KABARBURSA.COM – Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) meluncurkan UMKM Center dengan fokus utama mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) naik kelas.
Lewat UMKM Center, Perbanas berkomitmen melakukan pembinaan yang terintegrasi dengan akses pembiayaan dan rantai pasok industri. Langkah ini diambil karena Perbanas melihat pertumbuhan skala usaha UMKM di Indonesia masih relatif terbatas.
Kondisi tersebut dinilai menjadi tantangan bagi keberlanjutan pembiayaan yang selama ini banyak ditopang program Kredit Usaha Rakyat (KUR). Perbanas juga mencatat, kredit UMKM pada Februari 2026 mengalami pertumbuhan negatif dengan pelemahan 0,5 persen secara tahunan.
Ketua Bidang Riset dan Kajian Ekonomi dan Perbankan Perbanas, Aviliani mengatakan, tujuan utama UMKM Center adalah memperluas penyaluran kredit sekaligus menciptakan model bisnis yang mampu membuat UMKM berkembang.
"Target kita adalah bisnis model. Kalau kita lihat UMKM itu naik kelasnya kecil sekali. Kalau enggak naik kelas, enggak mungkin mereka pinjam terus dong. Kalau pinjam terus kemungkinan kredit macet," ujar Aviliani dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis, 18 Juni 2026.
Menurutnya, ketergantungan UMKM terhadap pembiayaan tanpa diiringi peningkatan kapasitas usaha berpotensi menimbulkan risiko di masa depan.
"Padahal pinjaman kayak misalnya KUR, kalau diberikan dan hanya itu-itu saja bakal membahayakan. Oleh karena itu dengan ada tidaknya KUR, kita ingin mereka naik kelas sehingga ada ekspansi. Ketika ekspansi dia butuh dana lebih banyak, itu harapan UMKM Center," katanya.
Perbanas menegaskan, tidak akan membangun ekosistem pembinaan dari awal. Organisasi perbankan tersebut memilih memperkuat program yang telah dijalankan berbagai pihak, termasuk bank-bank anggota dan kementerian terkait.
Melalui pendekatan ini, UMKM Center akan berperan sebagai penghubung antara pelaku usaha, lembaga pembiayaan, dan institusi pembina agar UMKM memperoleh akses lebih dalam pengembangan usaha.
"Makanya kita kerja sama tidak dari nol lagi. Misalnya BRI sudah ada dari mana, kita dari mana untuk sisi pembinaannya. Lalu dengan departemen juga begitu, nah kita membantu supaya UMKM dapat satu akses pembiayaan," kata Aviliani.
Terkait rantai pasok atau supply chain, Perbanas ingin menjembatani UMKM dengan perusahaan yang lebih besar. Strategi ini dinilai menjadi salah satu kunci agar UMKM mampu tumbuh dan menembus pasar yang lebih luas.
Aviliani mencontohkan bagaimana UMKM di sejumlah negara maju seperti Korea Selatan dan Jepang berkembang karena menjadi bagian dari rantai pasok industri hingga terhubung dengan pasar global.
Melalui model tersebut, Perbanas berharap peningkatan kredit UMKM dapat berjalan beriringan dengan pertumbuhan usaha yang sehat. Dalam tahap awal, UMKM Center masih berada pada fase perancangan program sehingga belum menetapkan target angka tertentu.
Namun, Perbanas telah menyiapkan tahapan pendampingan yang akan dimulai dari pembiayaan awal menggunakan dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) maupun sumber pendanaan lain yang tersedia.
"Kalau target secara data, kan kita baru mendesain, jadi enggak langsung secara angka tapi kita ingin paling tidak ada tahapan. Pertama, dalam enam bulan pertama setelah pembinaan kita akan lihat, dananya bisa dari dana CSR atau lainnya untuk pendanaan awal," sebut Aviliani.
Setelah usaha menunjukkan perkembangan dan memenuhi kriteria kelayakan, pelaku UMKM akan diarahkan untuk mengakses pembiayaan perbankan secara lebih luas.
"Nanti setelah UMKM itu bagus sampai bankable baru kita. Jadi ada tahapannya," ucapnya.
Selain memperkuat pembinaan, Perbanas juga melihat peluang pengembangan kebijakan yang tidak hanya berfokus pada insentif pembiayaan.
Aviliani menyatakan, pemerintah dapat mempertimbangkan insentif yang mendorong perusahaan besar untuk lebih aktif melibatkan UMKM dalam rantai pasok bisnis mereka.
Ia menilai skema insentif seperti keringanan pajak bagi perusahaan dapat mendorong perluasan kemitraan dengan UMKM.
"Mungkin ke depan desainnya tidak hanya sektor pembiayaan yang diberi insentif. Tapi insentifnya dari sisi industri. Misal perusahaan besar bisa menggandeng UMKM kemudian perusahaan bisa dapat insentif," tutup Aviliani.(*)