Makro 03 Jul 2025 Penulis: Yunila Wati Editor: Pramirvan Datu

Wall Street Cetak Rekor, Nasdaq Terbang Didukung Saham Teknologi

Wall Street bergerak variatif, Nasdaq dan S&P 500 mencetak rekor berkat saham teknologi dan sinyal damai dagang, sementara investor menanti data tenaga kerja dan arah suku bunga The Fed.

Nasdaq dan S&P 500 cetak rekor baru didorong lonjakan saham teknologi dan kabar dagang AS-Vietnam, di tengah ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed.

Ilustrasi Wall Street. (Foto: The Wall Street Experience)
Ilustrasi Wall Street. (Foto: The Wall Street Experience)

Daftar Isi

  1. 01 Strategi Baru Trump
  2. 02 Nike Pimpin Penguatan, United-Health Rontok

KABARBURSA.COM - Pasar saham Amerika Serikat menutup perdagangan Kamis, 3 Juli 2025 WIB dengan kinerja yang bervariasi. S&P 500 dan Nasdaq berhasil membukukan rekor tertinggi baru, sementara Dow Jones sedikit tergelincir. 

Kinerja kuat saham-saham teknologi serta kabar perjanjian dagang antara AS dan Vietnam turut menjadi penopang utama sentimen pasar.

Nasdaq Composite menguat hampir satu persen atau 190 poin ke level 20.393,13, tertinggi sepanjang sejarah. Sementara indeks S&P 500 naik 0,47 persen ke posisi 6.227,42. 

Sebaliknya, Dow Jones terkoreksi tipis 0,02 persen ke level 44.484,42, masih berada dalam jarak 1,18 persen dari rekor penutupan yang dicapai Desember tahun lalu.

Lonjakan indeks terutama didorong oleh penguatan saham-saham unggulan di sektor teknologi. Nvidia, Apple, dan Tesla menjadi motor utama kenaikan, dengan Tesla mencatat rebound tajam hingga 5 persen meskipun sebelumnya sempat tertekan akibat laporan pengiriman kendaraan kuartal II yang menurun. 

Para pelaku pasar tampaknya menilai kinerja Tesla tak seburuk kekhawatiran sebelumnya, sehingga menarik kembali minat beli.

Tak hanya saham individual, instrumen spekulatif seperti ETF TSLL, yang menggandakan pergerakan harian saham Tesla, juga mengalami lonjakan volume transaksi. Ini mencerminkan selera risiko yang kembali menguat di kalangan investor ritel.

Strategi Baru Trump

Di luar sektor teknologi, perhatian investor turut tertuju pada perkembangan geopolitik dan kebijakan fiskal. Pemerintahan Trump mengumumkan perjanjian dagang baru dengan Vietnam, yang mencakup pengenaan tarif 20 persen atas sejumlah ekspor dari negara tersebut. 

Kabar ini disambut positif pasar, yang selama beberapa waktu terakhir dicekam kekhawatiran akan memburuknya tensi perdagangan global. Pemerintah AS juga mengisyaratkan adanya peluang kesepakatan lanjutan dengan India.

Namun demikian, dari sisi kebijakan dalam negeri, RUU pajak dan belanja besar-besaran yang baru saja lolos dari Senat juga mulai menimbulkan pertanyaan. 

Menurut sejumlah analis fiskal independen, rancangan kebijakan tersebut diperkirakan akan menambah defisit anggaran hingga USD3,4 triliun dalam 10 tahun ke depan.

Pada saat bersamaan, pasar juga menantikan laporan data ketenagakerjaan nonpertanian (non-farm payrolls) yang akan dirilis Kamis ini, sehari lebih cepat dari biasanya karena libur Hari Kemerdekaan. 

Proyeksi sementara memperkirakan laju pertumbuhan pekerjaan mulai melambat pada Juni, sementara tingkat pengangguran diprediksi naik menjadi 4,3 persen. Jika data tersebut sesuai ekspektasi, peluang pemangkasan suku bunga oleh The Federal Reserve bisa semakin terbuka.

“Ekonomi yang melambat bisa menjadi kabar baik atau buruk, tergantung kedalamannya,” kata Managing Director di Clearstead Advisors LLC Jim Awad. 

“Jika perlambatannya cukup untuk membuat The Fed memangkas bunga, itu bisa positif bagi pasar. Tapi kalau terlalu dalam, justru bisa menggerus laba korporasi," lanjut dia.

Nike Pimpin Penguatan, United-Health Rontok

Di lantai bursa, pergerakan saham terpantau campur aduk. Saham Nike memimpin penguatan di indeks Dow dengan kenaikan 4 persen, disusul Nvidia (2,58 persen) dan Apple (2,22 persen). 

Sebaliknya, UnitedHealth mencatatkan pelemahan paling dalam sebesar 5,7 persen, diikuti Travelers dan IBM.

Dari sisi S&P 500, Albemarle mencatat lonjakan tertinggi mencapai 8 persen, sementara Moderna dan Oracle turut menguat lebih dari 5 persen. 

Di sisi lain, tekanan paling tajam dialami sektor layanan kesehatan, terutama setelah Centene Corp. menarik proyeksi keuangannya untuk tahun 2025 akibat prospek pendapatan yang melemah. 

Saham Centene anjlok hingga 40 persen, diikuti Molina Healthcare dan Elevance Health yang masing-masing jatuh lebih dari 20 persen dan 11 persen.

Kinerja spektakuler juga terlihat di bursa Nasdaq, dengan Sonnet Biotherapeutics Holdings melonjak lebih dari 240 persen dalam sehari. 

Dua emiten lain, Mogo dan Blue Gold, mencatatkan kenaikan tiga digit. Namun tak semua bersinar. Saham Mustang Bio dan BioNexus Gene Lab masing-masing merosot lebih dari 38 persen.

Volume transaksi mencapai 16,95 miliar saham, sedikit di bawah rata-rata harian 20 hari terakhir. Meskipun begitu, jumlah saham yang mencetak harga tertinggi baru tetap dominan. 

Di New York Stock Exchange, terdapat 358 saham yang menembus rekor tertingginya, berbanding hanya 41 saham yang mencatat level terendah baru.

Dengan laporan ketenagakerjaan yang akan menjadi penentu arah pasar selanjutnya dan kabar dagang yang mulai mencair, pelaku pasar tampaknya berada di persimpangan antara kehati-hatian dan antusiasme. 

Untuk sementara, sektor teknologi tampaknya masih menjadi jangkar utama kepercayaan investor.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait