KABARBURSA.COM – Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memproyeksikan mata uang Garuda berpotensi melemah hingga Rp18.150 per dolar Amerika Serikat pada pekan pertama Juni 2026. Proyeksi itu muncul di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik global dan potensi penguatan kembali indeks dolar AS.
Ibrahim menilai, tensi geopolitik di Timur Tengah masih menjadi faktor utama yang menahan penguatan rupiah.
“Untuk rupiah ada kemungkinan besar ini akan menuju Rp18.150 per dolar AS di minggu pertama di bulan Juni ini,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Minggu, 31 Mei 2026.
Tekanan terhadap rupiah sebenarnya bukan sekadar persoalan angka kurs semata. Ketika nilai tukar terus melemah, efek berantainya bisa menjalar ke inflasi, biaya impor, utang luar negeri, hingga sentimen investor di pasar keuangan domestik.
Kenaikan Harga Barang Impor
Salah satu risiko paling dekat yakni kenaikan harga barang impor. Indonesia masih memiliki ketergantungan cukup besar terhadap impor bahan baku, energi, pangan, hingga barang modal yang dibutuhkan industri.
Ketika dolar menguat dan rupiah melemah, biaya impor otomatis meningkat. Kondisi itu membuat pelaku usaha menghadapi kenaikan ongkos produksi yang pada akhirnya dapat diteruskan menjadi kenaikan harga barang di tingkat konsumen.
Tekanan seperti ini biasanya mulai terasa pada sektor yang sensitif terhadap impor. Industri farmasi, otomotif, elektronik, hingga sektor energi menjadi kelompok yang paling cepat merasakan dampak pelemahan kurs.
Pasar juga mulai menghitung potensi tekanan terhadap inflasi nasional. Ketika harga impor naik, ruang stabilitas harga menjadi semakin sempit, terutama jika kenaikan harga minyak mentah dunia ikut berlanjut akibat konflik geopolitik.
Kondisi tersebut dapat mempersulit langkah pemerintah dan Bank Indonesia menjaga daya beli masyarakat. Sebab kenaikan harga barang konsumsi akan langsung mempengaruhi pengeluaran rumah tangga.
Beban Pembayaran Bunga dan Pokok Utang
Selain inflasi, pelemahan rupiah juga meningkatkan tekanan terhadap perusahaan yang memiliki utang dalam denominasi dolar AS. Beban pembayaran bunga dan pokok utang menjadi lebih mahal ketika dikonversi ke rupiah.
Risiko ini biasanya menjadi perhatian besar investor pasar modal. Emiten dengan utang dolar besar berpotensi menghadapi kenaikan biaya keuangan dan penurunan margin laba jika tidak memiliki lindung nilai (hedging) yang kuat.
Tekanan kurs juga berpotensi mempengaruhi arus modal asing di pasar saham dan obligasi. Ketika dolar AS menguat dan indeks dolar atau DXY bergerak naik, investor global cenderung memindahkan dana ke aset berbasis dolar yang dianggap lebih aman.
Kenaikan Indeks Dolar AS
Ibrahim memperkirakan indeks dolar AS berpotensi bergerak di rentang 98,1 hingga 101 pada pekan depan. “Jadi akan kemungkinan melebar ya,” ujar dia.
Kenaikan indeks dolar biasanya membuat aset negara berkembang berada dalam tekanan. Rupiah termasuk salah satu mata uang yang sensitif terhadap perubahan arus modal asing dan sentimen global.
Pasar kini juga mulai memantau langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah. Intervensi pasar valas, penguatan instrumen moneter, hingga strategi menjaga aliran dana asing akan menjadi fokus utama pelaku pasar dalam beberapa pekan ke depan.
Di tengah kondisi tersebut, sektor berbasis ekspor justru berpotensi mendapatkan keuntungan kurs. Emiten yang memiliki pendapatan dominan dalam dolar AS dapat menikmati kenaikan nilai pendapatan ketika dikonversi ke rupiah.
Namun tekanan terhadap rupiah tetap menjadi sinyal penting bahwa pasar global belum sepenuhnya stabil. Selama tensi geopolitik dan penguatan dolar AS masih bertahan, volatilitas nilai tukar diperkirakan masih akan menjadi tantangan besar bagi pasar keuangan domestik.(*)