moneter dan fiskal.

“Pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik didukung permintaan domestik dan dampak positif berbagai stimulus kebijakan,” kata Perry.

RDG juga dihadiri perwakilan Kementerian Keuangan, yakni Wakil Menteri Keuangan Judah Agung, sebagai bagian koordinasi kebijakan menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Bank sentral menegaskan kewaspadaan tetap diperlukan karena risiko global diperkirakan berlanjut. 

Respons kebijakan yang kuat dinilai penting untuk melindungi ekonomi domestik dari rambatan eksternal sekaligus menjaga momentum pertumbuhan agar tetap berlanjut. (*)

 

Reporter: Nur Nadiyah

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
KA
KabarBursa.pro Editorial Team

KabarBursa.com

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait