Makro 19 Jan 2026 Penulis: Syahrianto Editor: Yunila Wati

Spike Harga Emas dan Perak, ini Pemicunya!

Harga emas dan perak melonjak ke rekor tertinggi. Investor pun beralih ke aset safe haven.

Harga emas dan perak melonjak ke rekor tertinggi setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana tarif baru terhadap Eropa. Ketidakpastian geopolitik dan r

Ilustrasi: Sebongkah emas (gold nugget). (Foto: Pixabay/Csaba Nagy)
Ilustrasi: Sebongkah emas (gold nugget). (Foto: Pixabay/Csaba Nagy)

KABARBURSA.COM – Harga emas dan perak melonjak ke rekor tertinggi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana pengenaan tarif baru terhadap delapan negara Eropa. 

Langkah tersebut memicu kekhawatiran eskalasi perang dagang global dan mendorong investor beralih ke aset lindung nilai, seperti logam mulia.

Seperti dilansir Bloomberg, lonjakan harga terjadi setelah Trump menyatakan akan mengenakan tarif impor sebesar 10 persen terhadap sejumlah negara Eropa mulai 1 Februari, dengan rencana kenaikan tarif hingga 25 persen pada Juni mendatang. 

Kebijakan itu dikaitkan langsung dengan tekanan politik Amerika Serikat terkait proposal pengambilalihan Greenland, yang kembali memanaskan hubungan trans-Atlantik.

Kekhawatiran pasar meningkat seiring potensi aksi balasan dari Eropa. Sejumlah pejabat Uni Eropa disebut tengah menyiapkan langkah tandingan, termasuk opsi pengenaan tarif balasan terhadap produk Amerika Serikat senilai hingga EUR93 miliar atau sekitar USD108 miliar.

Presiden Prancis Emmanuel Macron juga dilaporkan mempertimbangkan penggunaan anti-coercion instrument, mekanisme perdagangan paling keras yang dimiliki Uni Eropa untuk merespons tekanan ekonomi eksternal. Langkah tersebut menandakan risiko eskalasi konflik dagang yang lebih luas.

Reli logam mulia kali ini tidak berdiri sendiri. Ketegangan tarif terbaru menambah daftar sentimen geopolitik dan kebijakan yang telah menopang kenaikan harga emas dan perak sepanjang 2025 hingga awal 2026. 

Pasar sebelumnya juga bereaksi terhadap kebijakan luar negeri agresif Amerika Serikat, termasuk intervensi di Venezuela serta pernyataan berulang Trump terkait niat mengambil alih Greenland.

Di sisi lain, tekanan terhadap Federal Reserve kembali mengemuka setelah pemerintahan Trump mengkritik arah kebijakan bank sentral. Kondisi ini memperkuat apa yang dikenal sebagai debasement trade, di mana investor mengurangi eksposur terhadap mata uang dan obligasi pemerintah karena kekhawatiran nilai riil aset keuangan tergerus oleh defisit dan utang yang membengkak.

Merujuk data perdagangan terbaru, harga emas spot naik 1,7 persen menjadi USD4.676,22 per ounce pada perdagangan pagi di Asia, setelah sempat menyentuh level tertinggi intraday di USD4.690,59 per ounce. 

Harga perak melonjak lebih tajam, naik 3,9 persen ke USD93,6305 per ounce, dengan level tertinggi harian mencapai USD94,1213 per ounce.

Logam mulia lain seperti platinum dan palladium juga mencatat penguatan. 

Sementara itu, indeks dolar Bloomberg (Bloomberg Dollar Spot Index) turun tipis 0,1 persen, mencerminkan tekanan di pasar mata uang akibat meningkatnya ketidakpastian kebijakan global. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
SY
Ass. Redaktur

Syahrianto

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait