Makro 04 May 2026 Penulis: Hutama Prayoga Editor: Tim Editorial

Tekanan Timur Tengah Belum Reda, Rupiah Tertekan ke Rp17.394

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan Presiden AS, Donald Trump akan memulai upaya untuk membebaskan kapal-kapal yang terdampar di Selat Hormuz

Rupiah melemah ke Rp17.394 dipicu konflik Timur Tengah dan eskalasi geopolitik global. BI siapkan strategi jaga stabilitas nilai tukar

Mata uang rupiah (Foto: Dok. KabarBursa)
Mata uang rupiah (Foto: Dok. KabarBursa)

KABARBURSA.COM - Nilai tukar rupiah ditutup melemah 57 point ke level  Rp17.394 terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin, 4 Mei 2026. Pemelahan ini terjadi masih karena sentimen dari Timur Tengah (Timteng).

Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan Presiden AS, Donald Trump akan memulai upaya untuk membebaskan kapal-kapal yang terdampar di Selat Hormuz.

"Trump telah menjadikan kesepakatan nuklir dengan Teheran sebagai prioritas, sementara Iran telah mengusulkan untuk mengesampingkan masalah nuklir hingga setelah perang berakhir dan kedua pihak sepakat untuk mencabut blokade yang saling bertentangan terhadap pelayaran di Teluk," ujar dia dalam keterangannya.

Sentimen juga datang dari Eropa Timur. Ibrahim menyampaikan, Ukraina melancarkan serangkaian serangan drone terhadap target di seluruh Rusia pada hari Minggu, menghantam pelabuhan Primorsk di Laut Baltik dan membakarnya, serta menyerang sejumlah kapal, seiring dengan peningkatan serangan terhadap infrastruktur energi dan target lainnya.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengatakan serangan tersebut telah menyebabkan kerusakan signifikan pada pelabuhan terminal minyak.

"Serangan itu juga mengenai sebuah kapal tanker minyak, sebuah kapal rudal kecil kelas Karakurt Rusia, dan sebuah kapal patroli di Laut Baltik, katanya di Telegram," jelas Ibrahim.

Adapun untuk perdagangan Selasa, 5 Mei 2026, Ibrahim memprediksi mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif namun ditutup melemah direntang  Rp17.390- Rp17.440.

 Gubernur BI Bertemu Investor di Singapura, Bahas Stabilitas Rupiah

Bank Indonesia (BI) saat ini tengah fokus memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global, khususnya dari dinamika geopolitik di Timur Tengah (Timteng).

Gubernur BI, Perry Warjiyo mengatakan pihaknya kini menyesuaikan struktur suku bunga pasar (term structure) melalui kenaikan yield instrumen seperti SRBI.

"Strategi ini dilakukan untuk menjaga daya tarik aset domestik dan mendukung stabilitas nilai tukar untuk menjaga kondisi domestik tetap solid," ujar dia dalam keterangannya di acara pertemuan dengan sejumlah investor di Singapura pada 28 April 2026.

Pertemuan sejenis terus dilakukan untuk memberikan informasi yang solid kepada para investor mengenai fundamental ekonomi Indonesia serta proyeksi ke depan, sehingga memperkuat keyakinan investor terhadap ekonomi Indonesia, dan mendorong arus masuk modal asing.

Perry menjelaskan bahwa kerangka kebijakan BI telah berevolusi dari pengalaman berbagai krisis. Saat ini, BI mengimplementasikan integrated monetary policy mix yang terdiri dari tiga pilar utama.

Pertama, kebijakan suku bunga untuk mempertahankan stabilitas nilai tukar Rupiah dan menjaga inflasi tetap dalam target. Kedua, stabilisasi nilai tukar melalui intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas eksternal dan mencegah pelemahan Rupiah merambat ke kenaikan harga.

Ketiga, pengelolaan likuiditas domestik untuk memastikan kecukupan likuiditas di sistem keuangan. Ketiga instrumen ini dijalankan bersamaan dan saling melengkapi, mencerminkan pendekatan yang lebih fleksibel dan adaptif terhadap dinamika global.

"Eratnya koordinasi moneter-fiskal melalui sinergi kebijakan untuk bersama menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan," jelas Perry.
 

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
HU
Ass. Redaktur

Hutama Prayoga

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait