Makro 10 May 2026 Penulis: Syahrianto Editor: Yunila Wati

Uang Primer RI Tumbuh 14,3 Persen, Tembus Rp2.232 Triliun

Bank Indonesia mencatat uang primer adjusted mencapai Rp2.232,2 triliun pada April 2026.

BI mencatat uang primer adjusted April 2026 tumbuh 14,3 persen menjadi Rp2.232,2 triliun didorong giro bank dan uang kartal.

Bank Indonesia mencatat pertumbuhan uang primer adjusted. (Foto: Dok. Kabarbursa.com)
Bank Indonesia mencatat pertumbuhan uang primer adjusted. (Foto: Dok. Kabarbursa.com)

KABARBURSA.COM – Bank Indonesia (BI) mencatat uang primer atau base money adjusted pada April 2026 tumbuh 14,3 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp2.232,2 triliun. Meski masih tumbuh dua digit, laju tersebut melambat dibanding Maret 2026 yang mencapai 16,8 persen.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan perkembangan uang primer tersebut dipengaruhi pertumbuhan giro bank umum di Bank Indonesia dan peningkatan uang kartal yang beredar di masyarakat.

“Perkembangan ini dipengaruhi oleh pertumbuhan giro bank umum di Bank Indonesia adjusted sebesar 21,6 persen (yoy) dan uang kartal yang diedarkan sebesar 14,6 persen (yoy),” ujar Ramdan dalam keterangan resmi dikuti, Minggu, 10 Mei 2026.

Data BI menunjukkan posisi uang primer adjusted pada April 2026 tercatat Rp2.232,2 triliun, turun dibanding posisi Maret 2026 yang mencapai Rp2.396,5 triliun.

Sementara uang kartal yang diedarkan mencapai Rp1.301 triliun pada April 2026, turun dibanding Maret 2026 sebesar Rp1.346,6 triliun.

Adapun giro bank umum di BI adjusted tercatat sebesar Rp887,4 triliun pada April 2026. Nilai tersebut lebih rendah dibanding posisi Maret 2026 sebesar Rp1.017,6 triliun.

Dalam publikasinya, BI menyebut pertumbuhan uang primer adjusted telah memperhitungkan dampak pemberian insentif likuiditas atau pengendalian moneter adjusted. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari pengelolaan likuiditas di sistem keuangan nasional.

Dari sisi faktor yang memengaruhi uang primer, aktiva luar negeri bersih atau net foreign assets tercatat sebesar Rp2.021 triliun pada April 2026. Angka tersebut menurun dibanding posisi Maret 2026 sebesar Rp2.058,9 triliun.

Sementara tagihan bersih kepada pemerintah pusat tercatat minus Rp246,7 triliun pada April 2026, lebih dalam dibanding posisi minus Rp71,6 triliun pada Maret 2026.

BI juga mencatat pengendalian moneter adjusted mencapai Rp1.282,6 triliun pada April 2026, naik dibanding Maret 2026 sebesar Rp1.187 triliun.

Dalam laporan Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia (SEKI), BI menjelaskan uang primer adjusted merupakan uang primer yang telah disesuaikan dengan nominal giro bank berdasarkan ketentuan giro wajib minimum (reserve ratio) dikalikan dana pihak ketiga pada setiap periode.

BI juga menyebut perhitungan uang primer adjusted telah mengalami penyesuaian sejak publikasi Januari 2025 dan berlaku retroaktif sejak Januari 2020.(*)

KomponenApril 2026Maret 2026Perubahan YoY
Uang Primer AdjustedRp2.232,2 triliunRp2.396,5 triliun+14,3 persen
Uang Kartal BeredarRp1.301 triliunRp1.346,6 triliun+14,6 persen
Giro Bank Umum di BI AdjustedRp887,4 triliunRp1.017,6 triliun+21,6 persen
Aktiva Luar Negeri BersihRp2.021 triliunRp2.058,9 triliun-
Pengendalian Moneter AdjustedRp1.282,6 triliunRp1.187 triliun-

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
SY
Ass. Redaktur

Syahrianto

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait