Market Hari Ini 05 Jun 2025 Penulis: Hutama Prayoga Editor: Pramirvan Datu

Ada Katalis Positif, Saham Emas Berkilau untuk Dikoleksi

Aliran dana ke saham-saham emas menjadi indikasi terjadinya shifting portofolio dari sektor lain ke sektor logam mulia, terutama dari sektor siklikal seperti properti, konstruksi, dan perbankan.

Harga emas naik di tengah konflik geopolitik, saham ANTM, PSAB, MDKA, BRMS, dan ARCI ikut reli, investor disarankan buy on weakness dengan manajemen risiko.

Ilustrasi pergerakan harga emas global. (Foto: Adobe Stock)
Ilustrasi pergerakan harga emas global. (Foto: Adobe Stock)

Daftar Isi

  1. 01 Tren Naik Saham Emas: ANTM Uji Resistance di 3.600

KABARBURSA.COM – Gejolak geopolitik dunia lagi-lagi membawa emas menjadi aset yang memiliki nilai teraman. Tidak salah jika kemudian harganya kembali naik, setelah seminggu lalu berada di posisi merah.

Kenaikan harga emas ini tentu saja membawa sentiment positif pada emiten-emiten terkait. Sebut saja PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB), PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), dan PT Archi Indonesia Tbk (ARCI). 

Analisis pasar modal sekaligus Founder Stocknow.id Hendra Wardana mengatakan, kenaikan signifikan saham-saham itu mencerminkan respon pasar yang agresif terhadap kombinasi sentimen global dan kinerja fundamental positif.

"Meskipun harga emas dunia sempat bergerak labil menguat hingga menembus USD3.366 per troy ons setelah sebelumnya terkoreksi tren besar yang menopang harga emas masih sangat kuat," ujar dia kepada KabarBursa.com, Kamis, 5 Juni 2025.

Hendra mengungkapkan, ketegangan geopolitik yang terjadi seperti Rusia-Ukraina, Israel-Hamas hingga India-Pakistan, telah meningkatkan minat terhadap emas sebagai aset safe haven. 

"Di sisi lain, kekhawatiran pasar terhadap inflasi tinggi yang persisten, kebijakan suku bunga tinggi global yang berkepanjangan, serta ancaman resesi turut mendorong investor mencari perlindungan melalui instrumen logam mulia ini," tuturnya. 

Lebih jauh Hendra menilai tingginya aliran dana ke saham-saham emas juga menjadi indikasi terjadinya shifting portofolio dari sektor lain ke sektor logam mulia, terutama dari sektor siklikal seperti properti, konstruksi, dan perbankan.

Investor besar maupun ritel, kata dia, kini lebih agresif mengoleksi saham emas sebagai strategi perlindungan nilai (hedging) sekaligus spekulasi terhadap reli harga emas yang bisa berlanjut. 

Tren Naik Saham Emas: ANTM Uji Resistance di 3.600

Secara teknikal, Hendra menyatakan mayoritas saham emas kini berada dalam tren naik yang kuat. Dia bilang, ANTM menguji resistance di 3.600.

Adapun untuk PSAB bahkan sempat mencetak Auto Reject Atas berturut-turut dan MDKA mulai menunjukkan sinyal pembalikan arah setelah sebelumnya dalam tekanan.

"Sementara BRMS dan ARCI tengah menikmati fase akumulasi dengan potensi kelanjutan tren positif," katanya. 

Dengan momentum yang masih kuat, Hendra menegaskan saham-saham emas direkomendasikan untuk tetap buy. Menurutnya, ANTM menarik dikoleksi dengan target harga Rp3.600, didukung oleh kinerja keuangan solid dan dominasi segmen emas. 

Di sisi lain, ia memandang PSAB layak dipertimbangkan meski secara teknikal sudah overbought, dengan target spekulatif di Rp600. BRMS dan ARCI masih berpeluang naik ke Rp450, seiring akumulasi yang berlangsung dan prospek produksi yang positif.

"Sedangkan MDKA berpotensi menuju Rp2.600 karena mulai menunjukkan pembalikan tren teknikal serta prospek jangka menengah yang menjanjikan," tandasnya. 

Meski demikian, lanjut Hendra, kenaikan tajam dalam waktu singkat menuntut kehati-hatian, terutama terhadap potensi profit-taking jangka pendek. 

"Oleh karena itu, strategi terbaik adalah buy on weakness dan disiplin dalam menerapkan manajemen risiko, sambil tetap mencermati arah harga emas global dan perkembangan geopolitik yang bisa jadi pemicu lanjutan reli saham emas," pungkasnya.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Follow KabarBursa di Google News

Dapatkan berita terbaru KabarBursa langsung dari Google News.

Follow Google News

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi. Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu. Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. KabarBursa.com tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.

Jurnalis & Penulis
HU
Ass. Redaktur

Hutama Prayoga

Lihat Karya Penulis Lainnya

Berita Terkait