KABARBURSA.COM - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersiap meresmikan implementasi komersial biodiesel B50 pada Juli 2026 sebagai pilar utama penyetopan impor solar nasional.
Keberhasilan hilirisasi kelapa sawit ini memicu pemerintah untuk menduplikasi strategi serupa pada sektor bensin melalui percepatan program etanol E20 guna memangkas impor bensin hingga 4 juta kiloliter (kl) per tahun.
Kementerian ESDM mengeklaim konsumsi bahan bakar nabati melalui B50 mampu mengonversi kebutuhan setara 300.000 barel minyak per hari (bpd), sehingga beban impor minyak mentah (crude) Indonesia menyusut ke level 700.000 bpd.
"Mandatori B10 sampai B40 yang berjalan sejak 2016 terbukti menyelamatkan wajah Indonesia dari ketergantungan impor solar. Dengan B50 yang besok Juli kita resmikan, mulai tahun ini kita tidak lagi melakukan impor solar," ujar Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam forum energy di Jakarta, Kamis, 25 Juni 2026.
Bahlil mengungkapkan, setelah sukses melepas ketergantungan dari solar impor, fokus kementerian kini beralih pada penanganan impor bensin (RON 90, 92, 95, 98) yang total konsumsi nasionalnya menembus 40 juta kl per tahun.
Saat ini, kata Bahlil, kemampuan kilang domestik PT Pertamina (Persero) baru memasok 14,3 juta kl, ditambah kontribusi kilang baru di Kalimantan sebesar 5,5 juta kl, sehingga menyisakan defisit impor sekitar 20 juta kl per tahun.
Guna menambal celah impor bensin tersebut, Kementerian ESDM menggenjot regulasi bauran bioetanol 20 persen atau E20 dengan memanfaatkan komoditas pertanian non-sawit.
"E20 ini sebenarnya saya menonjolkan prototipe daripada B40. Kalau E20 itu bensin dari etanol yang bahan bakunya dari singkong, tebu, dan jagung. Kalau kita bikin E20, kita bisa menghemat bensin 4 juta kiloliter per tahun sekaligus meningkatkan pendapatan rakyat lewat pertanian," tegas Bahlil.
Langkah ini juga diproyeksikan sebagai bagian dari transisi menuju energi hijau dalam rangka mengejar target net zero emission (NZE) pada tahun 2060. Bahlil optimistis program ini akan berjalan mulus di tengah mulai solidnya dukungan antarkementerian.
"Waktu saya buat ide bikin E20 dulu dihujat, diketawain orang, dikira mimpi. Sekarang sebagian menteri sudah mulai bicara tentang E20 ini. Ini rezeki anak saleh," pungkasnya.(*)