Makro 21 May 2026 Penulis: Hutama Prayoga Editor: Tim Editorial

Rupiah Melemah ke Rp17.667, Pasar Soroti Aturan Ekspor Komoditas

Pelemahan rupiah dipicu meningkatnya kehati-hatian investor setelah pemerintah memperketat tata kelola ekspor komoditas

Rupiah ditutup melemah ke Rp17.667 per dolar AS pada 21 Mei 2026. Pasar menyoroti aturan ekspor baru Prabowo dan kenaikan suku bunga BI

Mata uang rupiah (Foto: Dok. KabarBursa)
Mata uang rupiah (Foto: Dok. KabarBursa)

KABARBURSA.COM - Nilai tukar rupiah ditutup melemah 13 poin ke level Rp17.667 terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis, 21 Mei 2026.

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemehan rupiah hari ini tidak lepas dari diperketatnya aturan ekspor komoditas utama.

"Investor menghindari risiko setelah Presiden Prabowo Subianto memperketat aturan ekspor komoditas utama, termasuk minyak sawit, batubara, dan ferroalloy, dengan mewajibkan pengiriman melalui satu eksportir milik negara," ujar dia dalam keterangannya.

Selain itu, Ibrahim menyampaikan kehati-hatian juga meningkat menjelang data neraca transaksi berjalan kuartal pertama yang akan dirilis.

Sentimen juga datang dari keputusan Bank Indonesia (BI) usai menaikkan suku bunga acuan atau BI rate sebesar 5,25 persen. Menurut Ibrahim, langkah BI ini telah ditimbang matang-matang, dan dilakukan sebagai langkah pre-emptive yang terukur untuk merespons dinamika ketidakpastian global.

"BI tentu berkepentingan untuk menjaga nilai tukar dan stabilitas rupiah. Meskipun langkah ini akan menimbulkan beban tambahan pada biaya pinjaman, Keputusan ini diharapkan dapat melindungi rupiah dari proses pelemahan yang lebih dalam," terangnya.

Ibrahim menilai, keputusan BI menaikkan suku bunga acuan, tidak hanya bekerja sebagai instrumen teknis untuk mengendalikan permintaan dan arus keluar modal. Tetapi, sekaligus juga menjadi upaya untuk memperoleh kembali kepercayaan.

"Dengan menaikan suku bunga acuan, BI ingin menyatakan bahwa posisi rupiah masih akan dijaga, ekspektasi inflasi tidak akan dibiarkan liar, dan otoritas moneter belum kehilangan kendali," jelasnya.

Lebih lanjut Ibrahim memandang, kenaikan suku bunga acuan ini memang dapat menahan proses pelemahan rupiah, tetapi pada saat yang sama sesungguhnya juga berisiko dapat mempermahal dana.

"Menekan kredit, mengerem investasi, dan memperberat cicilan dunia usaha maupun rumah tangga," tuturnya.

Adapun untuk perdagangan besok, Jumat, 22 Mei 2026, Ibrahim memprediksi mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif namun ditutup melemah di rentang  Rp17.660- Rp17.710. (*)

 

 

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
HU
Ass. Redaktur

Hutama Prayoga

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait