Makro 24 Jul 2025 Penulis: Yunila Wati Editor: Pramirvan Datu

Wall Street Cetak Rekor Lagi, Sektor AI dan Energi Mendominasi

GE Vernova dan Nvidia dorong Wall Street ke rekor baru. Pasar merespons sinyal positif dari kesepakatan dagang AS-Uni Eropa dan lonjakan sektor energi serta AI.

S&P 500 cetak rekor baru, ditopang Nvidia dan GE Vernova. Optimisme pasar menguat seiring prospek dagang AS-Uni Eropa dan tren AI-Energi.

Ilustrasi Wall Street. (Foto: The Wall Street Experience)
Ilustrasi Wall Street. (Foto: The Wall Street Experience)

Daftar Isi

  1. 01 GE Vernova Melesat, Nvidia Kembali Mendominasi
  2. 02 Data Ekonomi dan Ekspektasi Suku Bunga

KABARBURSA.COM - Indeks S&P 500 kembali mencetak rekor penutupan tertinggi pada Rabu waktu setempat, 23 Juli 2025 atau Kamis WIB, 24 Juli 2025.

Kenaikan indeks S&P 500 didorong oleh lonjakan saham GE Vernova dan Nvidia. Di balik pergerakan ini, pasar tampaknya merespons dua hal penting: prospek kesepakatan dagang baru antara Amerika Serikat dan Uni Eropa, serta antusiasme terhadap transformasi sektor energi dan teknologi.

Dua sumber diplomatik menyebut, Washington dan Brussels tengah merumuskan kesepakatan dagang yang menyerupai kerangka tarif yang pernah diberlakukan pemerintahan Trump terhadap Jepang. 

Salah satu poin kunci adalah rencana pengenaan tarif rata-rata 15% atas barang-barang asal Uni Eropa yang masuk ke AS, termasuk potensi pemberlakuan tarif terhadap mobil.

Bagi pelaku pasar, sinyal itu bukan hanya soal proteksionisme. Ini soal arah kebijakan yang jelas. 

“Yang penting bagi pasar adalah keyakinan bahwa Gedung Putih tetap konsisten membangun jalur kesepakatan dagang,” kata Chief Technical Strategist di Blue Chip Daily Trend Report Larry Tentarelli.

GE Vernova Melesat, Nvidia Kembali Mendominasi

GE Vernova menjadi sorotan usai menaikkan proyeksi pendapatan dan arus kas bebas tahunannya. Tak hanya itu, laba kuartal II perusahaan juga melampaui ekspektasi analis. Kinerja sahamnya pun langsung melonjak ke level tertinggi sepanjang masa. 

Sejak awal tahun, emiten penyedia peralatan listrik ini telah menguat lebih dari 80 persen, didorong lonjakan konsumsi energi yang meningkat drastis seiring ekspansi data center AI dan kripto di seluruh dunia.

Sementara itu, Nvidia, yang kini tak bisa dilepaskan dari narasi besar seputar revolusi kecerdasan buatan, kembali memimpin penguatan saham teknologi. 

Perusahaan chip AI itu menjadi motor utama kenaikan S&P 500 dan Nasdaq, mempertegas perannya sebagai jangkar pertumbuhan sektor teknologi di tengah iklim pasar yang masih fluktuatif.

Di sisi lain, Dow Jones juga tak mau kalah, melonjak lebih dari 500 poin ke level 45.013,79. S&P 500 ditutup naik 0,8 persen ke 6.359,91, sementara Nasdaq menguat 0,61 persen ke 21.023,67. 

Indeks volatilitas (VIX), yang sering disebut sebagai “indeks rasa takut” Wall Street, jatuh ke titik terendah dalam lebih dari lima bulan terakhir, mencerminkan meningkatnya kenyamanan investor dalam menghadapi risiko jangka pendek.

Pasar Masih Selektif

Meski sebagian besar saham teknologi besar terus mencetak performa impresif, sentimen tetap terbagi. Tesla misalnya, bergerak volatil menjelang rilis laporan keuangan kuartalannya. 

Investor waspada terhadap potensi penurunan pendapatan perusahaan akibat stagnasi produk baru, tekanan dari kompetitor, serta polemik yang terus membayangi CEO Elon Musk.

“Investor akan mendengar banyak narasi masa depan, tapi juga harus bersiap menghadapi pengakuan bahwa ini mungkin kuartal terburuk mereka sejauh ini,” ujar Chief Strategist di Simplify Asset Management Michael Green.

Tekanan juga datang dari sektor semikonduktor analog. Texas Instruments memperkirakan laba kuartalan yang lebih rendah dari perkiraan analis, sembari menyoroti ketidakpastian permintaan serta potensi dampak dari kebijakan tarif. Laporan itu langsung menyeret saham perusahaan sejenis seperti NXP, Analog Devices, dan ON Semiconductor.

Data Ekonomi dan Ekspektasi Suku Bunga

Dari sisi makro, laporan penjualan rumah di AS untuk Juni menunjukkan penurunan lebih besar dari yang diperkirakan. Kini, perhatian pasar beralih ke data mingguan klaim pengangguran serta PMI versi S&P Global yang akan dirilis Kamis waktu setempat. 

Keduanya akan menjadi indikator penting untuk mengukur kondisi ekonomi, terutama dalam konteks ketidakpastian tarif global.

Pasca serangkaian data ekonomi yang bervariasi pekan lalu, pelaku pasar tampaknya mulai mengendurkan ekspektasi akan adanya penurunan suku bunga dalam waktu dekat. 

Menurut CME FedWatch Tool, probabilitas pemangkasan suku bunga oleh The Fed pada September kini berada di kisaran 58 persen. Angka yang cukup besar, tapi belum cukup meyakinkan.

Di Titik Puncak, Tapi Belum Ada Tanda Melambat

Dengan kenaikan 8 persen sejak awal tahun, S&P 500 memang sudah berada di wilayah rekor. Namun pasar belum menunjukkan tanda-tanda kehilangan momentum. Estimasi LSEG I/B/E/S menunjukkan, rata-rata laba perusahaan S&P 500 diperkirakan naik 7,5 persen pada kuartal kedua. 

Dan seperti biasa, kontributor terbesarnya adalah perusahaan teknologi seperti Nvidia dan Microsoft.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar tetap mengandalkan sektor yang punya cerita jangka panjang: AI, efisiensi energi, dan transformasi digital. Namun di tengah reli ini, selektivitas investor menjadi makin tajam. 

Saham yang tak punya narasi pertumbuhan, cepat atau lambat akan terpinggirkan.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait