Makro 17 Oct 2025 Penulis: Yunila Wati Editor: Pramirvan Datu

Wall Street Tertekan Sektor Perbankan, Seluruh Indeks Muram

Wall Street melemah akibat tekanan sektor keuangan dan tensi dagang AS–China, meski prospek AI dan pemangkasan suku bunga masih menjaga optimisme investor.

Bursa Wall Street ditutup melemah dipicu kekhawatiran bank regional AS dan perang dagang AS–China, sementara saham AI dan teknologi berfluktuasi.

Ilustrasi Wall Street. (Foto: The Wall Street Experience)
Ilustrasi Wall Street. (Foto: The Wall Street Experience)

Daftar Isi

  1. 01 Ada Potensi Kredit Macet di Sektor Perbankan
  2. 02 Bisnis AI yang Menjanjikan

KABARBURSA.COM – Pasar saham Amerika Serikat, Wall Street, menutup perdagangan Kamis waktu New York atau Jumat pagi WIB, 17 Oktober 2025, di area negatif. Investor masih menaruh kekhawatiran terhadap meningkatnya tekanan di sektor perbankan regional AS dan memburuknya hubungan dagangan Amerika Serikat dan China.

Indeks S&P 500 turun 0,63 persen menjadi 6.629,07, Nasdaq melemah 0,47 persen ke 22.562,54, dan Dow Jones merosot 0,65 persen ke 45.952,24. Ketiganya mencatat penurunan serentak, setelah beberapa pekan sebelumnya mencatat kinerja positif. 

Walau begitu, Volume transaksi relatif tinggi, mencapai 22,4 miliar saham. Angkanya bahkan lebih besar dari rata-rata 20,5 miliar saham selama 20 sesi sebelumnya. Artinya, ada aktivitas jual beli yang cukup intens di tengah ketidakpastian.

Dari 11 sektor utama di S&P 500, sepuluh ditutup melemah. Sektor keuangan menjadi penekan utama, anjlok 2,75 persen, diikuti sektor energi yang turun 1,12 persen. 

Ada Potensi Kredit Macet di Sektor Perbankan

Sentimen negatif di sektor keuangan dipicu oleh kabar mengejutkan dari beberapa bank regional. Saham Zions Bancorporation anjlok 13 persen setelah melaporkan kerugian tak terduga dari dua pinjaman di divisi California. 

Kasus ini menimbulkan kekhawatiran baru mengenai potensi tekanan kredit tersembunyi di sektor perbankan, terutama di tengah tingkat suku bunga yang masih tinggi.

Sementara itu, Western Alliance merosot 10,8 persen setelah mengajukan gugatan penipuan terhadap salah satu debiturnya. Kejadian ini memperkuat persepsi bahwa pasar kredit komersial masih menghadapi risiko signifikan, terlebih setelah kebangkrutan pemasok suku cadang otomotif First Brands dan dealer mobil Tricolor pada bulan sebelumnya. 

Menurut analis Ron Albahary dari LNW, tanda-tanda kecil tekanan di pasar kredit tidak boleh diabaikan.

Selain faktor perbankan, meningkatnya tensi perdagangan antara AS dan China turut memperburuk suasana pasar. Presiden AS Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif 100 persen terhadap produk asal China mulai 1 November

Keputusan ini diambil menyusul langkah Beijing yang membatasi ekspor mineral tanah jarang. Ketegangan ini menimbulkan kekhawatiran baru terhadap rantai pasok global dan stabilitas harga bahan baku untuk industri teknologi. 

Tom Hainlin dari U.S. Bank Wealth Management menyebut, meningkatnya retorika politik dan kebijakan proteksionis menambah ketidakpastian yang sudah tinggi di pasar ekuitas.

Dari sisi korporasi, Taiwan Semiconductor Manufacturing Co (TSMC) memberikan pandangan positif terhadap prospek belanja modal di sektor kecerdasan buatan (AI). Namun saham-saham besar yang terkait AI justru mengalami koreksi. 

Palantir dan Meta Platforms masing-masing turun 0,8 persen, sementara Tesla melemah 1,5 persen. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun tema AI masih menjadi katalis jangka panjang, investor memilih untuk mengambil keuntungan setelah reli besar sebelumnya.

Bisnis AI yang Menjanjikan

Di sisi lain, saham Salesforce justru melesat 4 persen setelah perusahaan itu memproyeksikan pendapatan lebih dari USD60 miliar pada 2030, melampaui ekspektasi analis. Optimisme terhadap prospek bisnis berbasis AI dan langganan korporasi membuat investor kembali melirik sektor perangkat lunak enterprise.

Untuk saham individu, J.B. Hunt Transport Services menjadi bintang hari itu dengan lonjakan 22,24 persen berkat laporan laba kuartal III yang solid. Saham Micron Technology naik 5,53 persen dan ON Semiconductor menguat 5,18 persen, keduanya diuntungkan oleh meningkatnya permintaan chip untuk teknologi AI. 

Sebaliknya, saham Kenvue anjlok 13,31 persen, F5 Networks turun 10,70 persen, dan Hewlett Packard Enterprise melemah 10,14 persen setelah memproyeksikan laba di bawah ekspektasi analis.

Dari sisi indeks Dow Jones, saham Salesforce (+3,98 persen), Procter & Gamble (+1,51 persen), dan Caterpillar (+1,30 persen) menjadi pendorong utama, sementara Visa (-2,98 persen), Travelers Companies (-2,87 persen), dan Nike (-2,37 persen) menjadi pemberat indeks.

Pada bursa Nasdaq, pergerakan ekstrem juga terjadi pada saham-saham kecil seperti Praxis Precision Medicines (+183,4 persen), rYojbaba Co Ltd (+119,35 persen), dan INVO Fertility (+85,68 persen). Hal ini menunjukkan adanya aktivitas spekulatif yang cukup besar. 

Namun, beberapa saham lain mengalami penurunan tajam, seperti Utime Ltd (-88,5 persen), Republic Power Group (-55,85 persen), dan Yueda Digital Holding (-51,05 persen).

Dari sisi makroekonomi, data Indeks Bisnis Philadelphia Fed untuk Oktober menunjukkan penurunan 12,8 poin, jauh di bawah ekspektasi kenaikan 8,5 poin. Artinya, ada pelemahan aktivitas manufaktur regional. 

Sementara itu, Gubernur Federal Reserve Christopher Waller menyatakan dukungan untuk pemangkasan suku bunga tambahan pada Oktober, dengan alasan pasar tenaga kerja yang mulai menunjukkan tanda-tanda pelambatan.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait