Makro 21 May 2026 Penulis: Desty Luthfiani Editor: Syahrianto

SUPA Bukukan Laba Pra Pajak Rp142 Miliar hingga April 2026

SUPA catat laba pra pajak Rp142 miliar, kredit tumbuh 55 persen, Grab bakal kuasai lebih dari 50% persen saham.

SUPA bukukan laba pra pajak Rp142 miliar. Kredit, aset, dan DPK tumbuh pesat di tengah integrasi Grab dan OVO.

Jajaran direksi Superbank saat melakukan konferensi pers usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Soahana, Jakarta Selatan. (Foto: Desty Luthfiani/KabarBursa.com)
Jajaran direksi Superbank saat melakukan konferensi pers usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Soahana, Jakarta Selatan. (Foto: Desty Luthfiani/KabarBursa.com)

KABARBURSA.COM – PT Super Bank Indonesia Tbk atau SUPA mengumumkan telah mencatat laba sebelum pajak atau profit before tax (PBT) sebesar Rp142 miliar hingga April 2026. Capaian tersebut melonjak 1.528,8 persen secara tahunan atau year on year (YoY), di tengah ekspansi kredit digital dan penguatan integrasi layanan keuangan di ekosistem Grab dan OVO.

Dalam siaran pers yang diterima KabarBursa.com, Superbank menyebut pertumbuhan bisnis pada awal kuartal kedua tahun ini masih ditopang ekspansi agresif di sisi penyaluran kredit, pertumbuhan dana murah, hingga peningkatan layanan berbasis ekosistem digital.

Total aset perseroan tercatat naik 71,5 persen YoY menjadi Rp24 triliun. Sejalan dengan itu, penyaluran kredit meningkat 55,4 persen YoY menjadi Rp12,2 triliun.

Manajemen menjelaskan pertumbuhan kredit didukung penetrasi produk pinjaman berbasis ekosistem, termasuk melalui produk Own Loan atau PAS yang terhubung dengan berbagai touchpoint digital.

Di sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 98,4 persen YoY menjadi Rp15,1 triliun. Sementara pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) naik 84,5 persen YoY menjadi Rp671 miliar.

“Pertumbuhan bisnis didorong integrasi layanan dan perluasan akses keuangan digital,” tulis manajemen Superbank di Jakarta, dikutip Kamis, 21 Mei 2026,

Superbank juga terus memperdalam integrasi layanan dengan ekosistem para pemegang sahamnya. Salah satu inovasi terbaru adalah peluncuran fitur “Kartu Menguntungkan” hasil integrasi dengan KakaoBank dan layanan PAS yang memungkinkan pengguna di ekosistem Grab serta layanan pinjaman OVO mengakses layanan keuangan tanpa perlu berpindah aplikasi maupun mengunduh aplikasi Superbank secara terpisah.

Inovasi tersebut melengkapi integrasi sebelumnya seperti pembukaan rekening langsung di aplikasi Grab sejak Juni 2024 serta layanan “OVO Savings by Superbank”.

Menurut perseroan, strategi ini ditujukan untuk memperluas akses layanan perbankan digital yang aman, praktis, dan inklusif bagi masyarakat Indonesia.

Di tengah ekspansi bisnis tersebut, Superbank juga mengumumkan rencana konsolidasi keuangan oleh Grab sebagai salah satu pemegang saham utama perseroan.

Langkah itu dilakukan melalui pengalihan saham milik Singtel Alpha Investments Pte Ltd kepada GXS Bank Pte Ltd, bank digital berbasis di Singapura yang didukung konsorsium Grab dan Singtel.

Setelah transaksi selesai, kepemilikan langsung dan tidak langsung Grab di Superbank disebut akan meningkat menjadi lebih dari 50 persen. Dengan perubahan tersebut, laporan keuangan Superbank nantinya akan dikonsolidasikan ke dalam laporan keuangan Grab.

“Transaksi ini memperkuat komitmen jangka panjang Grab di Superbank,” tulis manajemen.

Grab sendiri telah menjadi investor di Superbank sejak 2022. Perseroan menilai dukungan ekosistem Grab dan OVO, mulai dari layanan transportasi, pengantaran makanan hingga pembayaran digital, menjadi salah satu kekuatan utama untuk memperluas penetrasi layanan keuangan digital.

Superbank menyebut kolaborasi strategis dengan Grab akan terus diperkuat melalui pengembangan layanan berbasis teknologi untuk memperluas inklusi keuangan di Asia Tenggara.

Meski demikian, Singtel disebut tetap mempertahankan posisinya sebagai investor strategis guna mendukung pengembangan GXS Bank dan Superbank ke depan.

Superbank saat ini didukung sejumlah pemegang saham besar seperti Grab, Emtek, Singtel, KakaoBank, dan GXS Bank. Perseroan mengklaim telah memiliki lebih dari 6 juta nasabah.

Pada Desember 2025, Superbank resmi mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia dengan kode SUPA sekaligus masuk kategori Bank Umum Berdasarkan Modal Inti (KBMI) 2.

Perseroan menyatakan fokus utama bisnis tetap diarahkan pada perluasan akses kredit bagi nasabah ritel dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM melalui solusi keuangan digital berbasis ekosistem.

Selain ekspansi bisnis, Superbank juga menyoroti aspek keamanan layanan digital dengan menyebut perseroan telah mengantongi sertifikasi ISO 27001 untuk standar keamanan informasi.

Di sisi lain, pasar masih menyoroti tantangan industri bank digital yang semakin kompetitif, terutama terkait kemampuan menjaga kualitas kredit, efisiensi biaya akuisisi nasabah, hingga keberlanjutan profitabilitas di tengah ekspansi agresif dan integrasi lintas ekosistem digital.

Bebarengan dengan pengumuman cetakan laba itu, saat ini saham SUPA berada di kisaran 865 per lembar pada penutupan perdagangan Selasa, 20 Mei 2026. Freefloat SUPA juga masih di bawah 15 persen—belum sesuai ketetapan regulasi Bursa Efek Indonesia untuk batad minimal saham beredar perusahaan tercatat. Freefloat SUPA hanya 11,53 persen.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
DE
Jurnalis

Desty Luthfiani

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait