Makro 09 Jan 2025 Penulis: Pramirvan Datu Editor: Tim Editorial

Volvo Gaspol bikin Pabrik di Meksiko: Ancaman Trump Angin Lalu

Volvo Gaspol bikin Pabrik di Meksiko: Ancaman Trump Angin Lalu
Volvo Gaspol bikin Pabrik di Meksiko: Ancaman Trump Angin Lalu

Daftar Isi

  1. 01 Aturan Baru Emisi Karbon

KABARBURSA.COM - Volvo Group asal Swedia tetap melanjutkan rencana ambisiusnya untuk membangun pabrik truk berat senilai USD700 juta di Monterrey, Meksiko.

CEO Volvo, Martin Lundstedt, mengungkapkan hal ini, meskipun Presiden terpilih Donald Trump mengancam akan memberlakukan tarif impor kendaraan dan barang lain dari negara tersebut.

Produsen truk Volvo dan Mack menjadikan pertumbuhan di Amerika Utara, yang menyumbang sekitar 30 persen dari total pendapatannya, sebagai prioritas utama. Pabrik di Meksiko ini ditargetkan mulai beroperasi pada 2026 dan akan memasok kendaraan ke Amerika Serikat, Kanada, Meksiko, hingga kawasan Amerika Latin lainnya.

Trump menyatakan bahwa usai dilantik pada 20 Januari, ia akan menandatangani kebijakan tarif sebesar 25 persen untuk impor dari Meksiko dan Kanada jika kedua negara tidak mengambil langkah tegas terhadap imigrasi ilegal dan perdagangan fentanil.

“Proyek di Meksiko ini masih pada tahap awal dan terus berjalan,” ujar Lundstedt dalam wawancara di sela-sela CES 2025, konferensi teknologi tahunan di Las Vegas. Ia menambahkan bahwa pabrik tersebut juga dapat difungsikan untuk pasar di luar Amerika Serikat.

“Ini bukan pengganti fasilitas kami di Amerika,” tegas Lundstedt. Namun, ia mengakui bahwa nasib ekspor dari pabrik di Meksiko ke AS sangat bergantung pada kebijakan tarif yang akan diberlakukan.

Saat ini, Volvo memproduksi seluruh truk yang dijualnya di AS melalui fasilitasnya di Virginia, Maryland, dan Pennsylvania. Investasi besar-besaran telah dilakukan di lokasi tersebut untuk memperluas kapasitas produksi, kata Lundstedt.

Menurut Erik Smith, seorang direktur di AlixPartners, Volvo bersama Daimler Trucks North America dan TRATON mendominasi pasokan truk berat di kawasan Amerika Utara. Namun, Volvo adalah satu-satunya pemain besar yang belum memiliki jejak produksi di Meksiko. Hal ini, kata Smith, mungkin menjadi alasan Volvo mempertimbangkan langkah strategis ini.

Sementara itu, ancaman tarif dari Trump telah mengguncang sektor manufaktur otomotif. Beberapa produsen mobil seperti BMW, Toyota, dan General Motors sebelumnya berinvestasi besar di Meksiko untuk memanfaatkan biaya tenaga kerja yang lebih rendah dan kebijakan bisnis yang ramah.

Selain fokus pada pabrik baru, Volvo juga tengah memperkuat komitmennya terhadap kendaraan listrik. Perusahaan ini memiliki kontrak untuk memasok truk gandeng listrik kepada Amazon.com dan perusahaan logistik Denmark, DSV.

Namun, rencana pembangunan pabrik baterai Volvo di Swedia yang semula dijadwalkan memulai produksi pada 2029-2030 kini tertunda. Lundstedt mengatakan, produksi massal kemungkinan baru dimulai beberapa tahun setelah target awal tersebut. Penundaan ini diumumkan pada September, dengan Volvo menyebut bahwa dampaknya terhadap jadwal produksi masih belum dapat dipastikan.

Aturan Baru Emisi Karbon

Produsen mobil di Eropa mulai menaikkan harga mobil berbahan bakar bensin sambil bersiap menawarkan diskon besar untuk kendaraan listrik atau Electric Vehicle (EV). Langkah ini diambil sebagai respons terhadap aturan emisi karbon baru di Uni Eropa yang akan berlaku mulai 1 Januari 2025. Aturan ini mewajibkan setidaknya 20 persen penjualan mobil setiap produsen harus berasal dari kendaraan listrik, jika tidak ingin terkena denda besar.

Namun, hingga saat ini, angka penjualan EV di Eropa masih jauh dari target. Data dari Asosiasi Produsen Mobil Eropa (ACEA) menunjukkan sepanjang tahun ini, hanya 13 persen dari total kendaraan yang terjual di wilayah tersebut adalah mobil listrik.

“Kesenjangannya benar-benar besar,” ujar Direktur kelompok lobi industri otomotif Prancis, PFA, Marc Mortureux, dilansir dari Reuters di Jakarta, Selasa, 17 Desember 2024,

Aturan emisi yang lebih ketat datang di tengah banyaknya tantangan yang sudah membebani industri otomotif Eropa. Penjualan yang lesu, kapasitas produksi berlebih, dan persaingan sengit dari produsen mobil China membuat beberapa perusahaan seperti Volkswagen dan Stellantis mengeluarkan peringatan laba dalam beberapa bulan terakhir.

Kini, produsen mobil dipaksa menjual lebih banyak EV—yang biaya produksinya lebih tinggi dibandingkan mobil konvensional—di tengah ketidakpastian politik, ekonomi, dan berkurangnya subsidi untuk pembelian kendaraan listrik. Ketegangan ini bahkan menyebabkan Carlos Tavares, CEO Stellantis, tiba-tiba mengundurkan diri bulan ini karena perbedaan pendapat dengan dewan direksi soal bagaimana menangani tantangan emisi tersebut.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
PR
Redaktur Pelaksana

Pramirvan Datu

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait