Makro 31 Jul 2024 Penulis: KabarBursa.com Editor: Tim Editorial

Usai Melonjak Empat Hari, Harga Batu Bara Kembali Anjlok

Usai Melonjak Empat Hari, Harga Batu Bara Kembali Anjlok
Usai Melonjak Empat Hari, Harga Batu Bara Kembali Anjlok

Daftar Isi

  1. 01 Analisis Teknikal

KABARBURSA.COM - Harga batu bara mengalami penurunan pada perdagangan kemarin. Namun, meski batu hitam ini mengalami penurunan, tren positifnya masih tetap terjaga.

Pada Selasa 30 Juloi 2024, harga batu bara di pasar ICE Newcastle untuk kontrak pengiriman bulan ini ditutup pada angka USD139,25 per ton, mengalami penurunan sebesar 0,61 persen dibandingkan hari sebelumnya.

Penurunan ini terjadi setelah harga batu bara menunjukkan kenaikan selama empat hari berturut-turut. Dalam satu minggu terakhir, harga batu bara naik sebesar 3,38 persen secara point-to-point, dan dalam sebulan terakhir, mengalami kenaikan sebesar 5,41 persen.

Permintaan yang terus tinggi menjadi faktor utama yang menjaga harga batu bara tetap stabil. Menurut laporan terbaru dari International Energy Agency (IEA), permintaan listrik global diperkirakan akan melonjak pesat tahun ini. Pertumbuhan permintaan listrik diperkirakan akan menjadi yang tercepat dalam hampir dua dekade terakhir.

Konsumsi listrik global pada 2024 diperkirakan tumbuh 4 persen, angka tertinggi sejak 2007, jauh melebihi pertumbuhan tahun 2023 yang hanya 2,5 persen. Pertumbuhan sebesar 4 persen diperkirakan akan berlanjut pada 2025.

Salah satu faktor utama di balik peningkatan permintaan listrik adalah kenaikan penggunaan pendingin ruangan (AC) seiring dengan suhu udara yang meningkat.

"Pertumbuhan permintaan listrik pada tahun ini dan tahun depan akan menjadi yang tercepat dalam hampir dua dekade terakhir. Ini menandakan semakin vitalnya peran listrik dalam mendorong ekonomi dan mengatasi dampak gelombang panas," ungkap Keisuke Sadamori, Direktur Pasar dan Ketahanan Energi IEA, dalam laporannya.

Analisis Teknikal

Harga Batu Bara pada tahun 2024 mengalami dinamika signifikan. Setelah beberapa tahun volatilitas, harga batu bara menunjukkan stabilitas relatif, dengan fluktuasi yang lebih terkendali. Pada awal tahun, harga batu bara tercatat mengalami kenaikan akibat permintaan global yang solid dan kekhawatiran terhadap pasokan.

Pada bulan-bulan awal 2024, harga batu bara di pasar internasional, seperti ICE Newcastle, mengalami tren naik, dipicu oleh permintaan yang kuat dari negara-negara pengimpor utama. Namun, pada pertengahan tahun, terjadi koreksi harga seiring dengan peningkatan pasokan dan perubahan dalam kebijakan energi beberapa negara.

Secara teknikal, dengan perspektif harian (daily time frame), batu bara masih menunjukkan tanda-tanda bullish. Hal ini tercermin dari Relative Strength Index (RSI) yang berada di angka 50,44, mengindikasikan bahwa aset ini berada dalam posisi bullish.

Sementara itu, indikator Stochastic RSI berada di angka 71,68, menandakan area beli (long) yang cukup kuat.

Harga batu bara telah melewati pivot point di USD133 per ton, membuka peluang untuk potensi kenaikan lebih lanjut. Target resisten terdekat ada di US137 per ton. Jika level ini terlampaui, maka target selanjutnya bisa mencapai USD141 per ton.

Di sisi lain, target support terdekat adalah USD132 per ton. Jika harga menembus level ini, kemungkinan besar akan bergerak turun menuju USD129 per ton.

Harga Batu Bara Acuan (HBA) untuk bulan Juni 2024 menunjukkan tren penurunan dari bulan sebelumnya. HBA I tercatat sebesar USD88,65 per ton, turun dari USD91,77 per ton pada Mei 2024. HBA II juga mengalami penurunan menjadi USD54,79 per ton dari USD56,52 per ton pada Mei 2024. Begitu pula dengan HBA III, yang merosot dari USD36,39 per ton pada Mei menjadi USD35,82 per ton pada Juni 2024.

Penetapan harga ini diumumkan melalui Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral RI Nomor 131.K/MB.01/MEM.B/2024, yang diterbitkan pada 19 Juni 2024.

Dalam keputusan tersebut, HBA ditetapkan berdasarkan rata-rata indeks yang meliputi Indonesia Coal Index (ICI), Newcastle Export Index (NEX), Globalcoal Newcastle Index (GCNC), dan Platt's 5900, dengan kualitas batu bara yang disetarakan pada nilai kalori 6.322 kcal/kg GAR, total moisture 8 persen, total sulphur 0,8 persen, dan ash 15 persen.

Penetapan HBA kini menggunakan metode baru yang menghitung rata-rata realisasi harga jual batu bara satu bulan sebelumnya dengan proporsi 70 persen dan realisasi harga dua bulan sebelumnya dengan proporsi 30 persen. Selain itu, HBA dibagi menjadi empat kategori berdasarkan kualitas batu bara, yakni:

  • HBA: Kesetaraan nilai kalor 6.322 kcal/kg GAR, total moisture 12,26 persen, total sulphur 0,66 persen, dan ash 7,94 persen.
  • HBA I: Kesetaraan nilai kalor 5.300 kcal/kg GAR, total moisture 21,32 persen, total sulphur 0,75 persen, dan ash 6,04 persen.
  • HBA II: Kesetaraan nilai kalor 4.100 kcal/kg GAR, total moisture 35,73 persen, total sulphur 0,23 persen, dan ash 3,90 persen.
  • HBA III: Kesetaraan nilai kalor 3.400 kcal/kg GAR, total moisture 44,30 persen, total sulphur 0,24 persen, dan ash 3,88 persen.

Penurunan harga acuan batu bara ini mencerminkan dinamika pasar yang dipengaruhi oleh permintaan dan pasokan global, serta kebijakan energi dari negara-negara pengimpor utama. Hal ini memberikan tantangan bagi industri batu bara untuk tetap kompetitif dan beradaptasi dengan perubahan harga yang fluktuatif.

Para pelaku industri perlu memperhatikan penetapan harga yang lebih dinamis ini dan mempersiapkan strategi untuk menghadapi potensi ketidakpastian di pasar energi global. Dengan demikian, perusahaan batu bara dapat menjaga kestabilan operasional dan tetap berada dalam jalur pertumbuhan yang positif meski menghadapi tantangan pasar. (*)

 

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
KA
KabarBursa.pro Editorial Team

KabarBursa.com

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait