Makro 06 Nov 2025 Penulis: Hutama Prayoga Editor: Tim Editorial

Rupiah Ditutup Perkasa, Dipicu Sentimen dari The Fed

Analis mata uang Ibrahim Assuabi mengatakan penguatan rupiah hari ini dikarenakan meningkatnya spekulasi bahwa The Fed tidak akan memangkas suku bunga pada bulan Desember.

Analis mata uang Ibrahim Assuabi mengatakan penguatan rupiah hari ini dikarenakan meningkatnya spekulasi bahwa The Fed tidak memangkas suku bunga

Ilustrasi Mata Uang Garuda. Foto: Dok KabarBursa.com
Ilustrasi Mata Uang Garuda. Foto: Dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM - Mata uang rupiah ditutup menguat 16 poin ke level Rp16.701 pada perdagangan Kamis, 6 November 2025. Penguatan rupiah disebabkan sejumlah sentimen.

Analis mata uang Ibrahim Assuabi mengatakan penguatan rupiah hari ini dikarenakan meningkatnya spekulasi bahwa The Fed tidak akan memangkas suku bunga pada bulan Desember.

"Terutama setelah Ketua The Fed, Jerome Powell memperingatkan pemangkasan suku bunga pada bulan Desember bukanlah sesuatu yang pasti," ujar dia dalam keterangannya.

Ibrahim menyebut pelaku pasar lebih fokus pada data ekonomi swasta untuk mendapatkan petunjuk mengenai ekonomi Amerika Serikat (AS), karena penutupan pemerintah memasuki hari ke-36 dan menunda rilis beberapa data resmi utama.

"Data ekonomi yang kuat pada hari Rabu membuat para pedagang semakin menurunkan ekspektasi untuk pemangkasan suku bunga pada bulan Desember," ungkapnya.

Ibrahim mengatakan menurut CME Fedwatch, para pedagang memperkirakan peluang pemangkasan sebesar 25 basis poin pada bulan Desember sebesar 59,3 persen, turun dari 70,3 persen sehari sebelumnya.

Selain itu, menurut Ibrahim, sentimen juga datang terkait Departemen Perhubungan AS yang berencana untuk mulai memangkas penerbangan hingga 10 persen mulai Jumat di 40 bandara dengan volume tinggi di tengah kekhawatiran keselamatan akibat kurangnya pengontrol lalu lintas udara.

Ibrahim bilang, rencana pemangkasan ini muncul ketika penutupan pemerintah AS memasuki hari ke-36 berturut-turut, mengganggu layanan pemerintah di sebagian besar wilayah negara.

"Sekitar 13.000 pengontrol lalu lintas udara dan 50.000 agen keamanan transportasi telah bekerja tanpa bayaran akibat penutupan tersebut. Puluhan ribu penerbangan tertunda sejak penutupan dimulai, sementara kekurangan staf TSA juga menyebabkan kepadatan di bandara-bandara besar," pungkasnya.
 

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
HU
Ass. Redaktur

Hutama Prayoga

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait