Makro 02 Sep 2025 Penulis: Syahrianto Editor: Yunila Wati

Saham Eropa Stabil, Obligasi Tekan Pasar Jelang Data AS

STOXX 600 naik tipis, obligasi Eropa tertekan, emas sentuh level tertinggi empat bulan, pasar tunggu data ketenagakerjaan AS

STOXX 600 naik tipis, obligasi Eropa tertekan, emas sentuh level tertinggi empat bulan, pasar tunggu data ketenagakerjaan AS

Ilustrasi: Layar yang menampilkan beberapa indeks saham dunia. (Foto: Open Grid Scheduler/Grid Engine)
Ilustrasi: Layar yang menampilkan beberapa indeks saham dunia. (Foto: Open Grid Scheduler/Grid Engine)

Daftar Isi

  1. 01 Obligasi Eropa di Bawah Tekanan
  2. 02 Komoditas Ikut Menguat

KABARBURSA.COM – Libur perdagangan di Wall Street pada Senin, 1 September 2025, membuat saham global bergerak bebas dengan arah masing-masing. Saham teknologi China menguat tajam, sementara saham Eropa stabil, sedangkan obligasi jangka panjang Eropa masih berada di bawah tekanan.

Dilansir Reuters, indeks STOXX 600 pan-Eropa terakhir naik 0,1 persen, setelah optimisme awal dari data manufaktur yang membaik mulai memudar. Di Asia, saham Alibaba di Hong Kong melonjak 18,5 persen setelah perusahaan menyebut kecerdasan buatan (AI) mendorong lonjakan pendapatan di bisnis komputasi awan.

Futures saham AS naik tipis. Fokus utama pasar minggu ini adalah data ekonomi AS, termasuk survei manufaktur, jasa, serta laporan ketenagakerjaan yang akan ditutup dengan rilis payrolls Agustus pada Jumat. 

Median perkiraan menunjukkan penambahan 75.000 pekerjaan, meski proyeksi bervariasi dari nol hingga 110.000 akibat ketidakpastian dari laporan Juli yang lemah. Tingkat pengangguran diperkirakan naik ke 4,3 persen.

“Pasar tenaga kerja adalah faktor utama jalur kebijakan The Fed. Banyak komentar menyebut pasar tenaga kerja mulai melemah sehingga membuka peluang pemangkasan suku bunga September, meski situasinya belum pasti,” ujar Samy Chaar, Kepala Ekonom Lombard Odier.

Prospek biaya pinjaman yang lebih rendah telah menjaga Wall Street dekat level tertinggi sepanjang masa, meskipun September secara historis merupakan bulan terburuk bagi S&P 500 dalam 35 tahun terakhir.

Kebijakan tarif AS juga menjadi perhatian setelah Pengadilan Banding memutuskan sebagian besar tarif impor era Trump ilegal, meski tetap berlaku hingga pertengahan Oktober menunggu banding ke Mahkamah Agung. 

Hal ini menimbulkan ketidakpastian pada perjanjian dagang yang sudah disepakati maupun yang sedang dinegosiasikan. Perundingan dengan Jepang terhambat soal beras, sementara negosiasi dengan Korea Selatan mengalami kebuntuan.

Investor juga mencermati serangan Trump terhadap independensi The Fed, dengan Gubernur Fed Lisa Cook dijadwalkan mengajukan argumen baru menentang pemecatannya pada Selasa.

Obligasi Eropa di Bawah Tekanan

Fokus lain investor Eropa adalah Prancis, di mana Perdana Menteri Francois Bayrou memulai rangkaian pembicaraan dengan partai-partai politik untuk mencegah jatuhnya pemerintah dalam mosi tidak percaya pekan depan, yang menurut oposisi hampir pasti gagal.

Pasar sempat stabil setelah aksi jual akibat pengumuman mosi tidak percaya, tetapi perkembangan lanjutan bisa kembali memicu sorotan pada kondisi keuangan Prancis. Selisih imbal hasil obligasi 10 tahun Prancis–Jerman sempat melebar tajam pekan lalu, namun terakhir stabil di 79 basis poin.

“Kemungkinan besar pemerintah gagal dalam mosi tidak percaya, yang bisa memicu ketidakpastian politik dan potensi pemilu dini. Kami mempertahankan pandangan negatif terhadap Prancis dan melihat spread bisa melebar ke level 90 basis poin,” kata Mohit Kumar, Kepala Ekonom Eropa di Jefferies.

Kekhawatiran fiskal di banyak negara juga mendorong kenaikan imbal hasil obligasi jangka panjang. Imbal hasil obligasi 30 tahun Jerman mencapai level tertinggi 14 tahun di 3,38 persen pada Senin, sementara obligasi acuan 10 tahun naik 3 basis poin ke 2,76 persen. 

Dengan pasar Treasury AS tutup karena libur, kenaikan imbal hasil Eropa mendorong euro menguat 0,25 persen menjadi USD1,1711.

Komoditas Ikut Menguat

Di pasar komoditas, emas diuntungkan pelemahan dolar dan prospek penurunan suku bunga. Emas naik 2,2 persen pekan lalu dan bertambah 1,1 persen ke posisi tertinggi empat bulan di USD3.489,5 per ons pada Senin.

Harga minyak juga menguat tipis. Brent naik 1 persen ke USD68,2 per barel meski pasar masih menimbang kekhawatiran kenaikan produksi serta dampak tarif AS terhadap permintaan, di tengah gangguan pasokan akibat serangan udara Rusia–Ukraina dan pelemahan dolar. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
SY
Ass. Redaktur

Syahrianto

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait