Makro 24 Aug 2024 Penulis: Yunila Wati Editor: Tim Editorial

Yen Jepang Naik Terdorong Isu Kenaikan Suku Bunga

Yen Jepang Naik Terdorong Isu Kenaikan Suku Bunga
Yen Jepang Naik Terdorong Isu Kenaikan Suku Bunga

Daftar Isi

  1. 01 Keputusan Mengejutkan
  2. 02 Cara Unik Jepang: Jaga Kredit Stabil

KABARBURSA.COM - Yen Jepang mengalami penguatan yang signifikan, didukung oleh komentar dari Gubernur Bank of Japan (BoJ), Kazuo Ueda, yang menegaskan bahwa bank sentral masih berada di jalur untuk kemungkinan kenaikan suku bunga. Akibatnya, pasangan mata uang USD/JPY turun sebesar 0,58 persen.

Selain itu, yen juga mendapat dorongan dari laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) Jepang untuk Juli, yang menunjukkan hasil lebih kuat dari yang diharapkan. CPI nasional Jepang untuk bulan Juli tetap stabil di +2,8 persen secara tahunan, sama seperti bulan sebelumnya, dan lebih tinggi dari ekspektasi pelonggaran menjadi 2,7 persen. Sementara itu, CPI yang tidak termasuk makanan segar dan energi turun menjadi +1,9 persen secara tahunan dari +2,2 persen pada Juni, mencerminkan laju peningkatan paling lambat dalam hampir dua tahun terakhir.

Penguatan yen semakin diperkuat setelah imbal hasil obligasi pemerintah AS turun, dipicu oleh komentar dovish dari Ketua Federal Reserve, Jerome Powell. Penurunan imbal hasil ini membuat yen lebih menarik bagi investor.

Gubernur BoJ Ueda juga menegaskan bahwa jika mereka dapat memastikan bahwa ekonomi dan harga tetap sesuai dengan perkiraan, BoJ akan terus menyesuaikan tingkat pelonggaran. Ini menandakan bahwa BoJ mungkin akan menaikkan suku bunga di masa mendatang.

Analisis dari Vibiz Research Center memperkirakan bahwa yen akan terus bergerak naik dalam perdagangan selanjutnya, didukung oleh sikap agresif dari Gubernur BoJ Ueda dan ekspektasi bahwa The Fed mungkin akan menurunkan suku bunga pada bulan September berdasarkan komentar Powell yang cenderung dovish.

Keputusan Mengejutkan

Keputusan Ueda menaikkan suku bunga cukup mengejutkan beberapa pelaku pasar yang sebelumnya mengharapkan sikap lebih hati-hati dari BoJ, terutama setelah penurunan tajam di pasar yang terjadi tiga minggu lalu.

Namun, pasar telah menunjukkan pemulihan. Indeks Nikkei mencatat kenaikan sebesar 0,4 persen, meskipun dengan reaksi awal yang beragam, dan imbal hasil obligasi domestik mengalami kenaikan tipis sebesar 2 basis poin. Data inflasi inti Jepang yang dirilis sebelumnya menunjukkan tren kenaikan yang berlanjut selama tiga bulan berturut-turut, dengan inflasi mencapai 2,7 persen di Juli. Sementara itu, indeks "core core" yang tidak memasukkan biaya makanan dan energi sedikit turun menjadi 1,9 persen, mendekati target BoJ sebesar 2 persen.

Meskipun kemungkinan kenaikan suku bunga di Oktober nanti, pasar saat ini memperkirakan kemungkinan 70 persen kenaikan di Desember mendatang. Di sisi lain, sentimen global tetap berhati-hati menjelang pidato Ketua Federal Reserve Jerome Powell di Jackson Hole.

Pasar saham utama mengalami penurunan, terutama pada saham-saham teknologi, sementara bursa berjangka Wall Street mengindikasikan sedikit kenaikan. Di Eropa, saham berjangka menunjukkan variasi dengan EUROSTOXX 50 futures turun 0,2 persen dan FTSE futures naik 0,2 persen, di tengah minimnya data regional yang signifikan.

Para investor juga telah menyesuaikan ekspektasi mereka terkait langkah Federal Reserve selanjutnya. Probabilitas penurunan suku bunga sebesar setengah poin di September menurun menjadi 24 persen dari sebelumnya 38 persen, sementara penurunan seperempat poin telah diantisipasi.

Ke depan, pasar pada hari Jumat akan dipengaruhi oleh beberapa perkembangan utama, termasuk tingkat pengangguran di Swedia untuk Juli, penjualan ritel di Kanada untuk Juni, angka penjualan rumah baru di AS, dan pidato Jerome Powell di Jackson Hole yang sangat dinanti-nantikan.

Cara Unik Jepang: Jaga Kredit Stabil

Tak seperti biasanya Bank Sentral Jepang atau Bank of Japan (BoJ) mengambil langkah mengejutkan dengan menaikkan suku bunga acuannya menjadi 0,25 persen dari sebelumnya 0-0,1 persen

Keputusan ini mengejutkan banyak pihak karena selama ini BoJ dikenal sebagai bank sentral yang sangat konservatif dalam menjaga suku bunga acuan tetap sangat rendah.

Bahkan, suku bunga acuan tersebut sempat berada di nol persen. Jika dihitung dengan suku bunga riil (suku bunga nominal dikurangi tingkat inflasi), maka suku bunga acuan Jepang sebenarnya minus.

Ini sengaja ditetapkan oleh beberapa bank sentral negara maju, termasuk Jepang, untuk memastikan uang yang ada tidak disimpan secara pasif dan menjadi kurang produktif.

Sebaliknya, diharapkan uang tersebut diinvestasikan sehingga dapat menghasilkan produktivitas yang lebih tinggi. Selain itu, suku bunga acuan rendah juga mendorong investasi karena biasanya investasi dibiayai dari pinjaman yang mengacu pada suku bunga acuan. Investasi sendiri memiliki serangkaian dampak positif, seperti memperluas kesempatan kerja, meningkatkan pendapatan negara dari pajak, dan lain-lain.

Langkah BoJ ini tidak hanya berbeda dengan kebijakan sebelumnya, tetapi juga mengejutkan di tengah rumor bahwa Bank Sentral AS, The Fed, akan menurunkan suku bunga acuannya pada September 2024 mendatang, seiring dengan menurunnya inflasi di AS.

Langkah mengejutkan BoJ ini diperkuat dengan kebijakan moneter ketat (tight money policy). BoJ berencana mengurangi pembelian obligasi bulanan menjadi sekitar setengahnya, yaitu menjadi JPY 3 triliun (19,6 miliar dolar AS atau sekitar Rp 317,5 triliun) dari JPY 6 triliun saat ini, yang akan dimulai pada Januari-Maret 2026 mendatang.

Pemerintah Jepang mengumumkan pemotongan belanja keseluruhan untuk pertama kalinya dalam 12 tahun dalam anggaran fiskal 2024. Langkah ini diambil di tengah spekulasi bahwa Bank Sentral Jepang akan segera beralih dari kebijakan moneter ultra-longgar yang telah diterapkan selama lebih dari dua dekade.

Menurut Channel News Asia, Minggu, 24 Desember 2023, anggaran untuk tahun fiskal mendatang, yang dimulai pada April, diperkirakan mencapai 112,07 triliun yen (USD 787 miliar), turun 2 persen dari anggaran awal tahun ini sebesar 114,4 triliun yen.

Meskipun anggaran tetap di atas 110 triliun yen selama dua tahun berturut-turut, negara ini menghadapi tekanan belanja militer yang meningkat untuk menghadapi ancaman dari Tiongkok dan Korea Utara, serta biaya kesejahteraan yang meningkat bagi masyarakat Jepang yang menua dengan cepat.

Sebagai salah satu ekonomi terbesar dunia, Jepang berada di bawah tekanan untuk memperbaiki kesehatan fiskalnya di tengah kenaikan suku bunga setelah bertahun-tahun melakukan stimulus dan belanja yang memperburuk utang negara. Jepang kini memiliki beban utang publik terberat di dunia industri.

Kementerian Keuangan Jepang telah menaikkan asumsi suku bunga menjadi 1,9 persen dari sebelumnya 1,1 persen, dalam kenaikan pertama dalam 17 tahun. Perubahan ini berdampak pada perhitungan biaya pembayaran bunga, dengan asumsi suku bunga yang lebih tinggi diperkirakan akan menambah biaya utang hingga 27 triliun yen pada tahun fiskal 2024, naik 7 persen dari tahun ini.

Menurut Takahide Kiuchi, ekonom di Nomura Research Institute, sebagian besar pemotongan belanja berasal dari pengurangan cadangan darurat akibat Covid-19. Ia menekankan perlunya pemerintah Jepang untuk memperhatikan dampak jika terjadi kenaikan suku bunga.

“Jika tidak memperhitungkan faktor-faktor tersebut, reformasi belanja hanya menghasilkan sedikit kemajuan,” ujar Kiuchi. Ia mengingatkan bahwa para pembuat kebijakan harus memahami krisis dan mengarahkan kebijakan fiskal secara bertanggung jawab seiring dengan normalisasi kebijakan moneter.

Suku bunga yang sangat rendah selama lebih dari dua dekade telah melonggarkan disiplin fiskal di Jepang, yang kini terbebani dengan utang publik melebihi dua kali lipat ukuran perekonomian akibat putaran stimulus fiskal yang berkepanjangan. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
YU
Redaktur

Yunila Wati

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait