Makro 16 Apr 2026 Penulis: Hutama Prayoga Editor: Tim Editorial

Utang Luar Negeri Indonesia Tumbuh, Kini Jadi USD437,9 Miliar

Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Anton Pitono mengatakan secara tahunan, ULN Indonesia pada Februari 2026 tumbuh sebesar 2,5 persen year on year (yoy)

Bank Indonesia (BI) menyebut Utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Februari 2026 sebesar USD437,9 miliar.

Mata uang rupiah (Foto: Dok. KabarBursa)
Mata uang rupiah (Foto: Dok. KabarBursa)

KABARBURSA.COM - Utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Februari 2026 sebesar USD437,9 miliar. Angka ini meningkat dibanding bulan sebelumnya yang sebanyak USD434,9 miliar.

Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Anton Pitono mengatakan secara tahunan, ULN Indonesia pada Februari 2026 tumbuh sebesar 2,5 persen year on year (yoy).

"Lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 1,7 persen (yoy)," ujar dia dalam keterangannya dikutip, Kamis, 16 April 2026.

Anton menyampaikan peningkatan posisi ULN tersebut terutama didorong oleh ULN sektor publik khususnya bank sentral seiring dengan aliran masuk modal asing ke instrumen moneter, yakni Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Sementara itu, posisi ULN swasta mengalami penurunan.

Dari ULN publik, lanjut dia, posisi ULN pemerintah pada Februari 2026 tercatat sebesar USD215,9 miliar, tumbuh secara tahunan sebesar 5,5 persen yoy.

"Sedikit lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 5,6 persen yoy," kata dia.

Anton menjelaskan posisi ULN pemerintah tersebut  dipengaruhi oleh penurunan posisi surat utang. Berdasarkan sektor ekonomi, penggunaan ULN pemerintah dimanfaatkan antara lain untuk mendukung Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial (22,0 persen dari total ULN pemerintah); Administrasi Pemerintah, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib (20,3 persen); Jasa Pendidikan (16,2 persen); Konstruksi (11,6 persen); serta Transportasi dan Pergudangan (8,5 persen).

"Posisi ULN pemerintah tersebut didominasi utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,98 persen dari total ULN pemerintah," ungkap dia.

Sementara itu, peningkatan ULN Bank Indonesia didorong oleh kenaikan kepemilikan non-residen terhadap instrumen moneter yang diterbitkan oleh BI sejalan dengan operasi moneter pro-market dan upaya menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dari dampak meningkatnya ketidakpastian global.

Adapun posisi ULN swasta pada Februari 2026 tercatat sebesar USD193,7 miliar menurun secara tahunan sebesar 0,7 persen yoy. Perkembangan ULN swasta tersebut dipengaruhi oleh kelompok peminjam lembaga keuangan (financial corporations) dan perusahaan bukan lembaga keuangan (nonfinancial corporations)  yang masing-masing turun 2,8 persen yoy dan 0,2 persen yoy.

"Berdasarkan sektor ekonomi, ULN swasta terbesar berasal dari Sektor Industri Pengolahan; Jasa Keuangan dan Asuransi; Pengadaan Listrik dan Gas; serta Pertambangan dan Penggalian, dengan pangsa mencapai 80,3 persen terhadap total ULN swasta. ULN swasta didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 76,0 persen terhadap total ULN swasta." pungkas Anton. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
HU
Ass. Redaktur

Hutama Prayoga

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait