Makro 28 Apr 2026 Penulis: Moh. Alpin Pulungan Editor: Syahrianto

VinFast Masih Rugi Besar, Ekspansi Bisnis Diwarnai Tragedi Taksi Listrik di Bekasi Timur

Pendapatan VinFast melonjak, namun kerugian membengkak di tengah ekspansi agresif, termasuk insiden taksi listrik Green SM di Bekasi Timur.

VinFast masih rugi meski pendapatan naik, ekspansi global dibayangi insiden taksi listrik Green SM di Bekasi Timur.

VinFast masih rugi meski pendapatan naik, ekspansi global dibayangi insiden taksi listrik Green SM di Bekasi Timur. Foto: Dok. KabarBursa
VinFast masih rugi meski pendapatan naik, ekspansi global dibayangi insiden taksi listrik Green SM di Bekasi Timur. Foto: Dok. KabarBursa

KABARBURSA.COM — Ambisi ekspansi kendaraan listrik VinFast menjadi sorotan setelah kerugian perusahaan membengkak di tengah pertumbuhan agresif, beriringan dengan insiden operasional di Indonesia yang melibatkan taksi listrik Green SM dalam tragedi di lintasan rel Bekasi Timur.

Data kinerja keuangan yang dirilis di laman resmi perusahaan menunjukkan, VinFast masih mencatatkan kerugian besar meski pendapatan melonjak tajam. Sepanjang 2025, produsen kendaraan listrik asal Vietnam tersebut membukukan pendapatan sekitar USD3,6 miliar atau setara Rp61,2 triliun (kurs Rp17.000), meningkat lebih dari dua kali lipat secara tahunan.

Namun di sisi lain, VinFast melaporkan pelebaran kerugian bersih pada kuartal IV 2025 dibandingkan periode sebelumnya. Kenaikan rugi tersebut dipicu oleh meningkatnya biaya penurunan nilai (impairment) terkait proyek pabrik di Amerika Serikat yang direncanakan kembali dilanjutkan tahun ini.

Sepanjang kuartal terakhir 2025, VinFast mencatatkan kerugian bersih sebesar 35,2 triliun dong atau sekitar USD1,34 miliar (setara Rp22,8 triliun). Angka ini meningkat 46,5 persen dibanding kuartal sebelumnya serta naik 15 persen secara tahunan (year-on-year).

Dari total kerugian tersebut, sekitar USD235,6 juta berasal dari penyesuaian nilai buku atas proyek pabrik yang direncanakan di North Carolina, Amerika Serikat.

Meski begitu, secara konsolidasi, induk usaha Vingroup masih mencatatkan kinerja positif. Perusahaan menargetkan laba bersih sekitar 35 triliun dong atau setara Rp22,6 triliun pada tahun ini.

Namun, struktur laba menunjukkan ketergantungan kuat pada sektor non-otomotif, khususnya properti melalui anak usaha Vinhomes. Sementara itu, lini kendaraan listrik—yang menjadi tulang punggung ekspansi global—masih menjadi sumber tekanan terhadap profitabilitas grup.

Dengan kata lain, pertumbuhan bisnis EV belum berkontribusi signifikan terhadap laba, melainkan masih dalam tahap investasi intensif.

Di tengah kondisi tersebut, VinFast tetap mendorong ekspansi global, termasuk ke Asia Tenggara. Tahun lalu, perusahaan ini menargetkan pengiriman kendaraan listrik pada sekitar 300.000 unit dengan dominasi pasar domestik Vietnam.

VinFast juga menegaskan tidak akan kembali memproduksi kendaraan berbahan bakar fosil, sekaligus mempertahankan fokus penuh pada elektrifikasi. Namun, target titik impas (break even) baru diproyeksikan tercapai paling cepat pada 2027, mundur dari rencana sebelumnya.

Dalam kerangka monetisasi bisnis, Vingroup menyiapkan penawaran umum perdana (IPO) untuk unit taksi listriknya, Green SM, pada paruh kedua 2028.

Langkah ini menempatkan model bisnis armada taksi listrik sebagai salah satu sumber potensi valuasi ke depan, meski hingga saat ini masih berada dalam fase ekspansi dan belum menunjukkan profitabilitas.

Di Indonesia, ekspansi tersebut sempat diwarnai insiden serius yang menyita perhatian publik. Peristiwa itu terjadi di perlintasan sebidang kawasan Bekasi Timur pada Senin malam, 27 April 2026.

Sebuah taksi listrik operasional Green SM mengalami gangguan saat melintas dan berhenti di atas rel. Dalam kondisi tersebut, kendaraan kemudian tertabrak kereta rel listrik (KRL) Commuter Line yang melintas.

Benturan itu membuat KRL berhenti di jalur sehingga mengganggu operasional perjalanan kereta di lintasan tersebut. Situasi ini kemudian berkembang menjadi kecelakaan beruntun ketika kereta jarak jauh Argo Bromo Anggrek yang melaju dari arah belakang tidak dapat menghindari tabrakan dan menghantam kerangka KRL tepat di gerbong penumpang wanita. Korban jiwa dilaporkan mencapai 14 orang, serta puluhan lainnya mengalami luka-luka.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
MO
Ass. Redaktur

Moh. Alpin Pulungan

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait