Makro 15 Sep 2024 Penulis: Yunila Wati Editor: Tim Editorial

Tak Mengekor The Fed, BoJ Patahkan Sinyal Pemangkasan Suku Bunga

Tak Mengekor The Fed, BoJ Patahkan Sinyal Pemangkasan Suku Bunga
Tak Mengekor The Fed, BoJ Patahkan Sinyal Pemangkasan Suku Bunga

Daftar Isi

  1. 01 Dampak terhadap Pasar

KABARBURSA.COM - Bank of Japan (BoJ) sepertinya tidak akan memangkas suku bunga seperti yang diprediksi selama ini dan telah disampaikan pada pertemuan sebelumnya. Meskipun The Fed tetap pada rencana awal memangkas suku bunga, kondisi Jepang dan adanya perbedaan kebijakan moneter, menjadi alasan perbedaan pengambilan keputusan.

Setelah beberapa waktu mempertahankan kebijakan moneter yang sangat longgar, BoJ akhirnya mulai menaikkan suku bunga secara bertahap. Kenaikan suku bunga ini merupakan upaya untuk mengatasi inflasi yang mulai meningkat dan memperkuat nilai yen. Proyeksi pasar menunjukkan bahwa BoJ kemungkinan akan terus menaikkan suku bunga di masa mendatang, meskipun dengan laju yang lebih lambat dibandingkan dengan bank sentral lainnya.

Keputusan BoJ untuk mengetatkan kebijakan moneter didorong oleh beberapa faktor, di antaranya:

  • Tekanan Inflasi: Meskipun inflasi di Jepang masih relatif rendah dibandingkan dengan negara-negara lain, namun BoJ tetap waspada terhadap risiko peningkatan inflasi yang lebih lanjut.
  • Pelemahan Yen: Yen Jepang telah mengalami depresiasi yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Kenaikan suku bunga diharapkan dapat membantu memperkuat nilai yen dan mengurangi tekanan inflasi impor.
  • Normalisasi Kebijakan: BoJ berusaha untuk menormalisasi kebijakan moneter setelah periode yang panjang dengan suku bunga negatif dan pembelian aset besar-besaran.

Sementara BoJ tengah fokus pada pengetatan kebijakan, The Fed justru dihadapkan pada dilema yang lebih kompleks. Di satu sisi, The Fed perlu menaikkan suku bunga untuk mengatasi inflasi yang tinggi. Di sisi lain, kenaikan suku bunga yang terlalu agresif dapat memicu resesi.

Laporan ketenagakerjaan AS yang dirilis baru-baru ini menunjukkan tanda-tanda pelemahan ekonomi, yang semakin memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mengurangi laju kenaikan suku bunga atau bahkan melakukan pemangkasan suku bunga. Namun, inflasi yang masih tinggi membuat The Fed enggan untuk terlalu longgar dalam kebijakan moneternya.

Dampak terhadap Pasar

Perbedaan kebijakan moneter antara BoJ dan The Fed memiliki dampak yang signifikan terhadap pasar keuangan global. Kenaikan suku bunga di Jepang telah menyebabkan penguatan nilai yen, sementara ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed telah menekan nilai dolar AS.

Pergerakan nilai tukar mata uang ini memiliki implikasi yang luas bagi berbagai sektor, termasuk perdagangan, investasi, dan pariwisata. Selain itu, perbedaan kebijakan moneter juga dapat mempengaruhi aliran modal global dan selera risiko investor.

BoJ dan The Fed tengah mengambil arah yang berbeda dalam merespons tantangan ekonomi global. BoJ memilih untuk mengetatkan kebijakan moneter secara bertahap, sementara The Fed masih berada dalam posisi yang sulit dalam menentukan arah kebijakan moneter selanjutnya. Perbedaan kebijakan ini memiliki implikasi yang signifikan bagi pasar keuangan global dan akan terus menjadi perhatian para pelaku pasar.

Seperti diberitakan Kabar Bursa sebelumnya, Bank sentral Jepang (Bank of Japan/BOJ) mungkin akan menaikkan suku bunga lebih cepat dari yang diperkirakan pasar saat ini. Menurut Tsutomu Watanabe, mantan pejabat sekaligus profesor ekonomi di Universitas Tokyo, BOJ seharusnya lebih transparan dalam mengkomunikasikan kebijakan ini agar pasar tidak terkejut.

Watanabe menyatakan, kenaikan suku bunga dua kali lagi tahun ini bukanlah hal yang mustahil. Ia menambahkan bahwa perbedaan antara alasan BOJ menaikkan suku bunga pada 31 Juli lalu dan tren harga saat itu mengisyaratkan bahwa otoritas moneter berusaha menciptakan ruang kebijakan untuk menghadapi kemungkinan penurunan ekonomi, serta menormalkan kebijakan moneter secepat mungkin.

Watanabe, yang sempat menjadi kandidat gubernur BOJ tahun lalu, juga mengatakan bahwa meskipun inflasi tidak meningkat signifikan, pernyataan BOJ yang menyebut tren harga sesuai dengan proyeksi mereka menunjukkan bahwa bank sentral dapat bertindak kapan saja jika diperlukan.

“Saya mungkin memiliki DNA yang sama dengan BOJ dalam hal menciptakan suku bunga positif,” kata Watanabe. Menaikkan suku bunga untuk memberi ruang manuver saat ekonomi terguncang, menurutnya, adalah kebijakan yang rasional. Namun, BOJ perlu lebih tegas dalam menyampaikan niatnya.

Kenaikan suku bunga 0,25 persen pada awal Agustus dianggap memicu penurunan besar di pasar global, dengan saham Jepang mengalami penurunan tajam. Hal ini disebabkan oleh penghentian yen-carry trade, yang mengakibatkan investor melarikan diri dari aset berisiko.

Sebelum keputusan tersebut, Watanabe sempat ragu akan adanya kenaikan suku bunga, mengingat data menunjukkan konsumsi domestik masih lemah akibat inflasi tinggi. Namun, ia memahami bahwa BOJ merasa perlu bergerak untuk menyesuaikan dengan ekspektasi pasar.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait