Makro 18 Jul 2025 Penulis: Syahrianto Editor: Yunila Wati

Rekor Baru S&P 500 dan Nasdaq, Didorong Data Konsumen

Data penjualan ritel AS melonjak dan laporan keuangan PepsiCo hingga TSMC mendorong Nasdaq dan S&P 500 ke rekor baru, pasar yakin daya beli konsumen masih kuat.

S&P 500 dan Nasdaq cetak rekor baru usai data penjualan ritel AS naik tajam. Kinerja emiten seperti PepsiCo dan TSMC ikut dorong optimisme pasar.

Ilustrasi: Suasana dalam New York Stock Exchange atau Wall Street. (Foto: Wikimedia Commons)
Ilustrasi: Suasana dalam New York Stock Exchange atau Wall Street. (Foto: Wikimedia Commons)

KABARBURSA.COM – Indeks S&P 500 dan Nasdaq ditutup pada level tertinggi baru pada Kamis, 18 Juli 2025, setelah serangkaian data ekonomi dan laporan keuangan memperkuat keyakinan bahwa konsumen Amerika masih kuat dalam belanja. Ini menandai kali keenam Nasdaq mencetak rekor dalam tujuh sesi terakhir, sementara S&P 500 mencetak enam penutupan terbaik sejak 27 Juni.

Seperti dilansir Reuters, Nasdaq Composite naik 153,78 poin atau 0,74 persen ke posisi 20.884,27. Sementara itu, S&P 500 menguat 33,66 poin atau 0,54 persen menjadi 6.297,36. Dow Jones Industrial Average juga ditutup naik 229,71 poin atau 0,52 persen ke level 44.484,49.

Wall Street terus menunjukkan penguatan sejak sempat terpukul akibat pengumuman tarif impor oleh Presiden Donald Trump pada April lalu. Pekan ini menjadi momen penting untuk menguji kekuatan reli tersebut, seiring dimulainya musim laporan keuangan kuartal II dan rilis sejumlah data ekonomi utama.

“Data ekonomi dan laporan emiten menunjukkan bahwa latar belakang ekonomi masih cukup kuat. Pasar masih bisa naik perlahan dengan adanya dukungan data,” ujar Anthony Saglimbene, Kepala Strategi Pasar di Ameriprise Financial.

Penjualan ritel AS melonjak tajam pada Juni, memberikan sinyal baru soal momentum pemulihan ekonomi dan kepercayaan konsumen, meski sebelumnya data inflasi menunjukkan kontras antara harga produsen yang stagnan dan inflasi konsumen yang melonjak.

Investor kini memantau dampak kebijakan tarif Presiden Trump terhadap perekonomian AS. Bank Sentral AS (The Fed) masih menahan diri untuk memangkas suku bunga sampai terlihat dampak inflasi akibat kenaikan bea impor. Hal ini ditegaskan oleh Gubernur The Fed Adriana Kugler, yang menyatakan bahwa pemangkasan suku bunga belum menjadi opsi, karena tarif mulai mendorong naik harga barang konsumsi.

Menurut alat CME FedWatch, peluang pemangkasan suku bunga pada September berada di kisaran 54 persen, sementara kemungkinan untuk Juli nyaris tertutup.

Kenaikan penjualan ritel disambut positif oleh perusahaan-perusahaan konsumer di AS. Saham PepsiCo melesat 7,5 persen setelah merilis proyeksi kinerja yang optimistis, didukung permintaan terhadap minuman energi dan soda rendah gula, meski laba inti tahunan sempat diperkirakan menurun.

Saham United Airlines juga naik 3,1 persen setelah perusahaan maskapai tersebut memproyeksikan lonjakan permintaan sejak awal Juli. Ini menjadi titik terang langka bagi sektor penerbangan yang terdampak pemangkasan anggaran dan ketegangan dagang oleh Trump. Saham Delta dan American Airlines masing-masing ikut naik lebih dari 1,4 persen.

Saham teknologi turut terdongkrak, terutama emiten chip asal AS, setelah Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) mencatatkan laba kuartalan tertinggi sepanjang sejarah. TSMC menyebut permintaan chip kecerdasan buatan (AI) semakin meningkat.

Saham TSMC yang tercatat di bursa AS melonjak 3,4 persen, diikuti Marvell Technology naik 1,6 persen dan Nvidia naik 1 persen. Saglimbene dari Ameriprise menilai hasil kinerja TSMC menjadi sinyal kuat bagi prospek sektor chip dan teknologi secara keseluruhan.

“Sebelum kita menyambut laporan keuangan dari raksasa teknologi pekan depan, kita sudah melihat produsen utama chip AI mengonfirmasi bahwa permintaan sangat kuat. Jadi prospeknya positif, itu sebabnya sektor teknologi memimpin hari ini,” katanya.

Indeks sektor teknologi dan industri masing-masing juga mencetak rekor tertinggi pada Kamis. Namun, sektor keuangan menjadi penopang utama hari itu, dengan kenaikan 0,9 persen.

Saham Netflix naik 1,9 persen dan setelah penutupan perdagangan, perusahaan melaporkan laba di atas ekspektasi berkat kesuksesan musim terakhir dari serial global populer “Squid Game”. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
SY
Ass. Redaktur

Syahrianto

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait