Makro 24 Mar 2026 Penulis: Hutama Prayoga Editor: Tim Editorial

Trump Tunda Serangan ke Iran, Harga Minyak Langsung Anjlok 10 Persen

Harga minyak mentah Brent turun USD11,64, atau 10,4 persen menjadi USD100,55 per barel.

Harga minyak mengalami penurunan sekitar 10 persen pada perdangan Senin, 23 Maret 2026.

Ilustrasi: Alat pengangkat minyak dari dalam tanah. (Foto: AI untuk KabarBursa)
Ilustrasi: Alat pengangkat minyak dari dalam tanah. (Foto: AI untuk KabarBursa)

KABARBURSA.COM - Harga minyak mengalami penurunan sekitar 10 persen pada perdangan Senin, 23 Maret 2026. Ini merupakan harga terendah dalam satu minggu terakhir.

Penurunan tajam tersebut terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump menyatakan menunda serangan terhadap infrastruktur energi Iran.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent turun USD11,64, atau 10,4 persen menjadi USD100,55 per barel.  Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS kehilangan USD9,66, atau 9,8 persen ke level USD88,57.

Trump mengatakan bahwa AS telah mengadakan pembicaraan dengan Iran dan kedua pihak telah mencapai poin-poin kesepakatan utama. Ia mengaku telah memberi perintah untuk menunda serangan terhadap pembangkit listrik Iran selama lima hari.

Sebelumnya, Garda Revolusi Iran mengatakan mereka akan menyerang pembangkit listrik Israel dan pembangkit listrik yang memasok pangkalan AS di seluruh wilayah Teluk jika AS menindaklanjuti ancaman Trump untuk menghancurkan jaringan listrik Iran.

Adapun perang tersebut sempat menghentikan pengiriman melalui Selat Hormuz, yang menangani sekitar 20 persen aliran minyak dan gas alam cair global.

Para analis memperkirakan kerugian produksi minyak Timur Tengah sebesar 7 juta hingga 10 juta barel per hari (bpd).

Fatih Birol, direktur eksekutif Badan Energi Internasional (IEA) mengatakan krisis di Timur Tengah lebih buruk daripada gabungan dua guncangan minyak tahun 1970-an. 
 

Perlu diketahui, krisis pasokan telah menyebabkan pencabutan sementara sanksi AS terhadap minyak Rusia dan Iran yang sudah berada di laut.

Kepada Reuters, para pedagang mengatakan kilang minyak India berencana untuk melanjutkan pembelian dengan Iran. Sementara kilang minyak di tempat lain di Asia sedang mempertimbangkan langkah tersebut.

Sementara itu seorang eksekutif senior membeberkan, perusahaan penyulingan minyak milik negara China, Sinopec, tidak berniat membeli minyak Iran tetapi sedang berupaya mendapatkan izin untuk memanfaatkan cadangan negara. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
HU
Ass. Redaktur

Hutama Prayoga

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait