Makro 09 Jul 2025 Penulis: Moh. Alpin Pulungan Editor: Syahrianto

Trump Siapkan Tarif Tembaga 50 Persen, Harga Langsung Tembus Rekor

Trump berencana tetapkan tarif tembaga 50 persen demi dorong produksi lokal. Harga tembaga melonjak lebih dari 12 persen ke level tertinggi sepanjang masa.

Trump umumkan tarif tembaga 50 persen, pasar kaget. Harga tembaga langsung melonjak dan saham Freeport ikut terbang.

Trump umumkan tarif tembaga 50 persen, pasar kaget. Harga tembaga langsung melonjak dan saham Freeport ikut terbang. Foto: whitehouse.gov.
Trump umumkan tarif tembaga 50 persen, pasar kaget. Harga tembaga langsung melonjak dan saham Freeport ikut terbang. Foto: whitehouse.gov.

KABARBURSA.COM – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan akan memberlakukan tarif impor sebesar 50 persen untuk tembaga, guna mendorong produksi dalam negeri logam yang krusial bagi kendaraan listrik, perangkat militer, jaringan listrik, dan aneka produk konsumsi.

Rencana tersebut diumumkan Trump dalam rapat kabinet di Gedung Putih pada Selasa waktu setempat. “Saya kira tarif tembaga akan kami tetapkan sebesar 50 persen,” kata Trump kepada wartawan, dikutip dari Reuters di Jakarta, Rabu, 9 Juli 2025.

Ia tidak merinci waktu pemberlakuannya, namun Menteri Perdagangan AS, Howard Lutnick, mengatakan dalam wawancara dengan CNBC bahwa tarif kemungkinan mulai berlaku paling lambat 1 Agustus dan akan diumumkan lebih lengkap melalui akun Truth Social milik Trump.

Tak lama setelah pernyataan Trump, harga tembaga berjangka Comex di AS melonjak lebih dari 12 persen dan mencetak rekor tertinggi baru. Kenaikan ini melampaui ekspektasi industri, baik dari sisi waktu maupun besarannya.

Latar belakang kebijakan ini berakar dari investigasi Section 232 yang dilakukan sejak Februari lalu mengenai dampak impor tembaga terhadap keamanan nasional AS. Meski tenggat akhir kajian ini dijadwalkan November, Lutnick memastikan prosesnya telah rampung lebih cepat.

“Tujuannya sederhana: kembalikan tembaga ke Amerika. Produksi tembaga, kemampuan pengolahan, dan industri pendukungnya harus kembali ke dalam negeri,” ujar Lutnick.

Namun hingga pengumuman resmi diterbitkan, sejumlah asosiasi industri memilih menahan komentar. National Mining Association menyatakan masih menunggu rincian kebijakan, sedangkan American Critical Minerals Association belum merespons permintaan media.

AS saat ini mengimpor sekitar separuh kebutuhan tembaganya setiap tahun, sementara proyek pertambangan tembaga skala besar dalam negeri menghadapi banyak penolakan. Proyek Resolution Copper milik Rio Tinto dan BHP di Arizona serta proyek Pebble Mine milik Northern Dynasty Minerals di Alaska adalah dua contoh yang tertahan akibat penolakan publik dan lingkungan.

Sementara itu, saham produsen tembaga terbesar dunia, Freeport-McMoRan, yang berbasis di Phoenix, naik hampir 5 persen pada perdagangan Selasa siang. Tahun lalu, Freeport memproduksi sekitar 1,26 miliar pon tembaga di AS.

Meski berpotensi diuntungkan, perusahaan itu juga mengingatkan Trump bahwa tarif tinggi bisa merusak kestabilan ekonomi global, dan menyarankan pemerintah fokus pada insentif produksi domestik.

Negara yang paling terdampak oleh tarif tembaga AS antara lain Cile, Kanada, dan Meksiko, yang merupakan pemasok utama tembaga olahan ke AS pada 2024 menurut data Biro Sensus AS. Ketiga negara tersebut memiliki perjanjian perdagangan bebas dengan AS, dan telah menyatakan bahwa ekspor mereka tidak mengancam industri domestik AS.

Kementerian Ekonomi Meksiko, Kementerian Luar Negeri Cile, dan Kementerian Keuangan Kanada belum memberikan tanggapan. Kementerian Pertambangan Cile dan perusahaan tambang nasionalnya, Codelco, juga memilih bungkam.

Menurut Ole Hansen, kepala strategi komoditas Saxo Bank, tarif 50 persen akan menekan pelaku industri dalam negeri yang masih sangat bergantung pada impor. “AS saat ini belum bisa memenuhi kebutuhan tembaganya sendiri dalam waktu dekat,” kata Hansen. Ia menyebut, selama enam bulan terakhir, AS sudah mengimpor setara permintaan setahun penuh, sehingga stok lokal sebenarnya mencukupi.

“Saya justru melihat harga tembaga bisa terkoreksi setelah lonjakan awal ini,” katanya.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait