Makro 16 Jun 2026 Penulis: Desty Luthfiani Editor: Uslimin Usle

Survei Akademika: Hanya 36 Persen Penerima Selalu Habiskan MBG

Temuan tersebut terungkap dalam survei Centre for Public Policy Analysis (Akademika) yang juga merekomendasikan pemerintah melakukan efisiensi dan evaluasi.

Mayoritas penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ternyata tidak selalu menghabiskan makanan yang diberikan pemerintah.

Survei Akademika: Hanya 36 Persen Penerima Selalu Habiskan MBG
Survei Akademika: Hanya 36 Persen Penerima Selalu Habiskan MBG

KABARBURSA.COM – Mayoritas penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ternyata tidak selalu menghabiskan makanan yang diberikan pemerintah. Temuan tersebut terungkap dalam survei Centre for Public Policy Analysis (Akademika) yang juga merekomendasikan pemerintah melakukan efisiensi dan evaluasi terhadap pelaksanaan program tersebut.

Survei yang dilakukan pada April hingga Mei 2026 itu melibatkan 280 responden yang memiliki anggota keluarga penerima MBG di sekolah. Hasilnya menunjukkan hanya 36 persen responden yang menyatakan anggota keluarganya selalu menghabiskan paket makanan yang diterima. Sebanyak 49 persen menyebut makanan tidak selalu habis dikonsumsi, sementara 15 persen lainnya mengaku tidak mengetahui.

Menurut hasil survei yang diterima KabarBursa.com, manfaat utama MBG yang paling banyak dirasakan masyarakat adalah mengurangi waktu menyiapkan makanan di rumah, yang diakui oleh 51 persen responden. Sebanyak 31 persen responden lainnya menyebut program tersebut membantu meringankan beban ekonomi keluarga.

Meski demikian, survei juga menemukan sejumlah persoalan dalam pelaksanaan program. Sebanyak 42 persen responden mengeluhkan lauk yang kurang bervariasi, 39 persen menilai rasa makanan kurang enak, dan 37 persen menyebut kualitas makanan belum sesuai dengan anggaran yang dialokasikan.

Temuan lain menunjukkan tingginya kekhawatiran masyarakat terhadap potensi keracunan makanan. Walaupun hanya 6 persen responden yang mengaku pernah mengalami kasus keracunan di sekolah anggota keluarganya, sebanyak 80 persen menyatakan khawatir kejadian serupa dapat terjadi. Adapun 14 persen responden mengaku tidak khawatir, sedangkan sisanya tidak memberikan jawaban pasti.

Akademika juga menyoroti kebijakan distribusi MBG selama masa libur sekolah. Berdasarkan survei tersebut, hanya 35 persen responden yang menyatakan anggota keluarganya selalu menghabiskan makanan yang dibawa pulang ke rumah. Bahkan, 12 persen menyebut makanan tersebut sama sekali tidak dikonsumsi.

Dari sisi sasaran program, sebanyak 58 persen responden setuju MBG diberikan kepada seluruh siswa. Namun, 42 persen lainnya berpendapat program tersebut sebaiknya diprioritaskan bagi siswa yang benar-benar membutuhkan. Sejalan dengan itu, sebanyak 51 persen responden mengaku tidak mempermasalahkan apabila anggota keluarganya tidak lagi menerima MBG.

Mayoritas responden juga mengusulkan perbaikan program. Sebanyak 80 persen menginginkan menu makanan yang lebih bervariasi. Selain itu, 30 persen meminta informasi menu disampaikan lebih awal kepada orang tua, 28 persen mengusulkan distribusi makanan tidak terlambat, dan 28 persen lainnya berharap program diprioritaskan bagi kelompok yang paling membutuhkan.

Berdasarkan berbagai temuan tersebut, Akademika meminta pemerintah tidak ragu melakukan langkah efisiensi dan perbaikan terhadap program MBG.

"Berikan MBG hanya kepada kelompok yang sangat membutuhkan. Jika ada sekolah yang tidak berminat menjadi penerima MBG karena sudah mempunyai program makan sendiri, sebaiknya tidak dipersoalkan. Jika di dalam satu sekolah ada siswa yang ingin membawa makanan sendiri dan tidak berminat menerima MBG, sebaiknya juga tidak dipersoalkan," tulis Akademika dalam laporan survei yang diterima KabarBursa.com dikutip Selasa, 16 Juni 2026.

Akademika juga merekomendasikan pemerintah melibatkan kantin sekolah dalam pengolahan dan distribusi makanan dengan pengawasan Badan Gizi Nasional (BGN). Langkah tersebut dinilai dapat meminimalkan keterlambatan distribusi sekaligus menjaga kualitas makanan yang diterima siswa.

Selain itu, lembaga tersebut menilai susunan menu MBG perlu dibuat lebih terjadwal dan diinformasikan kepada orang tua siswa agar pelaksanaan program lebih transparan.

" Saat bulan puasa dan libur sekolah sebaiknya paket MBG tidak perlu diberikan," tulis Akademika.

Menurut Akademika, berbagai langkah tersebut diperlukan agar pelaksanaan MBG menjadi lebih efektif, tepat sasaran, serta mampu memberikan manfaat yang lebih optimal bagi kelompok yang benar-benar membutuhkan. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
DE
Jurnalis

Desty Luthfiani

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait